Pergeseran Pola Konsumsi Pengaruhi Daya Beli Masyarakat

Perlambatan pertumbuhan daya beli per kuartal tahun 2017 meningkat. Namun, jika dibandingkan dengan tahun 2016 memang terjadi penurunan dalam presentase yang kecil dan masih dalam taraf aman.

Faktor perlambatan pertumbuhan daya beli ini dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin cerdas dan efisien. Beberapa asumsi faktor tersebut antara lain terjadinya peralihan metode belanja masyarakat melalui e-commerce, masyarakat yang lebih cermat menabung, peralihan industri dari padat karya menjadi padat modal.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, menegaskan, daya beli masyarakat masih kuat. Ini terbukti dari kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih dominan. Menurutnya, konsumsi masyarakat masih tumbuh kuat. Semua komponen tidak ada yang negatif. Berdasarkan laju pertumbuhan PDB. pos pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh signifikan pada triwulan kedua 2017, yaitu 4,95 persen (year-on-year/yoy). Jika dibanding triwulan pertama yang 4,94 persen sekarang ini lebih tinggi sedikit.

Suhariyanto menyebut, konsumsi rumah tangga menyumbang 2,65 persen terhadap pertumbuhan ekonomi di triwulan kedua 2017, yang tercatat 5,01 persen. Kategori restoran dan hotel tumbuh 5,87 persen sedangkan makanan dan minuman 5,24 persen.

Selanjutnya, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga tercatat menguat, yaitu 5,35 persen yoy pada triwulan kedua 2017. Suhariyanto mengatakan pertumbuhan itu didorong oleh investasi bangunan, kendaraan, dan peralatan lain.

“Realisasi belanja pemerintah untuk belanja modal juga tercatat meningkat dibandingkan dengan triwulan kedua tahun lalu. Belanja modal pemerintah yang cukup bagus ini akan memberikan sinyal positif kepada swasta,” ungkap Suhariyanto dalam diskusi media "Daya Beli Terjaga, Masyarakat Belanja Lebih Cerdas" di kantor Kemkominfo, Jakarta, (12/8/2017).

Pergeseran Pola Konsumsi

BPS menegaskan, bahwa pergeseran konsumsi belanja masyarakat dari transaksi konvensional ke non konvensional atau online hanya terjadi di kalangan masyarakat menengah ke atas. Selain pergeseran tersebut, BPS memandang kalangan menengah ke atas saat ini masih menahan konsumsinya karena mempertimbangkan berbagai aspek. Meskipun transaksi debit mengalami pertumbuhan, namun total dana pihak ketiga di perbankan saat ini cukup tinggi.

Secara garis besar, konsumsi rumah tangga yang memiliki kontribusi sebesar 55,61 persen terhadap produk domestik bruto, berhasil tumbuh 4,95 persen terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal kedua. Meski demikian, pertumbuhan konsumsi  rumah tangga jika dibandingkan kuartal ke kuartal hanya tumbuh 1,32 persen (q-to-q).

Sedangkan ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan, tidak ada kejadian luar biasa yang menyebabkan daya beli masyarakat secara keseluruhan tiba-tiba merosot. Ia mengatakan, memang benar kenaikan konsumsi masyarakat sedikit melambat menjadi di bawah 5 persen atau persisnya 4,93 persen pada kuartal I 2017, tetapi jauh dari merosot atau turun sebagaimana banyak diberitakan belakangan ini.

Menurut Faisal dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan riil konsumsi masyarakat (private consumption) mencapai rata-rata 5 persen.Pertumbuhan nominal konsumsi masyarakat pada triwulan I-2017 masih 8,6 persen.

Jadi, baik secara nominal maupun riil, konsumsi masyarakat masih naik. Memang benar kenaikan konsumsi masyarakat sedikit melambat menjadi di bawah 5 persen atau persisnya 4,93 persen pada triwulan I-2017, tetapi jauh dari merosot atau turun sebagaimana banyak diberitakan belakangan ini.

Rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) terbaru oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7 Agustus 2017 lalu  dipastikan memperkuat kesimpulan tidak terjadi kemerosotan daya beli atau konsumsi masyarakat. Data resmi BPS menyimpulkan secara keseluruhan konsumsi masyarakat secara riil (sudah memperhitungkan kenaikan harga) naik cukup stabil di aras sekitar 5 persen.

Bagaimana gambaran di tingkat mikro? Memang penjualan sejumlah barang dan jasa mengalami penurunan. Penjualan sepeda motor Juni 2017 turun tajam 30 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Selama Januari-Juli 2017 penjualan sepeda motor merosot sebesar 13,1 persen.

Namun, kemerosotan penjualan sepeda motor sudah berlangsung sejak 2015. Sebaliknya, sekalipun penjualan mobil anjlok 27,4 persen pada Juni 2017, selama Januari-Juni masih mencatatkan pertumbuhan positif 0,3 persen.

Kalau data Juni dikeluarkan, pertumbuhan penjualan mobil Januari-Mei lumayan tinggi, yaitu 6 persen. Kemerosotan penjualan mobil pada Juni bisa dimaklumi mengingat hari kerja efektif bulan itu sangat pendek. Beberapa barang dan jasa juga mengalami kejadian serupa.

Penjualan ritel di beberapa outlet tidak bisa dijadikan indikator penurunan daya beli masyarakat. Selalu ada yang turun, tetapi ada pula yang naik. Ada pula pergeseran ke penjualan online.

Yang perlu lebih diwaspadai adalah gejala dini penurunan pertumbuhan konsumsi masyarakat, mengingat peranannya dalam PDB sangat dan paling dominan, yaitu sekitar 58 persen (termasuk konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga atau LNPRT. Yang lebih perlu diwaspadai lagi adalah kecenderungan penurunan konsumsi kelompok masyarakat bottom-40, demi alasan keadilan, pemerataan, dan pengentasan penduduk di bawah garis kemiskinan.

 

Editor: Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)