Grup Tauzia Gaet Daerah Sekunder untuk Ekspansi Bisnisnya

Direktur Pemasaran Tauzia, Irene Janti

Fenomena leisure economy yang mulai terjadi di Indonesia direspons Grup Tauzia melalui berbagai jaringan hotelnya. Tren ini diantisipasi dengan jurus ekspansi ke daerah sekunder melalui kerja sama dengan investor lokal di berbagai daerah.

Grup Tauzia Hotel Management selama ini dikenal sebagai pemilik dan pengelola sejumlah merek hotel terkini seperti Harris Hotels, Harris Vertu, dan Label Preference Managed by Tauzia. Menurut Direktur Pemasaran Tauzia, Irene Janti, kini wisatawan memiliki beragam alternatif lokal wisata. Hal ini sekaligus menjadikan peluang bisnis pendukung wisata di daerah terbuka lebar. “Wisatawan sekarang tidak lagi terpaku dengan nama-nama besar seperti Bali dan Yogyakarta saja,” ungkapnya.

Menurutnya, di era leisure economy saat ini, pelakunya adalah kelas menengah dengan pengeluaran berkisar  $2-10 per hari. “Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk. Saat ini pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah experience-based consumption,” jelasnya. Hal ini di dukung oleh data terbaru BPS yang menunjukan pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” telah meningkat pesat.

Pergeseran pola konsumsi dari non-leisure ke leisure mulai terlihat nyata sejak tahun 2015 lalu. Grup Tauzia melakukan inovasi untuk memberikan pengalaman baru melalui berbagai pelayanan, semisal menggandeng komunitas lokal untuk berpartisipasi dalam kegiatan hotel. Iren mencontohkan sejumlah acara yang diusung dengan konsep segar, seperti Street Art Competition, College Artwork Competition, dan Photo Hunt Competation. “Kegiatan ini menjadikan hotel kami lebih dari sekedar hotel, namun sebagai wadah komunitas untuk berinteraksi,” katanya.

Leisure economy yang didominasi oleh generasi millenial yang haus akan pengalaman baru, Tauzia membidik pasarnya lewat hotel ekonomi dan bujet yang dimiliki seperti Yello da Poo Hotels. Di sisi lain, Tauzia tidak serta merta meninggalkan pasar Gen X dan Baby Boomer melalui hotel yang sangat friendly dengan keluarga seperti Harris dan Label Preference Managed by Tauzia yang mengusung konsep perpaduan dengan budaya lokal.

Iren memastikan setiap brand yang dimiliki Grup Tauzia, tidak hanya hotel dengan desain modern saja. Ada konsep yang dimunculkan sebagai deferensiasi, seperti Pop Hotel dengan environment conscious, Yello Hotel dengan street art, Harris Hotel mengusung healthy lifestyle, dan Harris Vertu hadir dengan fashion & jazz. “Melalui konsep ini kami mencoba jadi media untuk ikut aktif dengan kegitan-kegiatan nasional dan lokal yang dapat mengajak seluruh tamu  para tamu untuk ikut ambil bagian di dalamnya,” jelasnya.

Hingga saat ini Grup Tauzia mengelola 57 hotel dengan total kamar 1.380 unit. Setiap tahun Tauzia menambah 5 hingga 10 hotel secara konsisten.” Di tahun 2018 ini akan menambah 10 hotel di mana rata-rata penambahan jumlah kamar hotel sebesar 12% per tahun,” ungkap Irene. Tahun 2023, Tauzia diproyeksikan bisa mengelola 120 hotel dengan jumlah kamar mendekati 19 ribu unit atau tepatnya 18.944 kamar dengan menghadirkan inovasi teknologi terbaru.

Menggeliatnya industri pariwisata nasional dengan adanya leisure economy meyakinkan Irene bahwa bisnis perhotelan masih menjanjikan. Dukungan pemerintah yang gencar mempromosikan daerah tujuan wisata baru dan harga tiket pesawat yang semakin terjangkau, menambah geliat di industri ini. “Tantangannya sekarang distribusi hotel secara mayoritas masih di daerah premier. Ketidakmerataan inilah yang mengakibatkan adanya perang harga,” katanya.

 

Reportase: Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)