IIWF 2019 Bidik Transaksi Rp300 Miliar

Danny Iskandar, Perwakilan dari Yayasan Merajut Nusantara (kiri)

Industri pernikahan banyak dikendalikan oleh populasi dan bukan merupakan pasar yang bisa dikembangkan melalui media marketing. Alasannya, kebanyakan konsumen industri ini hanya melakukan satu kali pembelian sepanjang hidupnya.

Oleh karena itu, jumlah populasi dan daya beli masyarakat menjadi aspek penting untuk mendorong industri. Demikian ungkap Reza Paramita, Chief Operating Officer Weddingku dalam konferensi pers Indonesia International Wedding Festival (IIWF) 2019 di Jakarta (5/4/2019).

Reza mengungkapkan, jumlah populasi mendorong kemajuan industri. Pihaknya memilah umur menikah, yakni 20-25 dan 26-30. Selain jumlah, ada faktor GDP karena mereka (konsumen) memerlukan dana untuk acara pernikahan. Rata-rata usia 20an baru selesai kuliah, jadi mereka harus menabung antara 3-5 tahun untuk bisa membelanjakan uangnya, sehingga mereka baru akan siap pada fase kedua. Melihat demografi Indonesia yang didominasi usia tersebut, Reza merasa bahwa industri ini akan naik pada tahun 2019 hingga 2024.

Untuk itu, Weddingku dan Dyandra Promosindo bekerja sama menghadirkan IIWF 2019, sebuah pameran yang mengakomodir kebutuhan pernikahan pada tanggal 5-7 April 2019 di Jakarta Convention Center (JCC). Sebanyak 300 vendor penyedia gaun, katering, tandamata, tempat pernikahan, dan lain-lain akan meramaikan pameran tersebut.

Marga Anggrianto, Manager Operational Dyandra Promosindo mengatakan, “Calon pengantin biasanya melakukan banyak persiapan, misalnya survei tempat dan bridal, yang tidak jarang memakan banyak waktu. IIWF berusaha menjadi one-stop-solution untuk membantu para calon pengantin mendapatkan kebutuhan mereka di satu lokasi dan di satu waktu.”

Marga menjelaskan bahwa pada IIFW 2019, pameran dibagi menjadi tiga kelompok, yakni di Main Lobby untuk tenant hotel, Plenary Hall untuk tenant makanan, dan Cendrawasih Hall untuk tenant lainnya (gaun, undangan, dan lainnya).

Uniknya, kali ini IIWF membuat konsep nuansa tradisional melalui kerja sama dengan Yayasan Merajut Nusantara. Danny Iskandar, perwakilan Yayasan Merajut Nusantara mengatakan, kehadiran Yayasan Merajut Nusantara dalam IIFW 2019 merupakan bentuk apresiasi dalam memperkenalkan budaya dan tradisi pernikahan yang ada di Nusantara. Indonesia memiliki beragam tradisi pernikahan yang menjadi sebuah warisan berharga yang perlu terus dilestarikan.

Adapun menurut Danny, tren untuk pernikahan tradisional kini meningkat akibat adanya pengaruh sosial media. “Ada public figure yang menikah menggunakan adat. Juga ada pelaku bisnis yang membuat tren baru,” ujarnya.

Di tahun ke-5 ini, Marga menyebutkan bahwa jumlah transaksi yang ditargetkan IIWF sebesar Rp 300 miliar dengan target pengunjung sebanyak 50 ribu orang selama tiga hari pameran. “Tahun lalu kami mencapai hampir Rp 300 miliar, jadi tahun ini targetnya tidak jauh-jauh,” ujar Marga menutup penjelasannya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)