Geliat Restoran Indonesia di Mancanegara

Alicia Martino, Pemilik Restoran Sendok Garpu di Australia

Bukan hal mudah menjumpai masakan khas Indonesia bila kita melancong ke luar negeri. Namun, tidak demikian jika kita berada di Belanda. Di negara ini, ke mana pun menuju, kita relatif mudah menemukan masakan Indonesia. Bahkan, saat ini hidangan khas Nusantara, seperti rendang dan nasi goreng, telah menjadi bagian dari masakan nasional Negeri Kincir Angin itu.

Dalam direktori yang disusun KBRI Den Haag enam tahun silam, disebutkan ada sekitar 1.600 tempat makan Indonesia di Belanda, mulai dari restoran mewah hingga warung sederhana.

Meski belum sepopuler kuliner Jepang atau Italia, hidangan khas Indonesia punya tempat tersendiri di sana. Di Leiden, misalnya, ada resto Surakarta, Selera Anda, dan Sumatra. Di Den Haag, ada resto Poentjak, Si Des, dan Pempek Elysha. Sementara di Amsterdam, Anda bisa menemukan Blauw, Sampurna, dan Tempo Doeloe. Berkembangnya resto Indonesia ini jadi bukti bahwa relasi antara Indonesia dan Belanda selama ratusan tahun telah mendekatkan selera orang Belanda dengan kuliner Indonesia.

Nah, kemunculan resto-resto Indonesia ini juga dijumpai di beberapa negara lain meskipun memang tidak segempita di Belanda. Resto-resto baru dengan hidangan khas Indonesia ini dibuka oleh para diaspora Indonesia di negara setempat.

foto: istimewa

Anthonius Darwinto, David Tjoe, dan Alicia Martino merupakan contoh diaspora Indonesia yang membuka usaha kulinernya di Australia. Anthonius membuka resto bernama Fluffy Lamb, David punya Ubud Indonesian Restaurant, dan Alicia menghadirkan resto dengan nama yang Indonesia banget: Sendok Garpu Restaurant.

Meskipun menyuguhkan masakan Indonesia, ketiga resto tersebut terbukti tidak hanya didatangi WNI atau diaspora Indonesia. Penduduk lokal setempat juga banyak yang menjadi pelanggannya. Menurut Anthonius, sekitar 55% pelanggan Fluffy Lamb berasal dari Asia – Indonesia, Malaysia, Singapura, Filiphina, China, India, dan lain-lain. Adapun sisanya, 45%, penduduk lokal dan warga keturunan Kaukasia. Anthonius baru setahun silam membuka Fluffy Lamb.

Tidak cuma di Australia, semangat diaspora mengusung kuliner Indonesia untuk dibisniskan juga terasa di belahan bumi lainnya seperti di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Misalnya, di Prancis, ada Djakarta Bali Le Restaurant Indonesien de Paris, yang saat ini dikelola oleh generasi keduanya, Nina M. Hanafi. Terletak di Jl. 9 Rue Vauvilliers di daerah Les Halles Paris, resto Djakarta Bali hadir sudah cukup lama, yakni sejak 1984.

Anthonius Darwinto, Pemilik Fluffy Lamb, resto Indonesia di Asutralia

Nuansa Indonesia terasa kental di resto di Paris ini, terutama karena desain resto dan pernak-perniknya. “Djakarta Bali Resto merupakan inisiatif orang tua saya yang tidak hanya ingin membuka rumah makan, tapi juga bisa menjadi rumah yang nyaman bagi semua yang datang,” kata Nina.

Nina diwarisi tanggung jawab untuk mengelola resto tersebut sejak 1998. Sejak kecil, ia dibesarkan di Prancis, dan kini merupakan warga negara Prancis. “Saya memang bukan ahli masak, latar belakang pendidikan saya juga tidak ada hubungannya dengan gastronomi,” kata Nina. “Saya juga bukan kelahiran Indonesia, tapi sejak kecil lidah saya sudah terbiasa dengan rasa masakah Indonesia,” ia menambahkan.

Sementara itu, di AS, pasangan diaspora Indonesia, Robert dan Fifi Manan, berencana melakukan soft opening WIN Indonesian Grill & Gastrobar di Atlanta pada Juli 2018. Bukan hanya resto, WIN juga akan menjadi tempat bagi produk-produk seperti kopi, batik, tenun, dan produk kerajinan (craft) Indonesia. “Saat ini memang bisnis ini masih baru. Tapi jika berhasil, kami alam kembangkan ke kota-kota besar lainnya di seluruh AS,” ujar Robert.

