Ketergantungan RI pada Beras Impor Meningkat, Ekonom Ungkap Penyebabnya | SWA.co.id

Ketergantungan RI pada Beras Impor Meningkat, Ekonom Ungkap Penyebabnya

Tumpukan karung berisi beras impor asal Vietnam di atas kapal MV Hoang Trieu 69 yang tiba di Pelabuhan Tenau Kupang, NTT, Jumat (13/01/2023) FOTO: ANTARA/Kornelis Kaha/tom.

Ekonom sekaligus Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pemerintah gagal dalam mengurus produksi beras di Indonesia. Menurutnya hal tersebut telah terlihat sebelum kekeringan panjang atau fenomena alam El Nino terjadi di Tanah Air.

"Kondisinya makin kompleks, karena Indonesia gagal memenuhi produksi beras dalam negerinya," ucap Bhima, Ahad, 5 November 2023. 

Ia mengungkapkan tren merosotnya produksi beras sebelum El Nino juga terlihat dari luasan lahan panen yang terus menurun. Walhasil, ia menilai Indonesia kini mengalami ketergantungan impornya makin tinggi. 

Hal yang kini menjadi persoalan, ucap Bhima, saat ini banyak negara produsen utama pangan menahan diri untuk ekspor. Musababnya adalah alasan geopolitik dan tren proteksionisme. Selain itu, ia memperkirakan negara-negara tersebut melindungi stok pangan untuk kebutuhan negaranya masing-masing. 

Bhima mencontohkan yang terjadi di India. Negara tersebut selama ini memasok 30 persen ekspor beras dunia. Namun, kini negara di Asia Selatan itu mulai menutup ekspor. Dia menuturkan India sendiri mengalami kecenderungan inward looking di bawah kepemimpinan Modi yang didukung partai sayap kanan. 

"Jadi pemerintah Indonesia akhirnya banyak mengemis diberikan pengecualian batasan ekspor ke negara produsen. Itu tidak mudah," ucap Bhima.

Sementara itu, Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog Mokhamad Suyamto mengklaim stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) aman sampai dengan tahun. Suyamto memastikan hal tersebut lantaran Bulog diberikan tambahan penugasan impor beras dari pemerintah kepada Bulog sebanyak 1,5 juta ton.

"Dengan tambahan penugasan impor ini, maka jumlahnya akan makin kuat untuk kebutuhan penyaluran sampai tahun depan guna mempertahankan stabilitas harga beras di masyarakat," kata Suyamto dalam keterangannya pada Kamis malam, 2 November 2023. 

Adapun stok beras yang dikuasai Bulog saat ini ada sebanyak 1,45 juta ton.  Suyamto tak menampik saat ini sulit mendapatkan beras impor. Namun, ia memastikan Bulog sudah berhasil mendapatkan kontrak sebesar 1 juta ton dari kuota tambahan penugasan importasi beras dari pemerintah sebanyak 1,5 juta ton. 

Saat ini Bulog sudah meneken kontrak dengan beberapa negara, antara lain Thailand, Vietnam, Pakistan dan Myanmar. Selanjutnya Bulog juga akan menjajaki dengan India dan Kamboja maupun negara lainnya yang memungkinkan dan memenuhi persyaratan. 

Dia menjelaskan, Bulog akan merealisasikan tugas impor beras ini dari negara mana saja yang memungkinkan dan memenuhi semua standar persyaratan. Kendati diberi kuota impor tambahan sebesar 1,5 juta ton, Suyamto pun menekankan pelaksanaannya akan tetap disesuaikan dengan kebutuhan penyaluran di dalam negeri. 

Sumber: Tempo.co

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)