Ekspor Indonesia 2017 Lampaui Target 17,2%

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah) saat konferensi pers kinerja perdagangan 2017 dan outlook 2018, (4/1). (foto: Jeihan Kahfi/SWA)

Kementerian Perdagangan mencatatkan capaian kinerja ekspor 2017 melampaui target. Hingga November 2017, total ekspor mencapai US$170,30 miliar yang terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 15,50 miliar dan ekspor non migas US$ 154,80 miliar. Total ekspor tersebut meningkat dari tahun 2016 sebesar US$ 145,2 miliar.

Ekspor non migas pada Januari-November 2017 (YoY) tumbuh sebesar 17,20% dan merupakan pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2012. Sementara itu, ekspor pada tahun 2018 ditargetkan tumbuh sebesar 5-7%.

Untuk meningkatkan kinerja ekspor, selain menyasar pasar tradisional seperti China, Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa, Kemendag terus melakukan penetrasi pasar ekspor ke negara-negara non tradisional. Kemendag secara serius meningkatkan perdagangan di kawasan Afrika dengan Afrika Selatan, Nigeria, dan Mesir, salah satunya dengan melakukan misi dagang.

Sedangkan di kawasan Amerika Latin, Kemendag masuk melalui Chile dengan menyelesaikan Kesepakatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Chile (IC CEPA) dan misi dagang. Pada misi dagang di kawasan Afrika dan Amerika Latin tersebut, Kemendag sukses menghasilkan total transaksi sebesar US$ 3,6 miliar.

“Selama ini kita terlambat membuka pintu perdagangan dengan berbagai negara di dunia. Dalam kurun waktu 10 tahun terjadi stagnasi, dan baru pada akhir 2017 Indonesia menandatangani perjanjian dengan Chile. Chili adalah pasar baru dan merupakan anggota pacific alliance yang terdiri dari Chile, Peru, Mexico dan Kolombia. Jadi sekali masuk ke Chile, maka bisa dijadikan hub untuk ekspor ke negara-negara tersebut,” ujar Enggartiasto Lukita dalam konferensi pers kinerja perdagangan 2017 dan outlook 2018, di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta hari ini (4/1/2017).

Perundingan perdagangan internasional tahun 2016 juga telah mencatatkan beberapa capaian. Keempat perundingan regional tersebut adalah ASEAN-Hong Kong Free Trade Agreement (FTA), ASEAN-Hong Kong Investment Agreement, Protokol Perubahan Persetujuan ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP), dan Protokol Amandemen ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA).

Dalam lingkup kerja sama bilateral, perundingan yang telah selesai adalah lndonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan perjanjian perdagangan Indonesia Palestina. lndonesia-Chile CEPA menghapus bea masuk ke Chile menjadi 0% untuk 7.669 pos tarif Chile. Jumlah ini mencakup 94,5% nilai ekspor Indonesia ke Chile tahun 2016. Chile juga memberi pengurangan tarif hingga 50% terhadap 199 produk lndonesia lainnya.

Indonesia dan Palestina juga telah menandatangani nota kesepahaman berupa penerapan bea masuk sebesar 0% bagi kedua negara. Penerapan bea masuk 0% untuk produk Palestina dimulai dengan kurma dan minyak zaitun. Di sisi lain, Palestina akan menyerahkan daftar produk-produk yang perlu diimpor dari Indonesia dan Palestina akan menerapkan bea masuk yang sama sebesar 0%.

“Presiden Jokowi memerintahkan segera membuka akses perdagangan dengan Palestina tanpa ada studi. Ini merupakan dukungan ekonomi dan dukungan politik yang kita lakukan,” ungkap Enggartiasto.

Indonesia akan kembali melanjutkan enam perundingan di tahun 2018. Perundingan-perundingan tersebut adalah antara lain lndonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-European Free Trade Association FTA, lndonesia-European Union CEPA, Indonesia lran Preferential Trade Agreement (PTA), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan lndonesia-Malaysia Border Trade Agreement.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

 

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)