Fore Coffee Raih Pendanaan US$8,5 Juta

Saat ini, luas perkebunan kopi di Indonesia adalah yang terbesar kedua di dunia, setelah Brasil. Sayangnya, produktivitas kopi di Indonesia adalah salah satu yang mempunyai indeks produktivitas terendah di dunia, karena hanya bisa menghasilkan 520 kg/ha, lebih sedikit dibandingkan dengan Vietnam yang bisa memproduksi 2.445 kg/ha. Alhasil, menjadi pengekspor kopi nomor empat di antara negara-negara "The Bean Belt".

Untungnya, perkembangan pesat dari jumlah masyarakat kelas menengah kita melahirkan fenomena baru, yaitu meningkatnya para penikmat kopi di pasar domestik. Tahun lalu, konsumsi kopi di Indonesia mencapai 314.400 ton dengan pertumbuhan rata-rata 8,22% per tahun. Khusus untuk Fresh Coffee, pasarnya bisa mencapai US$1,5 miliar (sekitar Rp21 triliun) di tahun 2017.

Untuk mengembalikan kejayaan kopi Indonesia, terutama biji kopi Arabika untuk specialty coffee, Robin Boe, Jhoni Kusno, dan Elisa Suteja mendirikan startup on-demand specialty coffee bertajuk Fore Coffee.

Perusahaan rintisan tersebut mengumumkan telah meraih pendanaan sebesar US$8,5 juta (atau setara dengan Rp127 miliar) dari East Ventures, SMDV, Pavilion Capital, Agaeti Venture Capital, Insignia Ventures Partners, dan beberapa angel investor pada Kamis (31/1/2019).

Fore Coffee akan menggunakan dana segar ini untuk mempercepat inovasi mereka dalam memberikan online-to-offline customer experience yang berkualitas tinggi dan seamless – kopi enak, mudah ditemukan, layanan cepat, dan harga bersahabat. Selain itu, Fore Coffee juga akan berinvestasi pada mesin teknologi tinggi untuk mendapatkan kopi dengan kualitas terbaik dan meluncurkan produk-produk baru.

Robin Boe, CEO Fore Coffee, menuturkan, dalam siaran persnya, fokus dalam menghadirkan specialty coffee, Fore Coffee berniat mendorong permintaan terhadap kopi Arabica. Pihaknya memutuskan hanya menggunakan biji kopi Arabica, sehingga bisa meningkatkan pendapatan petani lokal yang mempunyai sertifikat perkebunan organik serta fair trade.

Biji kopi tersebut di-roast sendiri untuk menjaga kesegarannya, diolah secara profesional oleh para barista terlatih, dan mengantarkannya sesuai dengan pesanan konsumen. Pihaknya menggunakan berbagai teknologi, mulai dari aplikasi mobile yang kami buat sendiri, serta teknologi yang telah ada, seperti MokaPOS untuk memantau pembayaran, Member.id untuk loyalty platform, serta Gofood, GrabFood, dan TravelokaEats sebagai platform distribusi.

Visi perseroan untuk menjadikan Fore Coffee sebagai pemain penting yang bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kopi berkualitas tinggi nomor satu di dunia. Berbeda dengan pemain lain, pihaknya tidak melihat kopi sebagai tren minuman yang hanya bersifat sementara. "Namun, sebagai sebuah komoditas penting yang bisa mendorong ekonomi domestik dan bisa dinikmati sebagai gaya hidup masyarakat Indonesia untuk jangka panjang,” ujar Elisa Suteja, Co-founder Fore Coffee.

Willson Cuaca, Managing Partner East Ventures, mengungkapkan, Fore Coffee merupakan persilangan hipotesis antara industri kopi dan ekonomi digital di Indonesia. Pihaknya terus bertanya kepada diri sendiri bagaimana caranya memperbaiki rantai industri kopi di Indonesia dalam konteks ekonomi digital di zaman sekarang.

Fore Coffee adalah jenis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) baru yang tidak akan bisa eksis di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Namun sekarang, ekosistem digital yang telah berkembang di Indonesia membuat UKM seperti Fore Coffee mendapatkan momentum.

Dalam waktu lima bulan, Fore Coffee berkembang menjadi 16 outlet, mengantarkan lebih dari 100 ribu cangkir kopi setiap bulannya. Juga, berhasil menyajikan kopi dengan harga terjangkau untuk seluruh penikmat kopi di Indonesia.

Berbicara mengenai strategi, Fore Coffee menggunakan strategi online-to-offline (O2O) yang mengintegrasikan teknologi seperti aplikasi mobile dan kehadiran toko retail. Aplikasi dibuat untuk mempermudah pelanggan dalam mendapatkan produk dan layanan yang mereka inginkan.

Dari sisi outlet, Fore Coffee mendesain beberapa outlet mereka khusus untuk melayani pemesanan secara online saja. Hal ini memungkinkan pelanggan dari berbagai lokasi bisa mendapatkan minuman yang mereka inginkan dalam waktu yang lebih cepat. Sebuah outlet Fore Coffee di wilayah Sudirman bahkan bisa melayani pesanan selama 24 jam, dan menjadi outlet kopi pertama yang mempunyai fasilitas drive-through. Pada pertengahan Januari 2019, Fore Coffee meluncurkan menu spesial bernama Rose Latte, berkolaborasi dengan Olivia Lazuardy.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)