Pentingnya Sinergi Stakeholder dalam Meningkatkan Perekonomian

Guna membangun Indonesia yang lebih maju, diperlukan sinergi berbagai stakeholder untuk menunjangnya. Pemerintah, swasta (dunia usaha) dan masyarakat harus bekerja sama untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani , mengatakan bahwa di kalangan dunia usaha pihaknya selalu berupaya menciptakan keterpaduan program antar sektor dan mendukung penuh program-program pemerintah.

IMG-20160629-WA0007

“Kami juga ingin agar dunia usaha bersama pemerintah dapat berintegrasi secara harmonis untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam rangka meningkatkan perekonomian nasional,” kata Roslan.

Menurutnya, perhatian berbagai pihak terhadap pembangunan ekonomi nasional merupakan faktor menentukan bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan dan memanfaatkan berbagai peluang ekonomi di masa depan. Oleh karena itu, keterpaduan langkah antara dunia usaha dengan jajaran pemerintah perlu terus dibina dan diperkuat.

Pihaknya berharap agar pemerintah juga bersinergi dan mengenyampingkan ego sektoral demi terjaganya pembangunan ekonomi yang lebih pasti. “Pemerintah tentu berkepentingan dengan pengusaha. Jadi dunia usaha jangan khawatir. Tentunya pemerintah pun mengharapkan pengusaha juga untung, oleh karena itu kami mendorong dan mendukung para pengusaha” ungkap  Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Dialog Ekonomi bersama Kadin.

Jika ditelisik mengenai kondisi perekonomian Indonesia saat ini, dalam pandangan Bank Indonesia, stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga hingga Mei 2016. “Stabilitas ekonomi ini dapat terjaga khususnya karena pengendalian inflasi dapat dijaga dengan baik di tahun 2016 ini. Kita sama-sama mengikuti inflasi di tahun 2015 adalah 3,35% dan 2014 sebesar 8,3%,” jelas Agus Martowardoyo, Gubernur Bank Indonesia. Inflasi yang terkendali ini didukung oleh transaksi berjalan yang semakin baik.

Meskipun stabilitas ekonomi di Indonesia cukup terjaga, namun menurut Muliaman D. Hadad, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu diperhatikan beberapa hal untuk melihat industri keuangan Indonesia berdaya tahan atau tidak. “Pertama, risiko kredit, artinya jika kredit bermasalah, maka ini juga akan menjadi resiko bagi para pengusaha. Kedua, risiko pasar yang muncul karena bnya harga pasar. Ketiga, risiko likuiditas,” tambah Muliaman. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)