Langkah Nyata CBF Untuk Meningkatkan Ekspor Indonesia

 

Presiden Joko Widodo mengatakan ada dua kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni investasi dan eskpor. Hal ini disampaikan dalam rapat kerja perwakilan RI di Kementerian Luar Negeri.

Menanggapi hal tersebut CEO Business Forum (CBF) Indonesia langsung melakukan langkah nyata untuk meningkatkan nilai ekspor produk Indonesia ke luar negeri. CBF memiliki komitmen menjalankan visi dan misi dalam menjembatani dunia usaha untuk saling bekerja sama dan mendukung pemerintah dalam meningkatkan ekspor ke luar negeri.

Salah satu anggota CBF yang melakukan langkah nyata yakni CEO Batik Alleira, Lisa Mihardja. Batik Alleira dalam waktu dekat akan mengekspor produk batiknya ke Selandia Baru. Nantinya produk yang akan dihadirkan merupakan perpaduan motif Indonesia dan motif maori yang berasal dari Selandia Baru. Dan akan di launching dalam perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Selandia Baru.

“Dengan slogan baru kami The real deal, kami ingin menjadikan komunitas pebisnis ini melakukan langkah kongkrit dan memiliki bisnis yang nyata,” ujar Jahja B. Soenarjo, Ketua Umum CBF dalam acara CBF di Dapur Solo, Panglima Polim, Jakarta (19/2/2018).

Dalam pertemuan tersebut, CBF juga menyerahkan secara simbolis satu set perangkat gamelan untuk ruang kedutaan Indonesia di Selandia Baru. "Gamelan ini akan diletakkan di ruang kedutaan yang telah diubah sedemikian rupa dengan konsep yang sangat Indonesia, sangat Nusantara. Ada ruang sriwijaya, ruang mataram, ruang bali untuk uang pertemuannya. Jadi, supaya masyarakat Indonesia yang ada bisa memanfaatkan fasilitas sehingga tetap cinta dengan negaranya, dan Selandia Baru juga bisa melihat kekayaan Indonesia, seni budayanya juga," jelas Jahja.

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya yang turut hadir dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa saat ini, volume perdagangan Indonesia dengan Selandia Baru masih berkisar US$ 1,7 miliar atau NZD1,4 miliar. Dari jumlah itu, komposisi ekspor masih lebih besar dibandingkan import yakni 60% untuk ekspor dan 30%-40% impor. “Dari konfigurasi tersebut kita selalu defisit, hal ini dikarenakan produk-produk kita yang dieskpor masih banyak komuditas produk belum jadi yang mempunyai value added tinggi,” jelasnya.

Ia berharap, dengan didorongnya produk jadi yang memiliki value added tinggi akan membuat neraca perdagangan Indonesia melonjak. “Saat ini kita masih banyak mengeskspor seperti ampas kelapa sawit untuk makanan ternak dan pupuk. Ke depan kalau kita sudah bisa ekspor otomotif, komputer, ini akan membuat neraca perdagangan kita melonjak,” ujarnya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!