Hingga Agustus, BI Longgarkan Suku Bunga 50 Bps

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan 7-day reverse repo rate sebesar 25 basis poin ke 5,5% pada 22 Agustus. Dengan demikian, menurut Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, secara keseluruhan BI telah melakukan pelonggaran sebesar 50 basis poin (bps) tahun ini.

Berdasarkan laporan Bank DBS, fluktuasi nilai tukar Rupiah tetap stabil di kisaran Rp 14.200 pada minggu lalu dan perbedaan tingkat suku bunga Indonesia dengan suku bunga Amerika Serikat masih kompetitif pada level ini. Bahkan, secara YTD, rupiah telah mengungguli hampir semua mata uang di kawasan dengan keuntungan dari perdagangan di pasar spot selain Thailand dan Jepang.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi turun dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 5,2% tahun ini, dengan defisit transaksi berjalan relatif di kisaran 2,5-3% dari PDB. BI berharap inflasi akan tetap berada di bawah kisaran tengah 3,5%. Gubernur BI menekankan bahwa BI akan tetap menjaga sikap kebijakan akomodatifnya untuk mendukung pertumbuhan dan akan terbuka untuk pelonggaran makroprudensial lebih jauh.

Kebijakan fiskal terlihat lebih berfokus pada kebijakan suplai untuk meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjang. Infrastruktur antarpulau juga tetap menjadi prioritas. Selain itu, meskipun utang luar negeri telah meningkat sejak tahun lalu, utang Indonesia masih relatif rendah, dengan total utang luar negeri terhadap PDB (publik dan swasta) tidak sampai 36,2% dari PDB pada tahun 2018.

BI hanya memotong suku bunga sebesar 50 basis poin sepanjang tahun ini sebagai bentuk pelongaran yang mendukung obligasi pemerintah Sebaliknya, bank sentral menaikkan suku bunganya sebesar 175 basis poin secara kumulatif pada 2018.

Secara umum, aliran dana asing akan mendukung saat imbal hasil rendah (kepemilikan asing di obligasi pemerintah Indonesia meningkat lebih dari Rp1.000 triliun sepanjang tahun ini). Obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun menawarkan premi hampir 600 basis poin lebih besar dari surat utang pemerintah AS (US Treasuries) dengan tenor sama.

Tenor jangka pendek (2 tahun, 3 tahun), yang akan dikaitkan dengan kebijakan BI yang lebih longgar bisa dibilang merupakan taruhan lebih aman dalam lingkungan di mana selisih imbal hasil obligasi jangka pendek dengan obligasi jangka panjang kemungkinan melebar.

BI berkomitmen menjaga stabilitas Rupiah melalui kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial akomodatif. Proyeksi BI untuk defisit transaksi berjalan sebesar 2,5-3% dari PDB untuk 2019-2020 masuk akal. Tekanan pada perdagangan eksternal telah diimbangi oleh penyusutan defisit perdagangan sebesar 40% dan cadangan devisa tertinggi dalam 16 bulan terakhir.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)