Kemana Portofolio Diposisikan Selama dan Sesudah Wabah COVID-19 ?

Hou Wey Fook, Chief Investment Officer, Consumer Banking & Wealth Management Bank DBS membagikan hasil kajiannya mengenai investasi dan pasar selama pandemi COVID-19 melanda seluruh negara di dunia. “Kami berpandangan bahwa ekonomi global akan melambat dengan tajam pada triwulan ke-2 dan mulai sedikit membaik pada triwulan ke-3 sebelum pulih pada triwulan ke4, "ungkapnya.

Imbal hasil surat berharga Pemerintah AS bertenor 10 tahun menyentuh titik terendah dalam sejarah, menjadi 0,54%. Indeks Volatilitas CBOE menyentuh titik tertinggi, sebesar 82,7, sejak krisis subprime . S&P 500 mencatat rekor penurunan satu hari sebesar 9,5%, tertinggi sejak “Black Monday” pada 1987. Harga minyak mentah Brent mencatat rekor penurunan satu hari sebesar 24,1%, tertinggi sejak Perang Teluk pada 1991.

Meski demikian dalam kajian ini, Fook juga memaparkan panduan investasi terbaik pasca wabah mereda. Berikut adalah gambaran ke mana arah pasar dan panduan investasi, bagaimana seharusnya portofolio diposisikan untuk kuarta ketiga hingga keempat tahun 2020 ini. Menurutnya jika jumlah kasus terinfeksi di AS dan Eropa melambat dalam beberapa bulan ke depan melalui musim panas, kami berharap pasar stabil dan pulih.

Situasi yang membaik di China, disusul oleh pembukaan kembali pabrik-pabrik, dan akhirnya pencabutan pembatasan di Hubei, memang merupakan tanda bahwa pandemi dapat diatasi.“Kami terus menganjurkan portofolio campuran (barbell) karena portofolio jenis itu akan mendiversifikasi aset secara global di dua area, " ungkapnya.

Fokus pertama adalah obligasi korporasi dan surat berharga yang menghasilkan dividen berperan sebagai ‘penghasil pendapatan’ sementara saham berperan sebagai ‘peningkat pengembalian’ di area lain. Bisa juga menambahkan Emas sebagai ‘pengalih risiko’ ke portofolio.

Dalam hal saham, menurut Fook , akan tetap menaruh keyakinan pada Teknologi, Layanan Kesehatan, dan saham-saham di Cina, bahkan saat mereka memberikan kinerja baik dibandingkan dengan indeks pasar yang mendasarinya.

Kebutuhan terhadap data, komunikasi cepat, dan konektivitas andal semakin meningkat. Standar nirkabel seluler generasi kelima (5G) adalah fase berikut dari evolusi komunikasi melampaui standar 4G Evolusi Jangka Panjang saat ini, membangun pergeseran paradigma dari operator jaringan seluler secara global dengan menggunakan operasi platform baru dan kuat. Adopsi 5G global diproyeksikan akan lepas landas mulai tahun 2020, dengan latar ketersediaan perangkat kompatibel untuk 5G.

“Investor harus memposisikan peluang investasi dengan kebangkitan 5G dan ekosistemnya, termasuk sektor semikonduktor, sektor peralatan, dan layanan terkait, seperti, platform berbagi jaringan, otomasi industri, Artificial Inyelligence, jaringan awan, jaringan pintar utilitas dan analitik data, " jelas Fook.

Infrastruktur juga menjadi rekomendasi untuk portofolio mendatang. Tren yang berkembang dalam urbanisasi, digitalisasi, perubahan iklim, dan peningkatan ekuitas menuntut lebih banyak yang harus dilakukan di bidang infrastruktur global. Mengingat kendala pengeluaran pemerintah, maka menurut kajian ini akan ada peningkatan ketergantungan pada modal swasta untuk membiayai infrastruktur publik. Dengan kekuatan harga, yang kuat, dan kompetisi, yang terbatas, dipercaya ada nilai proposisi dalam aset ini, sehingga menghasilkan pembayaran dividen tinggi dan berkelanjutan, yang sebanding untuk para investor.

Terlepas dari itu semua, Fook juga mengingatkan agar tetap optimistis melewati situasi ini. “Menoleh ke belakang, insiden SARS pada 2003 menyebabkan gangguan jangka pendek pada pasar. Hong Kong, misalnya, pada awalnya terkoreksi 10% tetapi kemudian pulih. Kami percaya peta jalannya tidak akan berbeda setelah situasi virus korona ini stabil," jelas dia.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)