IMF: Kinerja Indonesia Baik, Tapi Perlu Ditingkatkan


Kinerja ekonomi Indonesia dalam 20 tahun terakhir relatif lebih baik dibandingkan negara lain. Kesimpulan ini dilihat dari meningkatnya tingkat konsumsi, menurunnya utang negara dan non-performing loan,  penurunan tingkat kemiskinan serta kematian bayi. Hal itu merupakan poin pertama dari hasil penelitian IMF yang disampaikan oleh Luis E.Breuer, Kepala Misi IMF di Kampus Atma Jaya, Jakarta (4/10/2018).

Pada poin kedua, ia memaparkan terjadi perubahan yang begitu cepat terjadi belakangan ini. Ada tiga fokus tren yang perlu diperhatikan. Pertama, demografi Indonesia, di mana terjadi peningkatan tenaga kerja dan negara memerlukan 2,5 juta pekerjaan baru setiap tahunnya. Kedua, maraknya digital economy. Banyak perusahaan besar di dunia, seperti Alibaba, Microsoft, hingga Apple yang melihat Indonesia sebagai potensi pasar yang besar akibat demografinya. Ketiga, bangkitnya negara di Asia, terutama China.

Poin ketiga yang disampaikan Luis adalah meskipun kinerja Indonesia sudah cukup baik, perlu ada key reform agar dapat menghasilkan pembangunan yang berkelanjutan dalam menghadapi perubahan zaman. Misalnya saja, pajak Indonesia ia nilai terlalu rendah, hanya 10% saja, padahal di negara lain pajak yang ditark mencapai 50% dari penghasilan. Ini berdampak pada peningkatan defisit negara, pemerintah tidak memiliki modal yang cukup untuk diinvestasikan pada pendidikan, pembangunan, dan lain-lain.

Pemerintah akhirnya meminjam pada investor luar. Hal ini sebenarnya bukan masalah, tapi bisa meningkatkan ketidakstabilan finansial. Negara bisa terpengaruh bila kondisi ekonomi dunia bergejolak. Meski begitu, Luis mengatakan, meskipun China dan Korea Utara memiliki aturan yang membuat keuangannya stabil, ia tidak menyarankan Indonesia mencontoh keduanya. “Bukan ide bagus kalau Indonesia menutup diri. Negara yang menutup diri tidak akan bisa makmur,” ujarnya.

China bisa sangat bertumbuh karena banyak faktor, salah satunya adalah menjadi “pabrik dunia”. Produk Cina sangat beragam, mereka membuat banyak furniture, smartphone, dan lain-lain. Larangan yang mereka buat adalah tentang pergerakan financial flow karena flow ini bisa sangat tidak stabil karena mereka bergerak dalam skala besar dan cepat.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)