Ekspor Kulit Budi Makmur yang Mendunia

Presiden Direktur PT Budi Makmur Jaya Murni, Sutanto Haryono.

 

Bisnis yang dirintisnya menjadi pionir usaha penyamakan kulit di Yogyakarta. Bisnis PT Budi Makmur Jaya Murni dimulai tahun 1966 saat Jogja menjadi sentra kulit selain Garut dan Magetan. Bisnisnya adalah memproses kulit mentah menjadi bentuk kulit jadi atau finish leather yang siap dijadikan bahan untuk sepatu, jaket, dan tas.

PT Budi Makmur Jaya Murni (Budi Makmur) memproduksi kulit untuk sarung tangan olahraga (golf). Di tahun 1980-an Budi Makmur berkembang memasok kulit untuk kebutuhan sepatu dan jaket yang kini menjadi segmen dominannya. Menurut Presiden Direktur PT Budi Makmur Jaya Murni, Sutanto Haryono, pasar ekspor yang ditujunya adalah negara-negara yang memiliki banyak pabrikan untuk membuat sarung tangan dan sepatu. “Pasar utama kami adalah Vietnam dan China. Saat ini merambah ke negara-negara seperti Cambodia, Myanmar, dan Bangladesh. Asia menjadi pasar yang kompetitif untuk usaha yang membutuhkan bahn kulit,” ungkapnya.

Bumi Makmur memliki produk andalan ekspornya yaitu kulit jadi yang telah melalui proses warna dan samak, serta telah siap untuk dijadikan barang jadi. Tujuan ekspornya antara lain, Vietnam, Myanmar, Syiria, Irak, Iran, Eropa, dan Australia. “Untuk nilai ekspor di tahun 2015 sebesar US$3 juta dan tahun 2016 mengalami penurunan di angka US$2,6 juta. Untuk target 2017 kami menargetkan naik 5%. Penurunan ini salah satunya disebabkan karena lesunya ekonomi Eropa yang sedikit banyak mempengaruhi aktivitas, terutama segmen olahraga, golf,” ungkapnya. Diversifikasi pasar dilakukan dengan masuk ke pasar baru, seperti Australia, Timur Tengah.

Tendensi Budi Makmur untuk menjalankan green product agar lebih ramah lingkungan diwujudkan untuk mengikuti tren yang ada. Upaya ini dilakukan untuk mengikuti tren masyarakat Eropa dan US untuk menggarap segmen baru disana. “Saat ini, produk wajib dianalisis oleh laboratorium pihak ketiga yang sudah diakui secara internasional untuk mengatisipasi kandungan suatu zat yang berbahaya. Untuk pengolahan limbah, kami telah memiliki ISO 14000 yaitu sertifikat lingkungan yang berstandar global,” ungkapnya. Upaya untuk untuk menjadi green company juga menjadi salah satu syarat kerjasama dengan brand luar negeri seperti Nike dan Adidas.

Ekspor Budi Makmur adalah bahan setengah jadi untuk pasar Myanmar dan Vietnam. Mayoritas dari produksi adalah 80% dalam bentuk kulit dan 20% produk sarung tangan jadi. Untuk pesaing ekspor terbesar yang menjadi pesaing berasal dari India dan Pakistan. Di Asia, Budi Makmur cukup baik, masuk ke dalam 3 besar. Memang posisinya masih dibawah India dan Pakistan. Menurut Sutanto, mereka memiliki industri yang baik karena pemerintahnya memberikan insentif kepada para eksportir. ”India memberikan insentif ekspor sebesar 4% kepada eksportir. Indonesia sendiri belum ada inisiatif dari pemerintah untuk memberikan insentif bagi eksportirnya,” ceritanya.

Harapan kedepan, ada kemudahan dari pemerintah untuk kepentingan ekspor produk Indonesia, bahan baku, dan subsidi atau anggaran yang membantu eksportir untuk mendapat kesempatan mengikuti pameran tertentu. “Pameran sangat diperlukan karena melalui pameran dapat menjaring agen dan distributor. Selain itu, kami juga sedang melebarkan sayap ke lini online,” ujarnya.

 

Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)