Kemenperin Fokus Pulihkan IKM Tekstil

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendukung pelaku industri kecil dan menengah (IKM), termasuk sektor tekstil dan pakaian jadi agar mampu bangkit dari tekanan dampak pandemi Covid -19. Salah satu strateginya adalah melalui pemasaran online.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan IKM bisa lebih lincah berstrategi dengan memanfaatkan aset dan peluang yang ada,sehingga kinerja produktivitasnya dapat meningkat.

Agus pun menyempatkan melakukan kunjungan kerja ke pabrik tekstil penenunan PT Santosa Kurnia Jaya, yang terletak di Jalan Solokanjeruk Majalaya, Kabupaten Bandung. Pabrik tersebut telah beroperasi sejak 2009 dan memproduksi kain polos putih dengan kapasitas hingga 156.000 meter kain per bulan.

Didukung tenaga kerja sebanyak 139 orang dan menggunakan 104 unit mesin tenun, PT Santosa Kurnia Jaya berhasil memasarkan produknya ke pasar lokal dalam bentuk jilbab dengan merek Rabbani, Elzata, dan Nibras. Sedangkan untuk ekspor, IKM tekstil tersebut memasok produk untuk dua produsen Jepang, yaitu Hattori Takeshi dan Toyoshima.

Agus menyampaikan, ekspor tekstil dan produk tekstil perlu dioptimalkan kembali setelah terkena pukulan dampak pandemi Covid-19. “Harapan positif terlihat dari angka purchasing managers index (PMI) manufaktur Indonesia yang saat ini berada di posisi tertinggi di Asia. PMI manufaktur Indonesia tembus ke level 55,3 pada Mei 2021, serta lebih tinggi dari negara-negara lain seperti Vietnam, India, China, dan Korea Selatan,” ujar Agus.

Oleh sebab itu, Kemenperin terus aktif mendukung pemulihan produktivitas IKM tekstil dan pakaian jadi. Langlah strategisnya dengan memberikan berbagai fasilitas seperti restrukturisasi mesin, membuka akses pasar, dan memberikan pelatihan pemasaran online agar bisa mengejar pertumbuhan positif.

Agus menambahkan,untuk menjaga keberlangsungan proses produksi atau pengembangan industri, Kemenperin saat ini sedang menyusun peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2021 terkait pusat penyedia bahan baku dan/atau bahan penolong bagi IKM, khususnya yang diperuntukkan bagi IKM yang tidak dapat melaksanakan importasi sendiri, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri tekstil dan pakaian jadi mencapai 6,11 persen dari total PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan I 2021. Sementara itu, ekspor pakaian jadi sepanjang Januari-Maret 2021 mencapai US$1,94 miliar. Ekspor didominasi dari kelompok pakaian jadi jenis konveksi dengan nilai USD1,64 miliar. Sisanya merupakan ekspor pakaian jadi rajutan, perlengkapan pakaian dari tekstil, kaos kaki rajutan, serta pakaian dan perlengkapan dari kulit.

Pada periode yang sama, ekspor industri tekstil tercatat sebesar US$1,06 miliar. Ekspor didominasi dari kelompok benang pintal dengan nilai US$ 0,42 miliar dan diikuti oleh ekspor serat stapel buatan US$ 0,21 miliar, dan barang tekstil lainnya US$ 0,14 miliar serta beberapa kelompok komoditas lain.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)