Saham Sektor Konsumer Diprediksi Untung Berkat IA-CEPA

Bendera Indonesia dan Australia. (sumber: Adobestock)

Pemerintah Indonesia dan Australia telah sepakat untuk menandatangani perjanjian kemitraan di bidang ekonomi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Berdasarkan kesepakatan baru ini, Indonesia akan menghapuskan tarif impor sekitar 94% atas sebanyak 10.252 jenis barang impor Australia, sedangkan Australia akan menghapuskan seluruhnya tarif impor atau 100% atas sebanyak 6.474 jenis barang Indonesia yang masuk ke Australia. Kesepakatan ini berlaku efektif bila telah mendapat persetujuan dari parlemen masing-masing negara.

Menurut Bahana Sekuritas, perjanjian ekonomi komprehensif ini akan memberi dampak positif bagi perekonomian kedua negara, meski pada awalnya Australia akan mendapat manfaat lebih besar dibanding Indonesia.

Data dari Kementerian Perdagangan memperlihatkan, pada 2018 perdagangan dengan Australia mengalami defisit sebesar $3,03 miliar, lebih baik dibanding pencapaian 2017, yang mencatat defisit sebesar $3,48 miliar. Ekspor terbesar Indonesia ke Australia adalah bahan bakar mineral, termasuk minyak mentah.

Barang ekspor lainnya yang cukup besar ada kayu dan barang-barang yang terbuat dari kayu, pakaian, alas kaki dan mesin. ‘’Dengan memperhatikan data ini, IA-CEPA lebih menguntungkan bagi Australia mengingat surplus perdagangannya dengan Indonesia, terutama bagi produsen hasil pertanian,’’ papar Analis Senior Bahana Sekuritas, Lucky Ariesandi.

Bila kesepakatan baru ini berlaku, maka eksportir sapi hidup jantan Australia akan menikmati tariff bebas bea, dari yang selama ini berlaku sebesar 5%, sedangkan tariff untuk ekspor daging sapi beku dan domba masing-masing sebesar 2,5% untuk volume tak terbatas dan selanjutnya akan mendapar tarif bebas bea setelah 5 tahun. 

Tarif impor 5% atas  beberapa produk susu juga akan dihapuskan, meski ada kemungkinan tariff bebas bea ini tidak berlaku bagi susu bubuk skim. Untuk impor sereal hingga 500.000 ton juga akan berlaku bebas bea, dan selanjutnya akan bertahap naik 5% per tahun.

Sementara itu, bagi Indonesia, kesepakatan baru ini diharapkan mampu mendorong ekspor tekstil dan otomotif. Dengan penghapusan tarif 5% untuk tekstil, akan memungkinkan Indonesia bersaing dengan Thailand, Malaysia dan Vietnam, yang selama ini sudah menikmati tarif bebas bea dari Australia. Sedangkan untuk ekspor kendaraan hibrida dan listrik akan menikmati bebas pajak bila kendaraan yang diekspor sedikitnya 35% dari total konten kendaraan, sudah dirakit di Indonesia.

‘’Dengan kesepakatan kendaraan hybrid ini, akan semakin memperkuat posisi Indonesia di daerah kawasan karena Indonesia memiliki banyak bahan baku untuk pembuatan baterai EV yang diperlukan bagi kendaraan hybrid,’’ kata Lucky. Dampaknya bagi inflasi juga akan positif karena harga daging sapi, tepung dan produk susu akan semakin stabil, setelah berlakunya tarif bebas bea, tambahnya.

Melihat kesepatakan IA-CEPA terbaru ini, Bahana merekomendasikan beli atas beberapa saham sektor konsumer seperti saham Indofoof CBP yang selama ini mencatat beban pembelian tepung yang cukup besar, serta Mayora Indah yang membutuhkan gula cukup besar dalam produksinya juga akan mendapat keuntungan.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)