Otonomi Divisi Bukalapak Agar Perusahaan Tetap Lincah

Gema Buana Putra, Vice President of Talent Bukalapak, membagikan best practice di Bukalapak dalam acara HR Excellence Awards 2019

Perusahaan rintisan, khususnya bidang teknologi, sedang menjadi primadona di kalangan para pelamar kerja milenial. Pasalnya, lingkungan kerja mereka dianggap cocok bagi anak muda yang menyukai fleksibilitas dan ruang kerja nyaman

Namun, ketidakpastian ekosistem bisnis dan perubahan yang begitu cepat menuntut para perusahaan rintisan ini agar bisa lincah (agile). Tentunya, untuk mencapai hal tersebut, perlu strategi berbeda dari perusahaan konvensional.

Bagi Gema Buana Putra, Vice President of Talent Bukalapak, otonomi setiap bidang di perusahaannya menjadi kunci penting untuk menjaga kelincahan perusahaan. Prinsip utama di Bukalapak yang menjadi pegangan saat mendesain kebijakan organisasi, pertama adalah otonomi.

Masing-masing bagian harus punya otonomi, independen, cross-functional team. "Kalau tidak independen, bagaimana bisa agile? Bagaimana kita bisa membuat kebijakan cepat kalau dokumennya harus berkeliling dulu,” ujar Gema pada acara HR Excellence Award 2019 yang diadakan oleh SWA di Jakarta (10/4/2019).

Otonomi tersebut harus dibuat sesederhana mungkin, namun dalam jangka pendek. Strateginya adalah tim HR membuat petunjuk secara umum bagi seluruh divisi. Sementara itu, setiap divisi punya kewenangan untuk mengambil keputusan sesuai dengan keperluan masing-masing.

Gema menekankan, untuk memuluskan otonomi tersebut, perusahaan harus memiliki kepercayaan terhadap karyawannya. Maka dari itu, Bukalapak berprinsip bahwa karyawan seharusnya dipercaya, bukannya diawasi.

Adapun alasan Bukalapak mempercayai karyawannya, seperti yang disampaikan Gema, adalah karena pihaknya sudah menyeleksi individu kompeten sejak awal. Sebab, perusahaan sudah mencari orang yang sama-sama ingin tumbuh bersama perusahaan.

Pola pikir tumbuh bersama perusahaan ini juga menjadi prinsip Bukalapak dalam mengelola sumber daya manusia. Bahkan, Gema menekankan bahwa Bukalapak mengonotasikan kata ‘engagement’ bukan dari seberapa loyal karyawan terhadap perusahaan, tetapi bagaimana karyawan bisa tumbuh dengan tempo yang sama dengan perusahaan. "Loyal tidak harus engage. Ada karyawan yang cinta dengan Bukalapak, tapi Bukalapak tidak cinta dengan dia. Ada yang cinta dengan Bukalapak dengan cara ia ingin mencintai, bukan dengan bagaimana Bukalapak ingin dicintai,” ujar Gema.

Bagi Bukalapak, bila keduanya tumbuh bersama, simbiosis mutualisme akan terjadi. Bila perusahaan tumbuh lebih pesat dari karyawan, bisa saja perusahaan merekrut orang baru yang lebih sesuai. Sama halnya bila karyawan tumbuh lebih cepat dari perusahaan, karyawan itu tentu akan mencari perusahaan lain supaya bisa tumbuh sesuai kapasitasnya.

Namun, Gema tetap mengakui, kadang-kadang hal tersebut terjadi di Bukalapak. Mustahil menjaga semua karyawan dengan kecepatan sama. Maka menurutnya, wajar ada perpindahan karyawan, asalkan tim HR bisa merencanakan strategi ke depan.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)