Ini Tiga Strategi Pertumbuhan yang Perlu Diadopsi Perusahaan Indonesia

Standard Chartered CEO Connect – Exploring ASEAN’s Opportunities dihadiri oleh pejabat pemerintahan, pelaku usaha dari berbagai latar belakang industri, serta perwakilan dari berbagai organisasi internasional.

Perusahaan-perusahaan di ASEAN, termasuk Indonesia, perlu merancang strategi-strategi baru seperti digitalisasi, kemitraan, dan ekspansi ke luar negeri, untuk mendorong pertumbuhan menghadapi perubahan di sektor usaha mereka masing-masing. Pandangan itu dipaparkan oleh laporan yang dikeluarkan oleh Standard Chartered bermitra dengan konsultan PricewaterhouseCoopers (PwC), berjudul ASEAN – a region facing disruption; positioning mid-corporates for growth in Southeast Asia.

Dalam laporan itu disebutkan, bahwa kawasan Asia Tenggara kurang berkembang dalam metode pembayaran digital apabila dibandingkan dengan kawasan lain di dunia. Untuk itu, perusahaan-perusahaan Indonesia harus mengadopsi tiga strategi pertumbuhan utama.

Pertama smart operations, penggunaan teknologi-teknologi baru seperti Industrial Internet-of-Everything/IoT, 3D Printing, dan kontrak berbasis blockchain dapat meningkatkan produktivitas di pabrik, mengoptimalkan rantai pasokan, dan memampukan eksekusi proyek dengan lebih efisien.

Kedua digital go-to-market, solusi-solusi seperti segmentasi mikro, geo-targeting, dan Augmented Reality, dapat membuat interaksi bisnis dengan konsumen menjadi lebih terarah dan terpersonalisasi. Lalu, terakhir ekspansi regional, yakni sumber-sumber pasokan baru, penyaluran produk ke segmen pasar baru dan menjalin kemitraan baru sehingga dapat memperkuat pertumbuhan bisnis. Misalnya, dengan masuk ke program infrastruktur multi-teritori.

Rino Donosepoetro, Chief Executive Officer, Standard Chartered Bank Indonesia, menjelaskan, untuk sukses mengimplementasikan strategi-strategi tersebut dibutuhkan transformasi internal perusahaan dengan didukung sumber daya manusia yang tepat, budaya organisasi yang terselaraskan, infrastruktur teknologi yang kuat, dan pengelolaan modal yang efektif.

Untuk membiayai investasi dan ekspansi bisnis lintas batas negara, perusahaan juga perlu bekerja sama dengan mitra yang memiliki spesialisasi regional, termasuk bank-bank internasional dengan jaringan yang luas.

"Mitra-mitra tersebut dapat berperan sebagai katalis pertumbuhan untuk membantu perusahaan mengekplorasi sumber pembiayaan baru, seperti pasar modal atau obligasi ramah lingkungan, menyediakan solusi pengelolaan dana, dan menyiapkan strategi lindung nilai (hedging) yang tepat," katanya dalam diskusi bertajuk CEO Connect – Exploring ASEAN’s Opportunities di Hotel Mulia, Jakarta, Senin (19/08).

Menurut Rino, strategi-strategi itu juga dapat memampukan perusahaan-perusahaan Indonesia yang sudah hadir dan memiliki posisi lokal yang kuat, untuk berekspansi ke pasar regional dan memicu fase pertumbuhan baru.

Laporan itu juga menyebutkan, pertumbuhan GDP di kawasan ASEAN mencapai US$ 2.89 trilliun di tahun 2018. Pencapaian ini menjadikan ASEAN sebagai ekonomi terbesar ke-5 di dunia dan diprediksi dalam kurun waktu 4 tahun, ekonomi ASEAN akan menjadi yang terbesar ke-4 di dunia.

Manufaktur, ritel dan konsumen, serta infrastruktur diidentifikasi sebagai sektor-sektor kunci pertumbuhan tersebut. Secara total, ketiga sektor tersebut berkontribusi terhadap 44% GDP regional dan diharapkan akan mengalami pertumbuhan sekitar 7-9% per tahun pada 2021.

"Sektor infrastruktur akan berperan sebagai pondasi bagi pertumbuhan sektor-sektor lain dan mengurangi inefisiensi pasar yang dapat memperlambat kecepatan pertumbuhan ekonomi. Dengan lebih dari 800 proyek dalam pengerjaan, perkembangan sektor infrastruktur akan terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ASEAN," lanjut Rino.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)