Mandiri Sekuritas Proyeksikan Perekonomian Tahun 2020 Tumbuh 5,14%

Suasana di pasar tradisional. Konsumsi domestik akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2020. (Ilustrasi Foto : Dokumen SWA).

PT Mandiri Sekuritas (Mandiri Sekuritas) optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil pada kisaran 5,14% di tahun 2020. Pertumbuhan tersebut diproyeksikan akan didorong oleh tingginya permintaan domestic. Proyeksi ini mengemuka dalam perhelatan ‘Macro Week 2019; Envisioning a Better investment: What needs to be done?’ yang diselenggarakan oleh Mandiri Sekuritas di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Acara ini merupakan bagian dari komitmen perusahan untuk memberikan wawasan menyeluruh mengenai perekonomian dan iklim investasi Indonesia di tahun 2020 kepada para investor sehingga dapat membantu strategi bisnis dan penyusunan investasi pada investor di masa mendatang.

Leo Putra Rinaldy, Chief Economist Mandiri Sekuritas, mengatakan, Mandiri Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 akan stabil pada kisaran 5,14%, dengan permintaan domestik, terutama investasi, yang akan menjadi pendorong utamanya. “Dampak kebijakan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) di semester-II tahun 2019 serta regulasi fiskal yang berorientasi pada kemudahan investasi akan menjadi dua faktor pendukung yang mendorong pertumbuhan investasi Indonesia di tahun mendatang,” ujar Leo dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Meskipun terdapat potensi dampak dari sejumlah penyesuaian harga barang atau jasa yang diatur pemerintah (administered price), Leo mengatakan bahwa tingkat inflasi diperkirakan akan tetap stabil di bawah 4% di tahun 2020. Sementara itu, performa rupiah hingga November 2019 relatif stabil bahkan sempat menguat hampir 3%, menjadikan rupiah sebagai mata uang yang kinerjanya lebih baik dibandingkan antara negara-negara berkembang lainnya. “Kami percaya performa tahun 2020, Rupiah diproyeksikan akan mencatatkan performa yang stabil seperti tahun ini. Lebih lanjut, nilai tukar rupiah yang diprediksi stabil itu merefleksikan  kondisi ekonomi yang solid dan dalam konteks relatif lebih baik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya,” ungkap Leo.

Kondisi makro yang cenderung membaik mampu mendorong masuknya investasi, termasuk investasi asing ke Indonesia kedepannya. Salah satu tantangan terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan adalah jebakan pendapatan menengah atau middle income trap. Isu ini juga dikemukakan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidato pelantikan Presiden  pada Oktober 2019.

Menurut Leo, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan adalah kunci untuk menghindari middle income trap di Indonesia. Untuk mencapai kondisi tersebut dapat dilakukan dengan memberdayakan prioritas investasi domestik dan asing pada sejumlah sektor strategis, seperti pengembangan sumber daya manusia, pengembangan sektor hilir yang berbasis komoditas, dan revitalisasi sektor manufaktur terutama yang berbasis ekspor sehingga middle income trap dapat dihindari di tahun 2045 nanti.

Acara Macro Week 2019 dihadiri oleh pembicara dari kalangan pembuat kebijakan, industri dan ekonom, seperti: Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Destry Damayanti Senior Deputi Gubernur Bank Indonesia, Kartika Wirjoatmodjo, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara, Sjahril Rachmad Atas, SVP Corporate Finance – Pertamina, Irman Boyle, Executive VP, Head of Advisory Group, Indonesia Infrastructure Finance, Raj Kannan, Partner at Deloitte Consulting, Frederico Gil Sander, Kepala Ekonom World Bank Indonesia.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)