Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tumbuh 5,4% di 2018

Prospek ekonomi Indonesia diperkirakan akan lebih baik dibandingkan ekonomi global. Dengan asumsi inflasi berada di kisaran 3 - 4% dan suku bunga riil di kisaran 10%, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sebesar 5,17 - 5,24% pada 2017, dan 5,3 - 5,4% pada 2018 mendatang. Tingkatan ini lebih tinggi dari prospek ekonomi global yang diperkirakan hanya tumbuh di kisaran 3,6%.

Hal tersebut disampaikan oleh Wahyoe Soedarmono, HSBC-PSF Project Manager, sekaligus Ekonom dan Ketua Program Studi Manajemen di Faculty of Businesss, Sampoerna University dalam acara Indonesia Economic and Financial Sector Outlook (IEFSO) 2018 di Jakarta (7/12/2017).

Beberapa sektor tumbuh lebih tinggi daripada pertumbuhan PDB riil agregat pada kuartal III-2017 (5,06%), di antaranya informasi dan komunikasi (9,4%), konstruksi (7,13%), jasa keuangan dan asuransi (6,44%) dan perdangangan ritel dan besar (5,5%). Sektor manufaktur hanya dapat tumbuh 4,84% per tahun, meskipun kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB paling tinggi di antara sektor-sektor lain, yaitu sekitar 21%.

Wahyoe juga menekankan bahwa 2018 masih akan menjadi tahun yang dibayangi ketidakpastian ekonomi global, meskipun  pertumbuhan ekonomi diprediksi meningkat. Hal ini kemudian dapat mendorong peningkatan defisit neraca transaksi berjalan, sehingga menyebabkan instabilitas makroekonomi, mengingat struktur modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi portofolio jangka pendek daripada investasi asing langsung (foreign direct investment).

Selain itu, dari sisi domestik, pertumbuhan utang luar negeri dari pemerintah juga menunjukkan tren peningkatan. Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mencapai posisi tertinggi, yaitu 46% selama 2015-2017, disusul oleh utang luar negeri sektor swasta selain institusi keuangan (36%) di periode yang sama.

Peningkatan utang luar negeri oleh pemerintah mempunyai dua implikasi penting. Di satu sisi, ruang fiskal akan meningkat, sehingga mendorong belanja pemerintah, misalnya untuk infrastruktur dan sektor produktif lainnya, sehingga mendorong investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi (efek “crowding-in”). Namun di sisi lain, peningkatan utang luar negeri pemerintah dapat meningkatkan suku bunga, sehingga menghambat investasi sektor swasta (efek “crowding-out”).

Wahyoe kemudian menekankan urgensi menjaga momentum investasi produktif agar efek “crowding-in” dapat lebih mendominasi seiring peningkatan utang luar negeri pemerintah. “Paling tidak ada dua manfaat yang mampu dihasilkan dengan peningkatkan investasi produktif. Pertama, memperkuat tingkat tabungan masyarakat, sehinga dapat memperkuat stabilitas makroekonomi karena defisit neraca transaksi berjalan terkendali. Kedua, investasi produktif memperkuat lanskap untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal, yaitu setidaknya di 5,9% untuk Indonesia berdasarkan hukum Okun”, Wahyoe menambahkan.

Pada dasarnya, prospek pemulihan ekonomi global pada 2017 dan 2018 memberikan  peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Di satu sisi, kenaikan harga komoditas di tingkat global, serta pertumbuhan ekonomi global yang membaik akan meningkatkan potensi ekspor bagi Indonesia. Kenaikan ekspor akan mendorong potensi pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi dapat menyebabkan meningkatnya instabilitas makroekonomi akibat defisit neraca transaksi berjalan, jika pertumbuhan ekonomi tidak mendorong naiknya tabungan domestik dan pendapatan pajak.

Sementara itu, Ali Setiawan, Head of Global Markets PT Bank HSBC Indonesia, mengatakan, meski bisa dilihat dari intermediasi kredit yang belum maksimal menunjukan siklus pemulihan yang masih lambat, kita dapat melihat fundamental ekonomi telah membaik, terutama di bidang export dan ekspektasi peningkatan belanja pemerintah untuk social welfare. Untuk itu, diperlukan beberapa dukungan kebijakan lebih lanjut untuk mewujudkan potensi pertumbuhan Indonesia. Kita juga dapat melihat Bank Indonesia sudah membantu sangat banyak dari sisi moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ali juga menyatakan bahwa di tahun 2018 yang merupakan tahun politik pada dasarnya akan sedikit lebih baik dibandingkan tahun 2017 mempertimbangkan dukungan belanja pemerintah dan juga private consumption yang biasanya cenderung meningkat mendekati periode Pemilu.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)