Flexible Work akan Tetap Ada Meski Pandemi Selesai | SWA.co.id

Flexible Work akan Tetap Ada Meski Pandemi Selesai

Bekerja dari jarak jauh (hybrid) menjadi sebuah fenomena umum yang dilakukan pekerja kantor di saat pandemi. Namun, seiring dengan mulai melandainya pandemi Covid-19, pilihan kembali bekerja di kantor atau tetap bekerja dari rumah menjadi polemik bagi perusahaan.

Untuk membantu organisasi menghadapi itu, Microsoft 365 dan LinkedIn melakukan survei kepada lebih dari 30 ribu orang di 31 negara. Laporan bertajuk '2021 Work Trend Index: The Next Great Disruption is Hybrid Work-Are We Ready? ini mengungkapkan bahwa sistem bekerja fleksibel akan tetap ada, di mana 70% dari pekerja menginginkan flexible remote work akan tetap berlanjut meski pandemi selesai. Sementara lebih dari 65% mendambakan lebih banyak waktu tatap muka dengan tim mereka.

"Hybrid work is actually blended work, is blended model di mana beberapa karyawan kembali ke tempat kerja dan yang lainnya terus bekerja dari rumah," ujar Ann Ann Low, Senior Director, Talent Development LinkedIn Asia dalam webinar Indonesia Best Companies in Creating Leaders from Within yang diselenggarakan oleh SWA, Kamis (16/12/2021).

Untuk mempersiapkannya, dalam survei terungkap bahwa 66% pengambil keputusan bisnis sedang mempertimbangkan mendesain ulang ruang fisik untuk mengakomodasi lingkungan kerja hybrid dengan lebih baik.

CEO Microsoft, Satya Nadella dalam laporan menyebut, harapan karyawan berubah dan kita perlu mendefinisikan produktivitas secara lebih luas, termasuk kolaborasi, pembelajaran, dan kesejahteraan untuk mendorong kemajuan karier bagi setiap pekerja. Baik itu pekerja berpengalaman atau lulusan baru. Semua ini perlu dilakukan dengan fleksibilitas kapan, di mana, dan bagaimana orang bekerja.

Tren yang juga terungkap dalam survei bahwa produktivitas tinggi berdampak pada meningkatnya kelelahan bekerja. Intensitas digital harian pekerja telah meningkat secara substansial dengan jumlah rata-rata pertemuan dan obrolan terus bertambah sejak tahun lalu.

"Banyak karyawan yang bekerja dari siang hingga malam. It's seamless, kita bisa melakukan panggilan kemudian pindah dengan mudah ke rapat zoom. Dampaknya, waktu yang dihabiskan untuk rapat dan obrolan yang dikirim per orang setiap minggu terus meningkat. Meeting menjadi lebih panjang, lebih banyak email yang harus dikirim, lebih banyak chat, dan kita banyak sharing dokumen kantor," lanjut Ann.

Rentetan komunikasi yang tidak terstruktur ini, sebagian besar tidak terencana dan membuat para pekerja merasa seolah adanya tekanan untuk mengikutinya. Ini membuktikan intensitas hari kerja karyawan selama ini meningkat secara signifikan sehingga kelebihan beban digital itu nyata dan terus meningkat.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa Gen Z berisiko mengalami kesulitan dan membutuhkan penyegaran energi kembali. Generasi baru berkontribusi cukup penting dalam dunia kerja, yaitu menawarkan perspektif baru. Sayangnya, berdasarkan hasil survei, diketahui 60% dari mereka yang berusia antara 18-25 tahun mengatakan bahwa mereka hanya bertahan hidup atau berjuang keras saat ini.

Responden survei melaporkan bahwa mereka cenderung berjuang untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan dan merasa lelah setelah seharian bekerja jika dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Gen Z juga melaporkan kesulitan merasa terlibat atau bersemangat akan pekerjaan, berbicara selama rapat, dan membawa ide-ide baru ke meja.

Terakhir, dalam survei terungkap bahwa talenta kerja ada di mana-mana dalam dunia kerja hybrid. Salah satu sisi paling positif dari peralihan ke pekerjaan jarak jauh adalah meluasnya pelamar yang beragam. Pasalnya, orang tidak lagi harus meninggalkan meja, rumah, atau komunitas untuk mengembangkan karier mereka dan hal ini secara tidak langsung akan berdampak besar pada lanskap bakat.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)