IKATWI Gandeng Generos Adakan Webinar Internasional Terapis Wicara | SWA.co.id

IKATWI Gandeng Generos Adakan Webinar Internasional Terapis Wicara

Keterbatasan tenaga terapis wicara mulai disoroti secara serius oleh komponen penting di Indonesia, termasuk pemerintah. Hal inilah yang membuat Ikatan Terapis Wicara Indonesia (IKATWI) menyelenggarakan Webinar Internasional Terapi Wicara secara daring (13/11/2022). Webinar dengan ini dihadiri oleh 1.000 peserta yang terdiri  terapis wicara yang tersebar di seluruh Indonesia.

Acara dengan narasumber internasional maupun nasional ini bertujuan untuk memberikan pembinaan dan penyediaan, khususnya terapis wicara yang sangat dibutuhkan di Indonesia. Sayangnya, kebutuhan tersebut tidak sembang dengan sumber daya manusia di bidang terapis wicara yang belum merata di seluruh Indonesia. Maka, keterbatasan inilah yang menjadi sorotan bagi Dra Oos Fatimah, M.Kes selaku Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Pada webinar tersebut, Oos menyampaikan bahwa kasus kematian tertinggi masih diakibatkan penyakit tidak menular, termasuk penyakit stroke serta kesehatan ibu dan anak. Pada kategori dua penyakit tersebut, memang ada kaitannya dengan bahasa dan bicara seseorang. Termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang sangat membutuhkan pendampingan dari terapis wicara untuk kehidupan sosial maupun kesehatannya.

Salah satu faktor terbatasnya SDM terapis wicara yaitu minimnya institusi pendidikan jurusan terapi wicara di Indonesia. Hingga saat ini hanya terdapat 4 institusi pendidikan yang mempunyai jurusan terapis wicara, di antaranya Solo, Padang, Jakarta dan Bandung. Maka, pada tahun 2023 Kemenkes merencanakan akan menambah lagi institusi jurusan terapis wicara sebanyak 12 institusi. Penambahan ini diharapkan bisa tersebar di seluruh Indonesia, terutama bagian timur.

“Pada 2021, dari 3.565 lulusan tenaga keterapian fisik dan hanya ada 264 tenaga terapis wicara. Maka, Kemenkes akan merencanakan 9 strategi transformasi penyelenggaraan pendidikan tinggi kesehatan. Karena dari segi terapis wicara masih kurang dan hanya tersedia di wilayah Jawa saja, sedangkan di indonesia timur masih kurang. maka kita akan lakukan pemerataan kualitas lulusan dari terapis wicara. “ ujar Oos.

Dengan tersedianya 264 terapis wicara, angka tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan pendamping gangguan bahasa dan bicara masyarakat di Indonesia. Kemenkes mengharapkan peran dan kerjasama IKATWI dan institusi terkait dalam pembukaan program studi dan pembinaan serta peningkatan mutu tenaga kerja untuk mengejar kekurangan tersebut.

Selaras dengan pernyataan Direktur penyediaan Tenaga Kesehatan, dokter spesialis anak, Dr. Ajeng Indriastari selaku perwakilan dari Generos mengungkapkan bahwa peran terapis wicara memang sangat berpengaruh terhadap perkembangan Bahasa dan bicara anak, khususnya yang mengalami gangguan speech delay atau terlambat bicara.

Gangguan keterlambatan bicara dan bahasa memang bisa disebabkan oleh genetik, seperti down syndrome dan autis. Tetapi, akibat pandemi yang melanda Indonesia tahun 2020,  banyaknya orang tua yang menerapkan electronik parenting alias pola asuh berbasis elektronik. Efeknya, anak hanya mendapatkan komunikasi satu arah dan sosialisasi yang kurang dengan orang sekitarnya. Alhasil berdampak pada perkembangan Bahasa dan bicaranya.

“Kasus speech delay ternyata makin meningkat akibat pandemi. Karena adanya parenting gadget. Orang tua banyak mengajarkan anak lewat gadget,” ujar dr. Ajeng. Dia menambahkan bahwa  penting sekali lingkungan sekitar anak mendukung tumbuh kembangnya, yang paling utamanya dari orang tua. Sebab, faktor lingkunganlah yang memberikan dampak terhadap stimulasi, pola asuh dan nutrisi.

“Kurangnya stimulasi bicara bukan hanya masalah genetik. Tapi adanya pengaruh dari lingkungan keluarga. Termasuk kekurangan nutrisi dan pengetahuan orang tua yang minim. Keterbatasan inilah yang masih banyak dialami oleh masyarakat Indonesia sehingga kasus speech delay meningkat,” imbuhnya.

Faktor lainnya dalam menunjang perkembangan bahasa dan bicara anak ialah nutrisi. Salah satunya kebutuhan protein dan zat besi yang berpengaruh terhadap kecerdasan otak anak.

“Nutrisi juga sangat penting. Dengan kearifan dan keberagaman pangan di Indonesia. orang tua gak perlu mematok protein hanya dari ikan salmon saja. Tapi bisa dengan ikan tongkol, kembung, dan belut atau ikan sidat. Bahkan dalam olahan tepung ikan sidat mengandung protein tinggi dan zat besi. Ikan sidat ini lah yang bisa menunjang Kesehatan dan kecerdasan otak anak," imbuhnya.

Pada webinar ini juga diadakan kelas terapis bahasa dan bicara bersama Khairy Anuar Moch Khairuddin yang merupakan Speech Pathology Program dari Universitas Sains Malaysia. Webinar ini  merupakan bagian dari rangkaian acara sebelum acara puncak Munas V IKATWI.

Mengingat masih minimnya SDM di bidang terapis wicara Indonesia, Generos sebagai suplemen anak mendukung  penyediaan dan pembinaan terapis wicara. Sebab, peran terapis wicara merupakan peran penting dalam kebutuhan bahasa dan bicara untuk anak-anak maupun dewasa. Maka, semua pihak harus saling bekerja sama.

Swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)