IFW 2019 Targetkan Transaksi Rp100 Miliar

Industri fashion merupakan salah satu sektor yang turut berkembang seiring dengan perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia. Menurut Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), industri fashion merupakan penyumbang ekonomi kreatif nomor dua terbesar setelah industri kuliner.

“Dari proyeksi Rp 1105 triliun sumbangan ekonomi kreatif terhadap ekonomi Indonesia, fashion menyumbang 18 persen, kurang lebih Rp 166 triliun,” ungkap Triawan pada acara Opening Indonesia Fashion Week (IFW) di Jakarta, (27/3/2019).

Menurut Poppy Dharsono, Presiden IFW dan Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), dari tahun ke tahun, perkembangan industri fashion di Indonesia membaik karena kelas menengah meningkat. "Dengan tumbuhnya kelas menengah kita, industri menjadi sangat hidup. Dengan adanya industri fashion, kreativitas jadi tidak stuck. Perubahan warna dan model yang terus ada menjadi rangsangan bagi para konsumen untuk terus membeli," ujar Poppy.

Bagi Triawan, IFW merupakan salah satu ajang yang menjadi darah dari pertumbuhan dunia fashion di Indonesia. “Bisa dibayangkan kalau Fashion Week tidak ada. Akan sangat menghambat kegairahan. Dengan IFW, desainer busana dan ekosistem yang ada di sekelilingnya bisa memperlihatkan kemajuan-kemajuannya. Di Indonesia semakin banyak event seperti ini. IFW bukan saja showcase, tapi sudah menjadi ajang belanja pada ibu rumah tangga, anak muda, yang pada saat bersamaan bisa langsung melihat dan memilih barang fashion,” ungkapnya.

Tema yang diusung IFW 2019 merupakan Cultural Values, yang sejalan dengan usaha APPMI untuk mempromosikan kekayaan budaya Indonesia sebagai salah satu benteng ekonomi nasional. Budaya asal Kalimantan menjadi topik khusus yang disajikan melalui penggunaan bahan baku seperti kain tenun, songket, dan batik maupun motif perisai, flora dan fauna asal Kalimantan sebagai inspirasi busana yang ditampilkan.

Poppy menyampaikan, sebagian budaya dan suku-suku Kalimantan merupakan hasil adaptasi, akulturasi, dan asimilasi unsur-unsur budaya dari suku-suku yang menempati wilayah Kalimantan. Contoh, sarung Samarinda, sarung tenun Pagatan, benang bintik, kain Sasirangan, khasanah budaya yang memukau inilah yang patut didukung bersama.

Ajang yang berlangsung dari tanggal 27-31 Maret 2019 di Jakarta Convention Center ini menghadirkan 480 booth merek fashion serta 20 pagelaran fashion. IFW 2019 juga menampilkan lebih dari 200 desainer asal berbagai daerah di Indonesia dan beberapa desainer mancanegara.

Beberapa di antaranya adalah Dian Pelangi dan Itang Yunasz yang telah mencetak prestasi di dalam dan luar negeri. Dian Pelangi termasuk ke dalam 30 Under 30 Asia pilihan Forbes tahun 2018. Karyanya telah tampil di Fashion Week Jakarta hingga Paris.

Poppy menyebutkan bahwa target transaksi yang ingin dicapai oleh IFW 2019 berkisar antara Rp 80-100 miliar. Menurutnya, pada tahun 2017 IFW berhasil meraup Rp 100 miliar, meskipun turun menjadi Rp 80 miliar pada tahun 2018 akibat kondisi ekonomi. “Ada satu tenant yang bisa meraup Rp 2,5 miliar. Namun, rata-rata tenant mendapatkan Rp 900 juta hingga Rp 1 miliar dalam 5 hari pameran,” jelas Poppy.

Pelaksanaan IFW 2019 didukung oleh Bukalapak sebagai official e-commerce and online ticketing partner. Jadi, para pengunjung bisa membeli tiket melalui platform ini. Kehadiran Bukalapak memberikan nuansa baru melalui teknologi dan inovasi.

,Bayu Syerli, Vice President of Marketing Bukalapak, mengatakan, pihaknya mendukung semangat industri kreatif agar terus berkarya go to the extra miles. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Bukalapak yang mendukung kemajuan kreativitas generasi muda Indonesia.

Bekraf dan berbagai Kementerian juga turut berpartisipasi dalam ajang IFW 2019 melalui keikutsertaan pengusaha binaan ke dalam pameran. Selain itu, pemerintah juga menyewa beberapa booth yang ada di IFW.

Selain itu, Bekraf juga turut berpartisipasi terhadap IFW dan industri fashion Indonesia melalui Koperasi Karya IKKON Bersama (KOPPIKON) “KOPPIKON adalah sebuah koperasi yang kami dirikan bagi mereka yang sudah kami bina di daerah-daerah melalui IKKON (Inovasi Kolaborasi Kreativitas Nusantara). Dengan adanya KOPPIKON, tidak hanya dikembangkan entrepreneurship, tetapi produknya juga bisa langsung dipasarkan ke seluruh Indonesia dan dunia,” kata Triawan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)