Resto Indonesia di Paris, Prancis (Fptp: Istimewa

Kepada Silawati dari SWA yang mewawancarai mereka, hampir semua narasumber di atas tidak keberatan membagikan tip & trik untuk memulai usaha kuliner di luar negeri.

Alicia Martino menceritakan bahwa keberhasilanya membesut resto Sendok Garpu di Brisbane, Australia, tidak lain karena resto miliknya menyajikan beragam masakan otentik Indonesia, mulai dari rendang, nasi kapau, soto, laksa Betawi, pempek Palembang, nasi uduk, ayam Kalasan, tongseng, telur balado, tahu-tempe, hingga bakwan sayur dan lumpia. Untuk menjaga keotentikan rasa, ia bahkan awalnya rela bersusah payah untuk mendatangkan langsung semua bumbu yang dibutuhkan dari Indonesia dan menangani sendiri racikan bumbu-bumbu tersebut. “Saya menjamin keotentikan rasanya,” katanya menandaskan.

Strategi menarik lainnya datang dari Anthonius, pemilik Fluffy Lamb yang memanfaatkan komunitas lokal untuk mendongkrak popularitas. Ia mengaku memanfaatkan Culinary Army yang mempunyai anggota lebih dari 4.000 orang. “Grup inilah yang menjadi initial marketing tools utuk Fluffy Lamb,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga rajin mengunggah menu spesialnya di media sosial untuk menarik perhatian penggemar kuliner di Perth, Australia. Pihaknya juga meng-hastag beberapa Instagram selebriti. Berkat strategi pemasarannya tersebut, ia mengklaim pendapatan Fluffy meningkat 20-30%. “Fluffy Lamb mulai dikenal setelah mendapatkan beberapa regular customer yang sering mempromosikan dan membagi review mereka di media sosial, katanya.

Lalu, mengapa kuliner khas Nusantara relatif belum bisa sepopuler masakan Jepang, Italia, China, ataupun Meksiko, di luar negeri? Menurut Robert Manan, ada beberapa faktor penyebabnya. Pertama ialah persoalan bumbu, di mana bumbu-bumbu khas Indonesia tidak mudah didapatkan di negara-negara lain. Kedua, masih belum banyak jumlah chef yang paham masakan Nusantara. Karena itu, Robert mengapresiasi langkah pemerintah yang kini rajin mempromosikan kuliner Nusantara di luar negeri.

Ia pun menyarankan kepada para investor ataupun pelaku kuliner agar bekerjasama dengan kalangan diaspora setempat jika ingin membuka resto di luar negeri. Alasannya, merekalah yang paling tahu tentang lokasi, potensi, dan permasalahnn yang ada. “Buka restoran itu bukan karena sekadar punya uang,” katanya tentang perlunya strategi khusus.

Chef kenamaan asli Indonesia, Vindex Tengker, menambahkan bahwa faktor lokasi dan regulasi menjadi hal penting. Berdasarkan pengalamannya membangun Restoran Kasih di Los Angeles, faktor lokasi dan target konsumen menjadi kunci utama. “Lokasi ini menentukan style makanan yang akan disuguhkan,” ujar Vindex. Ia sendiri membutuhkan waktu 2,5 tahun untuk menemukan lokasi yang dinilai pas.

Vindex mengaku sempat menemukan lokasi yang cocok di wilayah Beverly Hills, tetapi ternyata kawasan tersebut termasuk kawasan heritage, sehingga ia batal membuka restonya di sana. Di Resto Kasih, Vindex berduet dengan mantan Menteri Pariwisata Marie Elka untuk mewujudkan konsep resto kontemporer Indonesia. Hampir semua masakan yang disajikan memiliki citarasa otentik tetapi dengan presentasi modern. “Bu Marie yang meminta saya membantu beliau mempersiapkan resto ini. Beliau investornya, saya otaknya,” katanya.

Sementara itu, kakak-beradik Anglia dan Inna Auwiness, yang mengelola jaringan resto Padang Sari Ratu di Singapura (dua cabang) dan Kuala Lumpur (empat cabang), mengingatkan perlunya sikap persisten (pantang menyerah). “Kiat kami berekspansi adalah maju terus pantang mundur,” kata Anglia. “Masalah pasti akan datang, tapi harus selalu dihadapi dan diselesaikan, Inna menambahkan. (*)

Reportase: Silawati 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)