Survei BI: Kenaikan Harga Properti Residensial Melambat pada Triwulan II/2019

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia di pasar primer mengindikasikan kenaikan harga properti residensial pada triwulan II/2019 melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II/2019 yang tumbuh 0,20% (qtq), melambat dibandingkan 0,49% (qtq) pada triwulan sebelumnya.

Menurut BI dalam keterangan pers nya, terjadinya kenaikan harga ini terutama disebabkan oleh adanya kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja bangunan. Berdasarkan wilayah, melambatnya kenaikan harga terjadi pada sebagian besar kota dan penurunan harga terjadi di Kota Batam (-3,01% qtq) dan Bandar Lampung (-0,01% qtq).

Melambatnya kenaikan harga properti residensial juga terjadi pada semua tipe rumah. Pada triwulan II/2019, kenaikan harga rumah tipe kecil melambat dari 0,72% pada triwulan sebelumnya menjadi 0,37% (qtq). Kemudian, rumah tipe menengah melambat dari 0,60% menjadi 0,18% (qtq), dan pada rumah besar melambat dari 0,20% menjadi 0,03% (qtq). BI memperkirakan, ke depan, kenaikan harga rumah akan meningkat pada triwulan III 2019 sebesar 0,76% (qtq).

Sementara, volume penjualan properti residensial pada triwulan II 2019 tercatat mengalami kontraksi pertumbuhan -15,90% (qtq), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 23,77% (qtq). Penurunan penjualan properti residensial disebabkan oleh penurunan penjualan pada rumah tipe kecil dan rumah tipe menengah. Menurut responden, beberapa faktor yang menyebabkan penurunan penjualan adalah melemahnya daya beli, suku bunga KPR yang cukup tinggi, dan tingginya harga rumah.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa dana internal perusahaan masih menjadi sumber utama bagi pengembang dalam pembangunan properti residensial yakni sebesar 60,57%. Kemudian dari pinjaman perbankan sebesar 27,54%, dan pembayaran dari konsumen sebesar 9,80%.

Dari sisi konsumen, pembelian properti residensial sebagian besar masih menggunakan fasilitas KPR sebagai sumber pembiayaan utama yaitu sebesar 74,32%. Adapun 19,05% dengan tunai bertahap dan 6,64% tunai.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)