Ekspor Pupuk Kotoran Kelelawar Lambungkan Nama LMS

Penghargaan Primaniyarta 2017 diberikan kepada perusahaan yang giat melakukan ekspor.

Menjadi eksportir bidang manufaktur produk holtikultura organik, PT Laksmana Mulia Sentosa (LMS) melakukan penjualan natural organiz fertilizer dan dry leaves. LMS didirikan oleh Raymond Laksmana  tahun 1999 dengan sub divisi bernama Indo Java Organic yang memproduksi dan mengekspor sederet produk pupuk alami dan organik. Pada  gelaran Primaniyarta Award 2017, LMS berhasil menerima penghargaan untuk Kategori Eksportir Potensi Unggulan.

Produk-produk asala Indo Java Organic antara lain pupuk organik yang berasal dari kotoran kelelawar, endapan gunung berapi dan daun jati kering. Pendekatan ramah lingkungan dan berkelanjutan memang diterapkan dalam setiap produksinya yang berguna untuk pengelolaan tanah dan pemupukan tanaman. “Produk kami digunakan untuk perkebunan, penanam komersial, dan pembibitan, baik konvensional maupun organik yang menginginkan alternatif eco-friendly untuk pupuk kimia tradisional,” jelas Raymond Laksmana, Direktur Utama & Founder PT Laksmana Mulia Sentosa

Alasan menggunakan kotoran kelelawar diambil LMS karena mengandung sejumlah unsur yang sangat baik untuk tanah. Bahan ini telah digunakan selama berabad-abad di Amerika Selatan dan Kepulauan Pasifik. Raymond sempat mengunjungi University of Perth, Australia untuk mempelajari lebih lanjut mengenai penggunaan kotoran kelelawar sebagai bahan pupuk. Kemudahan kelelawar yang bebas untuk mencari makanan juga menjadi efisiensi dalam produksi. Sementara sapi dan ayam sudah terkena antiobiotik hormon yang berpengaruh pada kotorannya.

Terdapat tujuh varian produk LMS, yaitu Nitro Bat Guano, Natural Bat Guano, Fermented Teak Leaves, Volcanic Akadama, Volcanic Mineral, Volcanic Rock Dust, dan Volcanic Supreme Growing Media. “Untuk Nitro Bat Guano telah memperoleh sertifikat OMRI (Organic Materials Review Institute) dan listed products di Amerika Serikat,” ujarnya

Adapula pupuk daun jati yang penuh dengan nutrisi menyehatkan untuk organisme tanah dan hasil endapan gunung berapi di Pulau Jawa yang mampu mempercepat proses fotosintesis untuk melengkapi unsur mineral dalam sayur dan buah. “Produk-produk kami diterima di pasar luar negeri karena tren kesehatan melalui makanan yang sehat, sayuran dan buah-buahan yang ditanam secara organik, pemakaian pestisida organik adalah prospek gaya hidup yang telah mendunia,” tambah Raymond.

Produk LMS telah tersertifikasi organik di negara tujuan dan mengantongi sertifikasi NKV (Nomor Kontrol Veteriner) untuk memenuhi persyaratan higienis dan sanitasi yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian. “Kami mulai merambah pasar ekspor sejak tahun 2012. Saat itu yang berhasil dikembangkan hanya 1 produk dan secara berkala menjadi 7 produk dalam waktu 5 tahun,” ungkapnya. Pertumbuhan nilai ekspornya meningkat sebesar 70% dalam 5 tahun terakhir dengan negara tujuan ekspor Jepang, Korea Selatan, Spanyol, dan Amerika Serikat sejak tahun 2015. Tercatat nilai ekspor LMS pada tahun 2014 sebesar US$72,000, 2015 senilai US$183,500, dan tahun 2016 sebesar US$347,400.

Menangkap peluang bisnis bagi produknya untuk bisa diterima market, LMS mengembangkan digital marketing dan mengunjungi negera tujuan ekspor. Hal ini dilakukan karena kebutuhan dari satu negara dengan negara lain bisa berbeda. Lewat proses produk yang sama namun bisa diaplikasikan secara berbeda. “Mengikuti pameran dan memasarkan lewat e-commerce seperti Alibaba.com, Indo-organic.com, Laksmanagroup.com dan marketing konvensional secara B2B juga dikerjakan,” jelasnya.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)