Fitur PopVoice Gen Z Bantu Pelaku Usaha Memahami Pasar

Gen Z memiliki pengaruh dalam keputusan membeli dalam keluarga (Foto: Eva/Swa)

PT Populix Informasi Technologi, penyedia aplikasi riset pasar berbasis digital di Indonesia melansir fitur baru bernama PopVoice Gen Z. Peluncuran ini dilakukan secara virtual dengan  tema ‘PopVoice Gen Z Keys to Unlock the Future Generation of Indonesian Consumers’ menandai bentuk komitmen Populix dalam mendukung para kliennya, yaitu pelaku usaha baik lokal mapun mancanegara, untuk mengembangkan bisnisnya, khususnya pada kelompok Gen Z.

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020 yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) awal tahun ini, memberikan gambaran demografi Indonesia yang menunjukkan bahwa  jumlah penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh Generasi Z, yaitu generasi yang lahir setelah tahun 1994. Dari hasil survei sepanjang Februari-September 2020 itu didapati jumlah Generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen dari total populasi berjumlah 270,2 juta jiwa (27,9%).

Kelompok Generasi Z yang akrab disebut digital native, yaitu generasi yang lahir dan tumbuh berkembang dalam era digital, diprediksi  akan memiliki daya beli yang signifikan di Indonesia.  Nielsen Consumer & Media View (Kuartal II/2016) menemukan bahwa Gen Z memiliki pengaruh dalam keputusan membeli dalam keluarga. Menyadari akan hal tersebut, Populix menghadirkan PopVoice Gen Z, yaitu studi berkelanjutan, yang memberikan insight tentang perilaku Gen Z dalam menggunakan internet, media sosial dan juga konsumsi sehari-hari serta tren yang terjadi di kalangan Gen Z di Indonesia.

Timothy Astandu, CEO Populix mengatakan, saat ini, generasi milenial merupakan kelompok usia yang paling aktif. Namun, masa depan brand sedang dibentuk oleh Generasi Z. Sebagai platform survei digital dengan sebaran responden di lebih dari 300 kota di Indonesia, Populix percaya akan potensi besar Generasi Z. Kehadiran fitur baru ini diharapkan dapat membantu para pelaku usaha  memahami tren, preferensi dan perilaku Gen Z sehingga dapat merencakan strategi bisnisnya secara tepat dan berkelanjutan.

Menurutnya, studi PopVoice Gen Z merupakan solusi yang game-changer untuk memastikan pamasaran dan strategi para pelaku usaha  berjalan baik, karena didasarkan pada insight dan data yang benar tentang kebiasaan dan pendapat dari Gen Z di Indonesia. Studi ini setiap bulannya akan menanyakan lima modul utama yang mencakup: perilaku online (termasuk medsos, online financial services dan e-commerce), konsumsi media (offline maupun online), konsumsi terhadap produk FMCG dan non FMCG, tren dan topik yang sedang hangat diperbicangkan, serta psikografis atau analisa persona yang akan sangat membantu dalam mengarahkan produk ke arah yang tepat.

“Untuk menjaga kualitas dan representatif data, studi ini melibatkan 2.000 generasi Z yang representative (dari segi keterwakilan usia, status ekonomi dan wilayah) yang ada di kota-kota besar di Indonesia, juga mewakili perilaku mereka sebagai The Future of Consumer. Dengan range yang luas, memungkinkan pelaku usaha bisa mendapatkan insight yang diharapkan,” tambah Timothy lagi secara daring (11/11/2021).

Salah satu hal yang ditemukan dalam studi Populix adalah Gen Z lebih sosial dibanding generasi sebelumnya dan memiliki kebiasaan untuk selalu terkoneksi melalui telepon genggamnya. Maka dari itu, agar tetap dianggap relevan bagi Gen Z, penting bagi pelaku bisnis untuk selalu terhubung dengan para konsumennya baik dalam format online maupun offline.

Hal menarik lainnya bahwa preferensi Gen Z akan tokoh yang dijadikan sebagai role model atau panutan di media. Bagi Gen Z perempuan, panutan utama yang diidolakan biasanya dianggap memiliki kecerdasan dan tidak memiliki banyak permasalahan atau skandal seperti Najwa Shihab dan Maudy Ayunda. Lain halnya dengan Gen Z laki-laki, mereka cenderung memilih tokoh panutannya berdasarkan ketertarikan mereka terhadap  bidang maupun hobi tertentu seperti pemain sepak bola Cristiano Ronaldo.

Acara peluncuran yang dikemas dalam bentuk talkshow ini juga menghadirkan tiga narasumber yang mewakili pelaku usaha yaitu Muhammad Pandu, Brand Manager dari Bank Jago; Maika Randini, General Manager Marketing Timezone; dan Dave Ependi, Head of Brand & Communications dari Kopi Kenangan. 

“Tak dapat dipungkiri bahwa kelompok generasi yang sangat dekat dengan digital ini adalah masa depan bisnis. Kopi Kenangan menggunakan fasilitas survei digital dalam mendukung pengembangan bisnis kami untuk memahami trend dan perilaku generasi Z. Berbagai kegiatan marketing kami pun menjadi semakin tepat guna dan dekat dengan Gen-Z dengan adanya pemahaman yang mendalam terkait trend dan perilaku mereka,” kata Dave.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)