Geliat Potensi Merek Lokal Daerah

Menjadi bagian terpenting dalam sebuah produk, brand (merek) menjadi nilai yang mampu menerjemahkan produk perusahaan kepada masyarakat luas. Brand dibangun dengan waktu yang tidak cepat dan membutuhkan nilai-nilai serta kepercayaan masyarakat sebagai konsumen, tak melihat merek tersebut dari daerah, nasional atau internasional. Kekuatan sebuah brand menurut pengamat marketing sekaligus CEO Arrbey, Handito Joewono, ada lima pokok yaitu brand awareness, brand knowledge, brand image, brand preference, dan brand admire.

“Jika brand tersebut masih di level brand awareness, brand knowledge, dan brand image, maka brand tersebut belum bisa dikatakan kuat. Jika mereka sudah masuk ke level brand preference dan brand admire, maka merek tersebut baik daerah, nasional, atau internasional sudah kuat. Pengelompokan tersebut hanya tergantung dari ruang lingkup pasar yang ingin mereka capai,” ungkapnya.

Level preference dan admire ada pada merek daerah seperti Bolu Meranti dan keripik balado Chritine Hakim. Mereknya yang kuat memberi kepercayaan kita jika berkunjung ke Padang dan Medan, rasanya belum pergi ke kota tersebut sebelum membeli produknya. Admirer akan dua merek tersebut terhitung banyak, hal itu memberikan kebanggaan pada pembeli saat membawa oleh-oleh makanan khas dari masing-masing daerah. “Merek-merek seperti ini memiliki potensi untuk menjadi besar sebagai merek nasional, namun tergantung dari pengusahanya. Kenapa merek daerah tidak dibawa ke nasional atau internasional? Pilihannya menurut saya ada di pilihan bisnisnya,” ujar Handito.

Beberapa merek ada yang hanya didesain untuk skala lokal karena pertimbangan permasalahan di pendaftaran mereknya. Sebuah merek jika masuk ke level merek nasional melalui beberapa persyaratan, salah satunya hak paten. Pengusaha daerah kadang tidak ingin repot dengan persoalan tersebut, hal ini yang membuat merek daerah memang hanya di desain untuk daerah saja. “Sebuah merek daerah jika memiliki ambisi menjadi merek nasional caranya adalah dengan memperbesar skala bisnisnya. Pemilik harus memiliki pemikiran tidak hanya menjadi pengusaha daerah saja, namun berkeinginan besar naik level ke pengusaha nasional,” ungkap lulusan Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini.

Lebih jauh menurut Handito, menjadikan sebuah merek ke skala nasional dan internasional memerlukan tiga kekuatan, yaitu soul of the brand, brand identity, dan brand communication. Merek yang ingin dibangun pasti telah memiliki soul of the brand, terkadang tidak perlu untuk diotak-atik lagi. Untuk brand identity perlu adanya perbaikan terkait dengan logo, nama, dan slogan. Jika merek tersebut dari lokal ke nasional mungkin butuh penyesuaian dari segi bahasanya. Paling utama adalah brand communications yang mempengaruhi cara berkomunikasi yang berbeda jika ingin berpindah level termasuk jenis media dan material promosi.

Baginya, penggantian nama brand menjadi kebarat-baratan guna penyesuaian tidak menjadi tren lagi. Nama brand yang unik memang menjadi nilai tersendiri dan dapat didaftarkan sebagai paten. Nama kebarat-baratan tidak menjadi keharusan, sebagai contoh Alibaba dan Bukalapak. “Alibaba dan Bukalapak tidak ada unsur kebarat-baratan. Nama mereka mengandung unsur timur tengah dan sangat Indonesia dan merek mereka malah terkenal. Hal ini menunjukan bahwa publik sudah bisa menerima bahkan tidak lagi memperhatikan merek yang kebarat-baratan,”dia mengakhir penjelasannya.

Reporter: Maria Hudaibyah Azzahra

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)