Farmer2Farmer Berbagi Ilmu dari Peternak Belanda kepada Indonesia

Produksi susu nasional Indonesia bisa dibilang masih belum memenuhi standar baik dari kualitas mau pun kuantitas. Kebutuhan susu nasional ada di angka 4,5 juta ton, tapi produksi lokal baru mencapai 864,6 ribu ton atau sekitar 19 persen dari kebutuhan nasional.

Berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan peternak dan keberlanjutan industri susu nasional, Frisian Flag Indonesia (FFI) tetap melanjutkan program Farmer2Farmer dengan mengirim empat peternak Indonesia untuk belajar tentang Good Dairy Farming Practices langsung ke Belanda.

“Ada begitu banyak yang harus dilakukan untuk memenuhi standar produksi susu nasional baik dari kualitas mau pun kuantitas. Namun kami yakin, langkah-langkah yang diambil ini merupakan investasi dalam sistem pangan yang berkelanjutan,’ Fetti Fadliah, PR Manager Frisian Flag Indonesia, memaparkan.

Lewat program Farmer2Farmer setidaknya ada tiga aspek yang akan terpenuhi, yaitu peternak sejahtera, pemenuhan bahan baku industri pengolahan susu, dan konsumsi susu segar terpenuhi.

Usaha peternakan sapi perah di Indonesia umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional dan skala kecil dengan jumlah ternak kurang dari sepuluh ekor. Manajemen kandang serta sistem pemeliharaan yang dilakukan pun masih jauh dari standar “Good Farming Practices For Animal Production Food Safety” yang ditetapkan oleh FAO.

Sebagian besar usaha peternakan di Indonesia masih belum memperhatikan manajemen pemeliharaan secara umum, mengabaikan pengendalian kesehatan hewan, kondisi biologi dan veteriner hewan, pemberian pakan dan air minum, lingkungan dan infrastruktur serta penanganan produk yang dihasilkan.

Rendahnya angka produksi dan konsumsi susu ini menunjukkan masih besarnya potensi, baik potensi pasar bagi industri pengolahan susu di Indonesia maupun potensi pengembangan usaha untuk para peternak Indonesia. Potensi inilah yang coba dikembangkan melalui program Farmer2Farmer ini.

Kompetisi Farmer2Farmer 2019 merupakan bagian dari program Farmer2Farmer dari FFI. Program berkelanjutan ini bernaung di bawah Dairy Development Program oleh perusahaan induk, FrieslandCampina. Pada 2019 merupakan tahun ke-7 dari implementasi program Farmer2Farmer.

Secara nasional, kompetisi ini dimulai dari awal tahun dengan melibatkan para peternak sapi perah lokal yang berasal dari empat koperasi peternak sapi perah di Jawa Barat dan Jawa Timur, yaitu Koperasi Peternakan Sapi Bandung Selatan pangalengan dan Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara Lembang di Jawa Barat, Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur dan Koperasi Bangun Lestari di Jawa Timur.

Setelah melakukan proses seleksi secara intens, sejumlah 110 peternak sapi perah terpilih untuk mengikuti kompetisi dan telah melalui proses penilaian sejak Februari 2019. Jumlah ini lalu mengecil menjadi 4 peternak yang hasilnya diumumkan pada April lalu. Peternak-peternak ini berhak mengikuti pelatihan GDFP yang berisi keterampilan teknis dan non teknis terkait dengan peternak sapi perah di Belanda.

“Kami berpegang pada keahlian dan pengetahuan yang dikembangkan lebih dari 140 tahun dalam bidang susu. Pengetahuan ini sekarang juga dibagi secara luas melalui transfer pengetahuan seperti yang dilakukan dalam Program Farmer2Farmer,” kata Tino Nurhadianto, Fresh Milk QA/QC Manager Frisian Flag Indonesia.

Tahun ini merupakan ke-2 kalinya para pemenang dikirim ke Belanda untuk belajar GDFP. Selama di Belanda, peternak diajarkan pengetahuan dan keterampilan serta penerapan aspek teknis beternak yang dimiliki oleh seorang peternak. Standar penilaian keberhasilan usaha peternakan sapi perah menurut FAO terdiri dari beberapa aspek teknis antara lain: aspek pembibitan dan reproduksi, pakan dan air minum, pengelolaan, kandang dan peralatan, kesehatan dan kesejaahteraan ternak.

“Salah satu masalah utama yang sering kami temui di lapangan adalah pemberian pakan sapi oleh peternak lokal. Masalah lainnya adalah lahan, lewat F2F kami ingin memaksimalkan produksi setiap sapi laktasi. Jika dilakukan dengan benar, meski pun jumlah sapi yang dimiliki hanya 10 ekor, tetap bisa menghasilkan keuntungan yang maksimal,” ujar Tino

Para peternak juga diajarkan untuk melakukan seleksi pada ternaknya. Para peternak umumnya melakukan seleksi ternak berdasarkan produksi susu. Ternak dengan produksi susu yang rendah akan dikeluarkan dari peternakan sehingga total produksi susu dapat terjaga dan pendapatan ternak tidak menurun.

Produksi susu sangat berkorelasi dengan biaya produksi pada usaha peternakan sapi perah dan akan berdampak pada pendapatan peternak. Produksi susu ditentukan oleh variasi jumlah pakan, jumlah air minum, umur ternak, luas kandang, interval pemerahan, lingkungan, periode laktasi, bulan laktasi, sapi laktasi dan struktur populasi sapi perah akan masa kosong, kecukupan mempengaruhi pakan.

“Kami berharap penerapan GDFP ini bisa lebih luas sekembalinya ke Indonesia. Kami belajar betapa pentingnya untuk terus meningkatkan bisnis kami baik melalui teknologi baru atau praktik manajemen yang diperbarui,” ungkap Nenih, peternak sapi asal Lembang.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)