HKTI Dorong Kerja Sama Pertanian Asia Melalui Ajang ASAFF 2018

ilustrasi padi menguning dari Amaze.com

Krisis pangan sedang mengancam dunia terlebih dengan populasi dunia saat ini 7,6 miliar jiwa dan diprediksi pada 2100 nanti akan mencapai 11,2 miliar jiwa.

Ancaman krisis pangan mengancam hampir seluruh negara dunia. Termasuk Indonesia yang sebenarnya sedang mencanangkan swasembada pangan nasional pada tahun ini dan menargetkan menjadi pemasok bahan pangan utama di dunia pada 2046 nanti.

Riset PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) menunjukkan, 583 juta orang di Asia Pasifik mengalami krisis pangan pada 2008 lalu. Diprediksi jumlah itu akan meningkat drastis akibat kemiskinan, konflik yang terjadi di beberapa kawasan, perubahan iklim, dan menyempitnya lahan pertanian karena tergeser industri dan perumahan serta program pertanian yang tidak berjalan produktif.

“Sehebat apapun persenjataan sebuah negara, keamanannya akan terancam bila sektor pangannya rapuh. Oleh karena itu sektor pertanian harus mendapat perhatian serius agar segera dibenahi. Ketahanan dan kedaulatan pangan bisa jadi ancaman serius bila petani dan pertanian tidak dibenahi,” jelas Ketua Umun Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal TNI (Purn) Moeldoko.

Untuk itulah akan digelar Asian Agriculture and Food Forum 2018 (ASAFF 2018) untuk membangun kekuatan pangan dan pertanian di negara-negara Asia. Forum dengan tema ‘Transforming Challenge into Opportunity: Food Security and Agriculture Innovation digelar pada 28 Juni – 1 Juli 201 di Jakarta Convention Center. Kegiatan ini akan dimeriahkan dengan beberapa program seperti pameran pertanian, konferensi keamanan pangan dan inovasi pertanian, forum bisnis, festival pangan, dan Anugerah Petani Muda Inovatif.

Kegiatan ini diharapkan akan terus meningkatkan potensi pertanian Indonesia dan membangkitkan semangat para petani, khususnya petani generasi muda. Seperti diketahui, potensi terbesar produk pertanian Indonesia adalah padi yang menjadi produk utama dalam mempercepat pertumbuhan perekonomian nasional. Pada tahun 2005 kebutuhan beras setara 52,8 juta ton gabah kering giling (GKG). Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan beras sampai pada 2025 diprediksikan masih akan terus meningkat mencapai 65,9 juta ton GKG.

Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, maka untuk dapat memberikan jaminan pangan kepada pertambahan penduduk tersebut, diperlukan jaminan ketersediaan pangan yang memadai.Oleh karena itu segala daya dan upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan ketahanan pangan, baik melalui program swasembada atau bahkan mengimpor, demi menjaga adanya stabilitas ekonomi dan politik nasional.

Seiring dengan pertumbuhan populasi global yangjuga terus meningkat, ketahanan dan keamanan pangan merupakan faktor kunci dalam aktivitas perekonomian dunia. Selain ketahanan dan keamanan, perbaikan teknologi dan inovasi pada bidang pertanian juga tidak kalah penting perannya dalam menciptakan peluang dan peningkatan produktivitas pertanian menuju kedaulatan pangan dan keamanan negara.

Asia merupakan benua dengan tingkat populasi penduduk terbesar yakni hampir 4,5 miliar orang. Sementara Asia Tenggara berpenduduk sekitar 650 juta, dengan sekitar 260 juta di antaranya merupakan penduduk Indonesia. Asia sendiri sebagai produsen sekaligus konsumen terbesar komoditas pangan di dunia, kini tengah menghadapi tantangan besar untuk memberi makan penduduknya yang sangat besar. Pertambahan penduduk yang sangat cepat, produktivitas panen yang stagnan, kelangkaan air dan polusi, perubahan iklim, dan tekanan lainnya menambah sulitnya menjaga keamanan pangan di kawasan itu.

Food and Agriculture Organization (FAO) mengapresiasi capaian pembangunan pertanian pemerintah RI dan menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengekspor produk pertaniannya dengan adanya kenaikan produksi. Namun menurut FAO, untuk memasarkan produk pertanian ke luar negeri, produk itu sendiri harus berdaya saing, efisien, spesifik, dan organik.

FAO berharap agar Indonesia dapat menjadi promotor sistem pertanian Low external input sustainable agriculture (Leisa) dan organik. Leisa merupakan sistem pertanian berkelanjutan dengan input luar yang rendah dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dengan efisien.

Ada empat komponen utama ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, pemanfaatan pangan, dan stabilitas pangan. Ketersediaan pangan adalah kemampuan memiliki sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Akses pangan adalah kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun fisik, untuk mendapatkan bahan pangan bernutrisi.  Sementara pemanfaatan pangan adalah kemampuan dalam memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proporsional. Komponen keempat, yaitu kestabilan dari ketiga komponen tersebut dalam kurun waktu yang panjang.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)