Hutama Karya Perkenalkan Inovasi HK e-Index

PLTGU Tambak Lorok

PT Hutama Karya (Persero) tengah gencar memperkenalkan inovasi terbarunya yaitu metode penghitungan dengan alat ukur HK Electricity Index (HK e-Index).

Novias Nurendra, Direktur Operasi I Hutama Karya, dalam HK Expert Talk menyampaikan, inovasi ini muncul karena beberapa tahun terakhir Hutama Karya tengah mengerjakan pembangunan infrastruktur dan teknologi pembangkit tenaga listrik. Dalam mengerjakan proyek-proyek pembangkit listrik besar ini Hutama Karya memaksimalkan unit risetnya, yaitu HK Center for Knowledge, Research and Innovation (HK Connection).

“Maka dari itu, tidak hanya mengerjakan proyek, kami juga menghasilkan beberapa hasil studi dan pemikiran untuk memperkuat elektrifikasi Indonesia. Salah satu inovasi yang kami hasilkan berupa alat ukur index kapasitas pembangkit listrik, yaitu HK e-Index,” ujarnya.

Proyek-proyek EPC yang turut dikerjakan antara lain proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Grati di Pasuruan, PLTGU Tambak Lorok di Semarang, PLTGU Muara Tawar di Bekasi, dan proyek Ultra Super-Critical (USC) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Suralaya, Banten.

Novias mengatakan, HK e-Index bertujuan untuk membantu menjawab pertanyaan tentang seberapa banyak dan seberapa besar pembangkit listrik yang dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia. HK e-Index dapat menjadi solusi dari tantangan tersebut dengan menjadi alternatif pengukuran target jumlah pembangkit yang masih perlu dibangun di Indonesia dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Penghitungan HK e-Index sendiri diperoleh dengan membagi kapasitas pembangkit di sebuah negara dengan jumlah penduduknya. Melalui penghitungan ini, tim riset Hutama Karya berupaya menjawab jumlah pembangkit listrik yang dibutuhkan Indonesia dalam perkembangannya di periode tahun mendatang.

Dari riset yang telah dilakukan oleh tim HK Connection, terlihat HK e-Index dari beberapa negara maju seperti Jerman, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan berada di kisaran poin 2,2 – 2,6. Sedangkan, negara berkembang dengan sektor energi yang baik seperti Cina dan Malaysia memiliki Index 1,1 – 1,4. Sementara, HK e-Index Indonesia saat ini masih berada di angka 0,26. Angka yang kecil jika dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki GDP (Gross Domestic Product) di atas USD 10.000 per kapita, sehingga masih terdapat pekerjaan yang sangat besar untuk mengejar ketertinggalan ini.

Alat ukur berupa index yang diusulkan ini menghasilkan data yang dapat menjadi landasan seberapa banyak jumlah pembangkit listrik yang harus dibangun Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya. HK e-Index juga bisa menjadi alternatif baru yang digunakan, tidak hanya untuk Indonesia, namun juga bagi negara-negara berkembang lainnya.

“Banyak sekali alasan bagi Indonesia untuk mulai fokus membangun infrastrutur energi ini demi menjamin ketersediaan dan keterjangkauan listrik bagi seluruh masyarakat. Apalagi negara kita sangat kaya dengan sumber daya alam, air, angin, bahkan sinar matahari yang melimpah. Masih banyak sumber daya alam yang dapat kita olah menjadi sumber energi baru dan terbarukan, sehingga hal ini juga menjadi peluang bagi kita untuk menciptakan keberlanjutan energi yang lebih baik,” ujar Novias.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)