GWRF Kedua Gaungkan Keberagaman Literasi

Suwandi S. Brata, Direktur Penerbit Buku Gramedia (paling kiri) dan Kang Maman (ketiga dari kiri)

Gramedia Writers and Readers
Forum (GWRF) 2019 kembali digelar. Forum berkumpulnya pembaca dan penulis
terbesar di Indonesia ini juga menggandeng Perpustakaan Nasional RI.
Diselenggarakan kedua kalinya, tema kali ini mendorong semangat persatuan dan
keberagam dalam literasi.

Menurut Suwandi S. Brata,
Direktur Penerbit Buku Gramedia dalam konferensi pers di Perpustakaan Nasional
RI (01/08/2019) penulis sejatinya dalam melahirkan karya memiliki tanggung
jawab atau ketika menulis memiliki perspektif menjaga keberagaman dan kesatuan.
“Melalui literasi penulis mengambil peran mencerdaskan pembacaranya. Serta bisa
membawa kampanye keberagaman demi persatuan Indonesia, yang kini menjadi isu kuat
negara ini,” katanya.

Menjaga semangat inilah Kompas Gramedia (KKG) untuk kedua kali menyelenggarakan GWRF yang merupakan forum bertemu, berinteraksi, diskusi dan sharing antara penulis dan pembaca. GWRF akan digelar pada 02 – 04  Agustus 2019 di Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Temanya “Literacy in Diversity”, sebagai simbol atas keberagaman di dalam dunia literasi. Seperti halnya kemajemukan di Indonesia, literasi juga tertuang pada banyak hal.

"Kompas Gramedia sejak didirikan memiliki semangat mencerdaskan, "ujar Wandi. Maka dari itu, yang  dimasuki pertama kali adalah menerbitkan majalah Intisari yang merupakan reader digest. “Apa yang kami lahirkan adalah bidang-bidang sharing informasi dan pengetahuan di Intisari. Melalui literasi, mendorong semangat keterbukaan yang juga mendorong perubahan ke kebaikan. Bukan sekadar mengajak menulis buku. Jadi yang kami hasilkan bisa printed book, buku cerita,komik atau sekadar buku gambar,” terangnya.

Ini juga merupakan upaya KKG meningkatkan tingkat literasi Indonesia yang masih rendah. Maman Suherman, penulis buku yang juga akan membuka kelas Editor's clinic di acara ini mengatakan dengan kencangnya isu inklusi sosial belakangan, tema diversiti sangat kontekstual. Tambahan lagi kondisi tapi tingkat literasi masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah. “Jadi dari satu orang Indonesia hanya membaca 1-2 buku per tahun, ini menempatkan Indonesia sebagai nomor 2 dari bawah dari 62 negara di dunia dalam tingkat literasi. Tapi paling cerewet di media sosial, inilah yang membuat isu berkembang,” ungkapnya.

Bukan soal akses yang kurang
saja, di sisi lain, lanjut Kang Maman—sapaan akrabnya—Indonesia merupakan
pemegang ponsel terbesar nomor 5 di dunia. Artinya akses literasi bisa lebih
mudah dengan dukungan teknologi semisal ebook atau elibrary. Pria yang juga Duta
Aksara Maya ini digital bisa mendukung industri buku cetak, walau menurutnya,
sebagai penulis, royalti di cetak lebih tinggi ketimbang di digital.

Di tengah era digital, Wandi
mengamini, perubahan merupakan keharusan. Ia mengungkapkan, bahwa, walau buku
cetak tumbuh, delta pertumbuhannya terus menurun tiap tahunnya. Sebelum 2010 tumbuh
di atas 20%, tahun 2013 13% 2017 sempat minus, pada 2018 secara nasional tumbuh
12,5%. Sedangkan pada semester pertama tahun ini industri printed book naik
4,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. “Buku dalam bentu digital atau
online memang tumbuh besar 78% , tapi nilainya masih kecil,” katanya,

Meski begitu KKG dalam bisnis penerbitannya, mengambil inisiatif perubahan sejak beberapa tahun lalu,  bukan hanya transformasi dari printed ke digital, tapi mendefinisikan kembali bisnisnya. Kalau dulu penulis datang ke mereka, sekarang tidak hanya menerima naskah untuk diterbitkan, tapi bersama penulis berdiskusi tentang naskah yang akan diterbitkan. “Kami bersama penulis content creator,”  katanya. Lalu mendorong digital inisiatif, print on demand dengan memanfaatkan data digital menggandeng Amazon juga, para penulis bisa mencetak bukunya di mana saja. Contoh Anwar Fuadi ketika ada tur ke Sydney Australia, ia  tidak membawa buku fisik, tinggal menyebut berapa buku yang akan dicetak di sana.

Kembali ke gelaran GWRF 2019, Wandi
mengatakan untuk tahun ini, ia menargetkan acara ini bisa diikuti 2800 pengunjung
baik itu pembaca maupun penulis. Tahun lalu dalam 2 hari ada 1500 orang yang
mengikuti acara ini. Tahun ini untuk mengikuti acara harus melakukan pendaftaran
secara online melalui MyVenue. “Tahun ini, yang mendaftar sampai Kamis 1
Agustus ini ada 2560 pendaftar. Editor klinik saja ada 360 naskah baru
terdaftar,” tandasnya.

Yang menarik, karena acara ini
memiliki rentang usia, wilayah, dan latar belakang, yang mampu memberikan
inspirasi berbeda dalam dunia literasi. Pun demikian di acara GWRF 2019,
penulis, pemateri, dan tema tiap kelas yang dihadirkan akan beragam. Selain
kelas talkshow dan workshop, GWRF 2019 akan menghadirkan Editor’s Clinic, Film
Review, Book Bazaar, Music Performance, dan Awarding Gramedia Short Film
Festival.

Sebanyak 45 penulis buku dan
pemateri profesional akan berbagi pengalaman serta praktik nyata dunia
keliterasian dalam balutan tema yang berbeda. Sederet nama tokoh dan penulis
ternama seperti Fiersa Besari, Ayu & Ditto, Aan Mansyur, Sapardi Djoko
Damono, Rintik Sedu, A.Fuadi, Budiman Sudjatmiko, Maman Suherman, Naela Ali,
Ayu Utami, dan lainnya dipastikan akan memeriahkan GWRF 2019 selama 3 hari.
Talkshow dan workshop dari masing-masing penulis akan mengusung ragam tema
ringan hingga serius, khas milenial, budaya dan sastra, pemantik kreatifitas,
hingga spiritualitas.

Dalam sesi Editor’s Clinic,
peserta memiliki kesempatan untuk berkonsultasi langsung dengan para editor
dari penerbit buku besar di Indonesia, guna memberikan masukan terhadap naskah
yang telah ditulisnya. Para pengunjung juga dapat menikmati Music Performance,
Book Bazaar dan area Food and Baverage yang berlokasi di Plaza Perpustakaan
Nasional dengan harga spesial.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)