Iklim Investasi Indonesia Terkendali di Tahun Politik

Kondisi perekonomian Indonesia tahun 2018-2019 diyakini sejumlah pakar dan pebisnis akan baik-baik saja meski sedang ‘panas’ situasi politiknya menyusul berbagai agenda Pilkada dan Pemilu.

Untuk itu, Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) optimistis bisa mencapai target investasi yang masuk ke Indonesia sekitar Rp765 triliun di 2018. Jumlah ini tumbuh 11% dari realisasi investasi tahun lalu sekitar Rp692,8 triliun.

Ekonom senior dan mantan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal 1998 – 1999, Marzuki Usman, mengatakan dengan optimistis ajang demokrasi Tahun Politik 2018 dan 2019 tidak akan sampai mengganggu iklim investasi di Indonesia yang kini sangat kondusif.

“Kita beda dengan Mesir atau Irak. Politik kita jauh lebih stabil. Dulu ketika pergantian rezim dari Soeharto ke Habibie, dari Habibie ke Gus Dur, dari Gus Gur ke Megawati, dari Megawati ke SBY, dan dari SBY ke Jokowi. Semuanya tidak ada yang sampai mengganggu investasi. Stabilitas ekonomi kita terjaga baik,” ujar Marzuki pada seminar ‘Indonesia Investment Outlook 2018’ yang diselenggarakan oleh Moores Rowland Indonesia dan Honmachi International Law Office di Crowne Plaza Hotel Jakarta (23/2/2018).

Hadir dalam acara ini sekitar 80 investor Jepang di Indonesia, para pengusaha Jepang, pejabat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia. Marzuki mengungkapkan Jepang merupakan salah satu investor terbesar sejak dari Indonesia merdeka sampai sekarang.

“Waktu penerbangan dari Tokyo ke Manado yang hanya 4 jam, dan ke Jakarta sekitar 7 jam, membuat investor Jepang senang berbisnis di Indonesia. Saat ini terus tumbuh restoran-restoran Jepang di semua kota di Indonesia. Pariwisata, agrikultur, dan infrastruktur cocok untuk para investor Jepang,” tambah Marzuki.

Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM, Farah Ratnadewi Indriani,yang menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar ini, menjelaskan, iklim investasi tahun 2018 akan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Melalui Peraturan Presiden Nomor 91 tahun 2017 (Perpres No 91/2017) tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha, terhitung tahun ini secara bertahap pemerintah akan menerapkan single submission system (Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Satu Pintu). Investor tinggal melakukan rposes registrasi pada sistem online yang telah disediakan, sehingga akan semakin mempercepat proses perizinan investasi.

Menurut Farah, kini Jepang merupakan investor kedua terbesar di Indonesia setelah Singapura dengan nilai investasi 2017 sekitar US$4.996. Dengan pertumbuhan investasi 13,1% per tahun, Indonesia kini menempati posisi ke-4 dalam rangking investment competitive di antara negara-negara di ASEAN. Industri pariwisata salah satu sektor industri yang kini paling dipromosikan oleh pemerintah Indonesia.

Direktur Perpajakan Internasional, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan, Poltak Maruli John Liberty Hutagaol, yang juga menjadi pembicara utama dalam seminar sehari ini, mengatakan, berbagai kebijakan perpajakan seperti Bilateral Advance Princing Agreement yang akan memudahkan para investor Jepang jika membuka usahanya di Indonesia. Termasuk kebijakan adanya proses Auditor Correction dalam pelaporan pajak bagi investor asing.

Moores Rowland Indonesia merupakan konsultan bisnis internasional yang telah lebih 20 tahun hadir di Indonesia. Dan selama ini telah memiliki portofolio panjang dalam membantu melayani investor-investor dari Jepang membuka usaha di Indonesia. “Investor Jepang di Indonesia tidak hanya dalam bidang manufaktur, tapi juga diberbagai bidang lain, baik yang industrial maupun non industrial. Kami selalu mendorong dan mempromosikan peningkatan kerjasama bisnis dari kedua negara ini,” ujar James Kallman, CEO dari Moores Rowland Indonesia.

Meggy Parengkuan dari Marccus Partner, departemen di Moores Rowland Indonesia yang memiliki keahlian di bidang legal, menerangkan, bahwa pada 2017 pihaknya bekerja sama dengan Homachi International Law Office telah mengadakan dua kali sesi seminar di dua kota utama Jepang yakni di Tokyo dan Osaka untuk mempromosikan investasi di Indonesia. Sedang acara di Jakarta kali ini merupakan yang ke-3 Diharapkan dari seminar-seminat ini akan semakin meningkatkan minat pengusaha Jepang membuka bisnis di Indonesia.

Kazuhiko Nishihara, partner Honmachi International Law Office, dalam kesempatan ini mengatakan, perbedaan kultur antara kedua negara yang sering menjadi tantangan utama dalam hubungan bisnis antara Jepang dengan Indonesia, sehingga pihaknya terus mengharapkan adanya deregulasi-deregulasi baru dan transparansi dan iklim investasi bisnis di Indonesia.

Contohnya masih banyak peraturan dalam sistem transportasi di Indonesia. Pihaknya mengharapkan akan ada banyak deregulasi, sehingga memungkin perusahaan Jepang membangun binis B to B sesama perusahaan Jepang untuk kemudahan transportasi.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)