PTPN Kembangkan Minyak Makan Merah dan Biodiesel B50

Presiden Jokowi meninjau langsung kegiatan riset dan uji coba B50 dan minyak makan merah oleh PPKS Medan. (dok. PTPN Group)

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebagai unit usaha dari PT Riset Perkebunan Nusantara - anak usaha dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melakukan sejumlah inovasi untuk mendukung ketahanan energi nasional, khususnya penelitian dan pengembangan terkait bahan bakar biodiesel 50% (B50).

Presiden Joko Widodo dalam salah satu rangkaian kunjungan kerja di Medan, Sumatera Utara, juga melakukan kunjungan ke PPKS Medan, (7/7/2022 dalam acara 'Inovasi Pusat Penelitian Kelapa Sawit dalam Penguatan Koperasi dan UKM untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional.'

Presiden meninjau langsung kegiatan riset dan inovasi khususnya uji coba B50 dan minyak makan merah yang menjadi produk unggulan PPKS Medan.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani menyatakan, PKS menjadi backbone (tulang punggung) riset dan inovasi kelapa sawit nasional.  Demi meraih cita-cita tersebut, Holding Perkebunan Nusantara siap membantu dan mendukung PPKS.

Inovasi Bahan Bakar B50 telah berlangsung semenjak tahun 2019 lalu. Mobil dengan bahan bakar B50 berhasil menjalani uji coba (road test) dengan rute Medan – Jakarta, pulang pergi, pada 25 hingga 31 Januari 2019 lalu.  Uji coba tersebut, sukses dan menambah kepercayaan diri para peneliti dan inovator PPKS untuk mematangkan riset dan aplikasi B50 secara luas di masyarakat.

Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) dalam perannya menjaga ketahanan pangan (food security), melalui PPKS turut mengembangkan teknologi sederhana produksi minyak makan merah, dengan kandungan senyawa fitonutrien berkadar tinggi.

Hasil inovasi minyak makan merah yang diketuai oleh Dr. Frida R. Panjaitan ini memiliki kandungan fitonutrien  antara lain karoten (sebagai pro-vitamin A), tokoferol dan tokotrienol (sebagai vitamin E), dan squalene.

Kepala PPKS M. Edwin S. Lubis, menyatakan, minyak makan merah berpotensi digunakan sebagai pangan fungsional, salah satunya sebagai bahan pangan untuk anti stunting.

Lebih lanjut, Edwin menjelaskan, selain sebagai sumber lemak (zat gizi dasar), minyak makan merah, mengandung senyawa fitonutrien yang memiliki sifat sebagai antioksidan dan bioaktivitas lainnya.  Kandungan asamoleat dan asam linoleat dalam Minyak Makan Merah, berfungsi untuk pembentukan dan perkembangan otak, transportasi dan metabolisme pada anak. Minyak Makan Merah juga sesuai digunakan untuk menumis bahan pangan, salad dressing, serta bahan baku margarin dan shortening.

Minyak makan merah memiliki beberapa keunggulan antara lain: proses pengolahan yang sederhana dan murah; instalasi pengolahan dapat dibangun di remote area sehingga distribusi dan biaya logistik menjadi lebih murah; memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik sehingga dapat menjadi solusi untuk pemenuhan zat gizi bagi masyarakat Indonesia serta dapat dikembangkan pada skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) atau koperasi sehingga berpotensi meningkatkan nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan pekebun.

Edukasi dan sosialisasi tentang manfaat dari minyak makan merah perlu dilakukan agar minyak makan merah dan produk diversifikasinya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)