Potensi Tax Amnesty Tingkatkan Volume Transaksi Perdagangan Berjangka

Bursa berjangka komoditi di Indonesia dinilai belum optimal dimanfaatkan oleh para pelaku usaha sebagai sarana lindung nilai (hedging) bagi usahanya. Padahal peran perdagangan berjangka komoditi dianggap strategis di dalam perekonomian nasional di era perdagangan bebas, yaitu sebagai sarana hedging, sarana pembentukan harga (price discovery) dan alternatif investasi yang diperlukan bagi pelaku usaha untuk melindungi usahanya.

Direktur Utama PT Jakarta Futures Exchange (JFX), Stephanus Paulus Lumintang. Direktur Utama PT Jakarta Futures Exchange (JFX), Stephanus Paulus Lumintang.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Pengawasan Pasar Berjangka dan Fisik, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), Pantas Lumban Batu dalam Pelatihan Perdagangan Berjangka Komoditi, di Hotel Harper, Yogyakarta, Jumat (12/8).

Saat ini tantangan yang dihadapi industri perdagangan berjangka komoditi adalah Indonesia belum menjadi price reference komoditi ekspor utama dunia karena belum optimalnya perdagangan berjangka sebagai pembentukan harga dan lindung nilai yang teratur. “Serta Indonesia belum menjadi price leader komoditi ekspor utama dunia karena tidak terkonsolidasinya pelaku pasar dalam perdagangan berjangka dan fisik komoditi,” kata Pantas.

Menurut Pantas ada tiga hal dapat membuat industri perdagangan berjangka komoditi semakin likuid yaitu peningkatan transaksi multilateral, peningkatan integritas industri PBK dan peningkatan iklim usaha yang kondusif. “Tiga hal ini mendukung agar komoditi ekspor utama Indonesia yang diperdagangkan di bursa berjangka dapat menjadi referensi harga internasional dengan tetap menjaga prinsip dan memperhatikan aspek perlindungan hukum kepada masyarakat,” tambahnya.

Untuk transaksi multilateral sebesar 719.663 lot mengalami peningkatan sebesar 24,22% dibandingkan periode yang sama tahun 2015 sebesar 579.342 lot. Market share untuk volume transaksi multilateral pada semester ke-I tahun 2016 sebesar 719.663 lot atau 20,03% meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015 sebesar 579.342 lot atau 18,70%.

Adapun kontrak multilateral yang paling diminati selama semester I tahun 2016 berturut-turut adalah kelapa sawit, kopi, emas, olein dan kakao.

Sementara menurut Direktur Utama PT Jakarta Futures Exchange (JFX), Stephanus Paulus Lumintang dampak dari tax amnesty atau pengampunan pajak yang ditetapkan pemerintah memiliki potensi pertumbuhan investasi perdagangan berjangka. “Kami harap ini akan menambah daya tarik investasi pada instrumen perdagangan berjangka, selain perbankan dan pasar modal. Kami menargetkan dana repatriasi sebesar Rp 5 trilun yang masuk ke pasar berjangka komoditi,” ujar Stephanus.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)