Grup Boga Agresif Bangun Kitchen Cloud dan Produksi Frozen Food

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya penghentian laju pandemi Covid-19, membuat sektor industri berada dalam kondisi tertekan. Salah satu industri yang mengalami tekanan cukup berat adalah industri kuliner.

Di masa ini, para pebisnis kuliner dituntut untuk mengeluarkan siasat dalam melakuakan inovasi untuk keberlanjutan bisnisnya. Salah satu contoh menarik adalah yang dilakukan Grup Boga, perusahaan yang memayungi merek Master Wok, Paradise Inn, Kintan Buffet, Shaburi, Pepper Lunch, dan Bakerzin.

Ada 2 strategi yang dilakukan pemegang 14 merek restoran kuliner ini di masa pandemi. Pertama, meliburkan restoran, namun tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 2 ribu karyawannya. Kedua, mempercepat ekspansi cloud kitchen dengan bendera Boga Kitchen.

“Pada saat awal pandemi, kami harus mempercepat plan kami untuk mengembangkan cloud kitchen sekaligus menampung karyawan yang dirumahkan. Sehingga, semuanya masih bisa bekerja di Boga Kitchen,” kata Ellen Widodo, GM Marketing Grup Boga dalam acara Indonesia Brand Forum 2020 yang dikutip oleh SWA Online.

Konsep dapur yang ditawarkan Grup Boga adalah pengembangan kitchen center yang memungkinkan perusahaan dapat memasak berbagai macam menu dari 14 restoran yang dimilikinya. Dari dapur tersebut, makanan akan didistribusikan ke 20 dapur satelit, dan kemudian siap dikirim ke pemesan.

Hasilnya, saat ini, perusahaan telah membangun 20 kitchen satelit di berbagai titik di wilayah Jakarta, Semarang, dan Medan. “Pada bulan Maret lalu, kami sudah bisa mengoperasikan 20 titik Boga Kitchen," ujarnya. Ellen berpendapat, untuk mengembangkan model bisnis ini tidaklah terlalu sulit. Hal ini dikarenakan Boga Kitchen hanya membutuhkan tempat yang kecil yakni seluas 22 m2 dan bisa didirikan dimana saja. Selain itu, model bisnis ini juga tidak melibatkan banyak pihak, sehingga mudah untuk dikembangkan.

Skema ini membuat proses produksi makanan menjadi lebih ringkas dan biaya operasional yang dikeluarkan pun tergolong efisien. Apalagi ditambah dengan jumlah orang yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan pengelolaan restoran. Asumsinya, dalam 1 restoran dibutuhkan 75 orang karyawan, sementara di boga kitchen hanya membutuhkan 25 hingga 30 karyawan.

Selain mengembangkan cloud kitchen, saat ini perusahaan juga tengah getol mengembangkan produk frozen food yang ready to cook serta makanan ready to eat. “Perluasan Channel penjualan dengan memaksimalkan e-commerce dan reseller juga telah kami lakukan. Lebih jauh, kami juga mulai melakukan pemasaran untuk produk ini melalui ritel seperti Food Hall, Hypermart, dan Grand Lucky,” kata Ellen. 2000 karyawan yang kini ikut andil menjadi reseller diharapkan dapat memperluas produk forzen food milik Boga Group di masyarakat.

Ke depan, perusahaan akan melanjutkan dan mengembangkan lini bisnis baru ini dengan lebih agresif. Untuk Cloud Kitchen, perusahaan berencana melakukan ekspansi ke wilayah Surabaya, Bandung, dan Medan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)