Porsi Penyerapan CPO Bersertifikat di Pasar Global Masih Rendah

Penyerapan minyak sawit berkelanjutan atau Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) di pasar global tidak sesuai harapan karena setiap tahun penjualannya di bawah 50%. Minimnya penyerapan mengakibatkan oversuplai CSPO dan tidak adanya harga premium (premium price) bagi konsumen.

Hal ini disampaikan Maruli Gultom, Pengamat Perkelapasawitan, Bungaran Saragih, Menteri Pertanian Periode 2000-2004, Gulat Manurung, Ketua Umum DPP APKASINDO pada diskusi bertajuk “Evaluasi Penyerapan CPO Bersertifikat di Pasar Global," di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Maruli mengatakan sertifikasi RSPO ini cenderung mengabaikan kepentingan industri sawit Indonesia. Padahal, anggota RSPO diwajibkan membayar iuran tahunan yang nilainya sangat tinggi. Akan tetapi, tekanan terus diberikan kepada produsen sawit dari Malaysia dan Indonesia. Sertifikasi RSPO ini cenderung mengakomodasi kepentingan business to business lantaran anggota RSPO harus membayar iuran setiap tahun. Mahalnya biaya sertifikasi dan surveillance menjadi bukti RSPO lebih banyak bersifat bisnis.

Harusnya sertifikasi ini memberikan nilai tambah bagi pesertanya. Tetapi faktanya sangatlah berbeda. Penolakan sawit di Eropa bukanlah persoalan merusak lingkungan tetapi persaingan energi dengan produk minyak nabati yang diproduksi Eropa seperti kedelai, rapeseed, dan sun flower.

Yang harus dipahami bahwa tidak semua konsumen di Eropa mau membayar premium price bagi produk minyak sawit berkelanjutan. “Siapa yang bertanggungjawab ketika premium price tidak ada (bagi produsen dan petani sawit),” ungkapnya di Jakarta.

Adapun, perwakilan petani yang hadir dalam diskusi mengakui terjadi ketidakadilan bagi petani peserta RSPO. Gulat Manurung, Ketua Umum DPP APKASINDO, menyebutkan anggotanya dikejar-kejar mengikuti sertifikasi RSPO. Setelah dapat, harga yang diterimanya tetap sama. “Mereka (petani) dijanjikan harga bagus. Tapi tidak ada. Permintaan minyak sawit bersertifikat lebih rendah dari produksi. Pembeli yang ingin minyak sawit bersertifikat jumlahnya juga sedikit. Artinya, tuntutan sertifikat bagian politik dagang negara pembeli seperti Eropa. Kita dituduh merusak hutan dan lingkungan. Padahal, yang menuduh belum tentu paham dan mengerti sawit,” tegasnya.

Prof. Bungaran Saragih, Menteri Pertanian Periode 2000-2004 menjelaskan konsumen minyak sawit dunia yang selama ini menuntut sustainability ternyata inkonsisten. Penyerapan pasar CPO bersertifikat sustainablity baru sekitar 60 persen dari produksi CPO bersertifikat sustainability.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)