Festival Filantrop Muda 2019 Targetkan 10.000 Pengunjung

Hety A. Nurcahyarini, Ketua Panitia ‘NEXT GENEROUSion dan Hamid Abidin, Direktur Filantropi Indonesia. (Foto: Vina Anggita)

Filantropi Indonesia (Fl) memberi warna baru pada peringatan Sumpah Pemuda tahun 2019. Kali ini FI mencoba mendorong dan memfasilitasi anak muda Indonesia untuk lebih peduli dan terlibat dalam berbagal inisiatif sosial melalui ‘Next Generousion’ - Festival Filantrop Muda 2019. Festival ini akan menampilkan dan mempromosikan beragam kegiatan filantropi dan inisiatif sosial anak muda dalam mengatasi berbagai persoalan sosial.

Hamid Abidin, Direktur Filantropi Indonesia, mengungkapkan, festival ini sengaja digelar untuk memfasilitasi sekaligus mempromosikan berbagai kegiatan filantropi anak muda yang tengah marak dan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Anak muda, khususnya kaum milenial, mulai menjadikan kegiatan filantropi sebagai gaya hidup dengan mendirikan yayasan atau komunitas untuk mengembangkan berbagai program/inisiatif sosial yang menjadi minat atau perhatiannya. Sebagian lainnya, menjadi pendukung, relawan (volunteer), donatur, dan influencer di berbagai organisasi sosial.

Berbeda dengan kegiatan filantropi generasi sebelumnya, kata Hamid, inisiatif sosial kemanusiaan yang dilakukan kaum muda ini umumnya dilakukan dengan melibatkan komunitas serta memanfaatkan teknologi informasi dan budaya pop. Selain menaruh perhatian pada penajaman dan kedalaman isu, para filantrop muda yang berlatar belakang entrepreneur, ahli IT, pekerja seni, dan pegiat sosial ini juga berusaha untuk mengemas program filantropi agar terlihat lebih popular, menyenangkan, serta mengandung aspek pemberdayaan ekonomi.

"Filantropi tidak lagi identik dengan orang tua, kaya raya, atau pun pensiun yang kemudian membuat yayasan. Namun, saat ini mulai marak anak muda yang terlibat dalam filantropi. Sebagian besar dari mereka terlibat melalui komunitas-komunitas dan platform digital. Menariknya anak muda ini mengkombinasikan kegiatan filantropi dengan kegiatan seni atau hiburan sehingga tidak kaku," ujar Hamid di Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Hamid menyebut, peran dan keterlibatan anak muda, khususnya kaum milenial, dalam kegiatan filantropi perlu didorong lantaran mereka berpotensi menjadi filantrop di masa depan. Potensi ini perlu digarap mengingat 60% profil demografis Indonesia adalah kaum muda di bawah 30 tahun, dengan total pendapatan tahunan mereka diperkirakan mencapal US$ 38,2 millar.

"Di era digital saat ini ada perubahan pola perilaku menyumbang dari masyarakat. Dulu masyarakat masih menyumbang melalui kotak amal atau transfer, saat ini sudah bergeser melalui uang digital atau QR Code. Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong anak muda untuk lebih serius lagi dalam kegiatan filantropi, sekaligus mengedukasi masyarakat untuk mulai menggunakan platform digital (payment gateway) untuk sumbangan," tambahnya.

Festival yang mengusung tema ”Muda, Peduli, Memberi Solusi” ini akan akan digelar pada 2-3 November 2019 di Epiwalk Kuningan, Jakarta, yang diikuti oleh komunitas filantropi anak muda, yayasan/organisasi filantropi, organisasi nirlaba, dan perusahaan yang mendukung inisiatif sosial anak muda. Beragam aktivitas akan disajikan, seperti: Selasar Filantrop Muda (pameran/marketplace), Panggung lnspirasi Filantropi, Bedah Aksi dan Solusi, Digital Fundraising Campaign, Pojok Donasi, School Social Project Competition, Young Social Business Innovator Competition, dan Pemberian Penghargaan untuk Filantrop Muda Indonesia.

Acara pembukaan festival ini juga akan diisi dengan peluncuran PEDOELI Indonesia (Pekan Donasi Online Indonesia), sebuah program kampanye dan aksi penggalangan donasi online nasional. Program kampanye ini digelar bekerja sama dengan Go-Pay dan melibatkan berbagai lembaga filantropi, perusahaan, dan publik untuk membantu mengatasi masalah sosial di Indonesia. Pengunjung juga bisa melakukan aksi atau praktik filantropi dengan menyumbang melalui QRCode donasi yang disediakan di masing-masing booth organisasi. Tidak hanya berbentuk uang, pengunjung juga bisa memberi donasi dalam bentuk in-kind, seperti buku, makanan, barang pre-Ioved, peralatan ibadah, dan kacamata melalui booth Pojok Donasi di area festival.

”Kita ingin mengedukasi masyarakat bahwa menyumbang bisa dilakukan dengan beragam bentuk dan cara. Menyumbang juga bisa dilakukan secara mudah dengan memanfaatkan platform pembayaran digital yang sekarang populer di masyarakat. Selain itu, kita ingin menginspirasi bahwa semua orang bisa menjadi seorang filantrop tanpa menunggu tua dan kaya,” kata Hety A. Nurcahyarini, Ketua Panitia ‘Next Generousion’ - Festival Filantrop Muda 2019 .

Namun, kata Hamid, pihaknya tidak menargetkan nilai donasi yang terkumpul selama festival berlangsung. Ia hanya menargetkan dalam dua hari penyelenggaraan dapat menarik hingga 10.000 pengunjung. "Festival ini baru pertama kali kami laksanakan jadi tidak ada target nilai donasi yang terkumpul. Ke depan kami akan laksanakan festival ini secara rutin berselang setahun dengan Filantropi Indonesia Festival," tuturnya.

Festival juga diharapkan menjadi sarana pendidikan karakter dengan tujuan menumbuhkan kepedulian, kepekaan sosial dan kedermawanan di kalangan anak muda, khususnya pelajar dan mahasiswa. Karena itu, festival juga memfasilitasi kalangan pelajar dan mahasiswa untuk hadir melalui program Philanthropy Learning Tour.

“Kami juga menyelenggarakan School Social Project Competition atau kompetisi proyek sosial antarpelajar SD, SMP dan SMA untuk mengasah kepekaan dan kepedulian mereka terhadap persoalan di sekitarnya, serta mendorong mereka punya inisiatif sosial sejak dini, serta Young Social Business Innovator Competition, sebuah kompetisi ide bisnis sosial untuk mengatasi permasalahan sosial di sekitar," ungkapnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)