Ekspansi Tahta Coffee dengan 5 Gerai

Andreas Chang, Co-founder Tahta Coffee (ke-2 dari kanan)

Seiring dengan tumbuhnya jumlah penikmat kopi di Indonesia, kehadiran kedai kopi atau coffee shop juga kian menjamur. Pasalnya, indikator itu dianggap sebagai bisnis yang menjanjikan, sehingga banyak pebisnis yang menggelutinya, baik dengan mengusung brand lokal atau brand mancanegara.

Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh Tahta Coffee yang hadir sebagai pemain baru di Industri Food & Beverage.
Semenjak didirikan dari April 2019, Tahta Coffee memegang visi untuk mendukung perkembangan UMKM, khususnya produsen kopi di daerah. “Kami menggunakan bahan baku yang berasal dari produsen kopi lokal. Bahkan, bukan hanya kopi saja, namun semua bahan baku makanan dan minuman berasal dari UMKM di daerah," jelas Andreas Chang, Co-founder Tahta Coffee di Jakarta, pekan lalu.

Tahta Coffee didirikan sejak 10 bulan lalu. Kini, jumlah gerainya ada 5, di RS Mayapada, Bogor, Tangerang, Mayapada Tower Sudirman dan Jakarta Selatan. Investasi satu gerai membutuhkab daba Rp400 juta hingga Rp500 juta.

Dalam pembukaan Tahta Coffee di Gedung Mayapada Tower, Jalan Sudirman, juga diadakan talkshow bertajuk “Kehangatan Kopi Hidupkan UMKM, Bersama #NaikTahta”. Diskusi ini membahas seputar keunggulan kopi lokal dan upaya mensejahterakan UMKM melalui peningkatan konsumsi kopi.

Dalam talkshow ini menghadirkan Stephan Tanaja, pakar kopi / F&B Consultant dan Grace Tahir, Komisaris Tahta Coffee sebagai narasumber.

Menurut Andreas, setiap kopi yang disajikan di Tahta Coffee telah melalui proses brewing oleh barista yang telah dilatih secara intensif, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Beberapa menu andalan, yaitu Kopi-Tahta atau Kopi Susu Gula Aren, Pawpaw-Ya atau Papaya Milkshake, Es Krim Kopi, Es Krim Durian dan Matcha Tahta. Selain itu ada juga pilihan Snack tradisional seperti Cireng Tahta, Kentang Tahta dan Singkong Tahta.

Andreas mengungkapkan, Tahta Coffee mengusung konsep semi outdoor dan membidik kelompok pekerja kantoran usia dewasa muda. “Konsep yang kami pilih adalah modern dengan segmen kaum muda milenial, " dia menambahkan.

Ya, kopi telah menjadi bagian dari masyarakat. Saat ini tren minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. "Jadi sekarang ada istilah kalau belum ngopi, seperti ada yang kurang," lanjut Andreas.

Dengan mengusung tema #naikTahta, Tahta Coffee menjadikan area gerainya tidak hanya untuk tempat nongkrong casual, namun menjadi tempat membangun relasi dan menambah wawasan ilmu dengan diadakannya sharing session bersama pakar dari beragam industri. “Coffee Shop ini bukan hanya memfasilitasi penikmat kopi saja, tapi juga merupakan ruang untuk berkumpul dan sharing untuk berbagai komunitas," ujar Andreas.

Beragam acara Sharing Session pun pernah diadakan Tahta Coffee dengan menghadirkan pakar. Di antaranyaWilliam Wongso, pakar kuliner Indonesia; Dwina M Putri, Founder MauBelajarApa; Bisma Adi Putra, F&B Consultant serta lainnya.

Andreas berharap Tahtha Coffee ini bisa menjadi tempat berkumpulnya para penikmat kopi hingga aneka komunitas sehingga bisa menciptakan ekosistem yang bagus. “Melalui acara yang nantinya akan kami selenggarakan, saya berharap Tahta Coffee dapat menjadi wadah berkumpulnya komunitas untuk berkarya, berkreativitas serta menciptakan aktifitas yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar," ujar Andreas berharap. Dia ingin omset kedai kopinya melonjak 3 kali lipat.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)