FSC Indonesia Leadership Forum 2017 Dorong Peningkatan Responsible Business

(tengah) Indra Setia Dewi, Head of Business Development FSC Indeonesia dan Key Account Director Tetra Pak Indonesia, Mohammad Risan

Bertempat di The Ritz Carlton Hotel Jakarta, Tetra Pak Indonesia bekerja sama dengan FSC Indonesia siap menggelar FSC Indonesia Leadership Forum 2017.

Perhelatan ke-2 ini sebagai bentuk komitmen Tetra Pak, perusahaan bidang pemrosesan dan pengemasan makanan dan minuman, terus mendukung pengelolaan hutan yang bertanggung jawab. Acara ini dikemas dalam bentuk seminar talkshow dalam rangkaian payung program Indonesia FSC Week 2017.

Reza Andreanto, Evironment Manager Tetra Pak Indonesia, mengatakan, bisnis yang berperan dalam pengolahan sumber daya alam terbarukan, mempraktekkan pengelolaan sumberdaya alam yang bertanggung jawab, efisiensi sumberdaya, pelestarian, dan pendauran ulang, akan semakin berprospek di masa depan.

Survei yang dilakukan McKinsey & Company (2012), menyebutkan, terjadi peningkatan perusahaan yang menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan perusahaannya sebagai strategi untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya, meningkatkan keuntungan, dan meningkatkan peluang investasi sehingga meningkatkan kemampuan perusahaan dalam kompetisi dan pada akhirnya meningkatkan nilai perusahaan.

Penerapan atas bisnis keberlanjutan terlepas dari permintaan konsumen akan produk yang berkelanjutan. Dalam dunia bisnis kehutanan, riset yang dilakukan oleh FSC menghasilkan peningkatan jumlah perusahaan dalam daftar Fortune 500 yang menerapkan system sertifikasi FSC di dalam perusahaan (Market Info Pack, 2017).

Riset lain yang dilakukan oleh WWF Internasional (2015) terhadap terhadap 11 perusahaan yang mengukur dampak adopsi system sertifikasi FSC di dalam perusahaan menunjukkan nilai Net Present Value (NPV) yang positif dalam 6 bulan. Ini berarti investasi atas system sertifikasi FSC di dalam perusahaan berdampak positif bagi perusahaan yang mampu dicapai dalam waktu 6 tahun setelah sertifikasi FSC.
Hasil riset juga menunjukkan perolehan keuntungan finansial perusahaan setelah bersertfikat FSC yang mencapai US$6,03 per m3 kayu bulat, sehingga mampu menutupi investasi sertifikasi FSC yang mencapai US$3,74 per m3 kayu bulat.

“Bagi Tetra Pak, sertifikasi FSC penting untuk mengamankan sumber bahan baku yang berkelanjutan yang sesuai bagi strategi lingkungan. Sebab, Tetra Pak hanya menggunakan sumber bahan baku dari hutan yang berkelanjutan, dengan desain kemasan dan proses manufaktur yang efisien dan kebijakan penanganan sampah kemasan karton,” jelasnya.

Pada acara FSC Indonesia Leadership Forum 2017 kali ini mengangkat tema “Prospek Sustainable Business dalam Meningkatkan Value Perusahaan”. Tema ini sengaja diangkat untuk mendorong para perusahaan di Indonesia agar lebih aktif lagi dalam menjalankan sustainable business yang diharapkan dapat dilakukan disemua lini sektor maupun industri.

Adapaun para pembicara yang dihadirkan pada acara ini di antaranya Hartono Prabowo - FSC Indonesia Representative, Mohammad Risan - Key Account Director Tetra Pak Indonesia, Nuni Sutyoko - Senior Vice President Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Indah Budiani – Program Director Indonesia Business Council For Sustainable Development, Nur Maliki Arifiandi – GTFN & Trade Networking Coordinator WWF Indonesia, Isra Ruddin – CEO IRcomm Norton Capital, Gupta Sitorus – Founder & CEO Eskimomo.

Hartono Prabowo, FSC Indonesia Representative, mengungkapkan, sebagai organisasi non-profit global yang mempromosikan pengelolaan hutan dunia yang bertanggung jawab, penting untuk mendorong para pelaku bisnis mempertimbangkan praktek bisnis yang bertanggung jawab (responsible business).

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)