Imunitas terhadap Covid-19 Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Asia Tenggara

Vaksinasi menjadi salah satu kunci pemulihan ekonomi. (dok. Dettol)

Laporan Global Economic Forecast Report dari ICAEW dan Oxford Economics memperkirakan, negara yang memiliki tingkat imunitas yang rendah terhadap Covid-19 akan menghadapi risiko yang lebih besar ke depannya. Hal ini dikarenakan munculnya varian Delta yang memicu lonjakan baru dalam kasus Covid-19, sehingga negara-negara dengan vaksinasi yang lebih lambat dan terkena gangguan rantai pasok global menjadi lebih rentan terhadap dampaknya.

Negara-negara Asia Tenggara mengalami tingkat keberhasilan yang berbeda dalam menahan varian Delta, karena tingkat vaksinasi dan pembatasan jarak sosial yang berbeda-beda. Di satu sisi, gelombang infeksi yang signifikan di Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Thailand pada kuartal kedua membuat negara-negara tersebut menghadapi perlambatan pemulihan di tahun 2021.

Scott Livermore, Chief Economist and Managing Director at Oxford Economics Middle East mengatakan, ekonomi di Asia Tenggara memiliki imunitas terhadap Covid-19 yang rendah. Hal ini membuat mereka rentan dengan varian Delta yang akan membuat beberapa negara menerapkan pembatasan yang lebih ketat untuk mencegahnya menyebar lebih jauh.

"Perkembangan baru pada negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam kemungkinan akan membebani aktivitas perekonomian mereka di Q4 sampai Covid-19 dapat lebih terkendali di negara masing-masing,” katanya.

Varian Delta Covid-19 juga dinilai telah menunda proses pemulihan bagi sebagian besar ekonomi Asia Tenggara dan kenyataan hidup dengan Covid-19 sebagai endemi terbukti lebih rumit dari yang dibayangkan. Untuk itu, menurut Mark Billington, Managing Director International ICAEW, pemerintah tidak hanya harus menerapkan pembatasan dan tindakan yang tepat untuk menahan laju penyebaran varian baru, tetapi mereka juga perlu mempercepat peluncuran vaksinasi mereka untuk mencapai imunitas terhadap virus, untuk meningkatkan prospek pertumbuhan mereka.

Namun, prospek Kawasan Asia Tenggara pada 2022 dinilai lebih positif. Prospek untuk tahun 2022 di ekonomi negara-negara ini tergolong kuat, karena tingkat vaksinasi yang tinggi dan keberhasilan kebijakan pembatasan wilayah yang telah ditargetkan. Peningkatan pertumbuhan juga akan didorong oleh pelonggaran pembatasan dan pemulihan industri yang diprediksi akan menguat sekitar pertengahan 2022.

Laporan juga menunjukkan bahwa era pasca Covid-19 akan didominasi oleh perubahan iklim dan pemulihan dari pandemi. Hal ini memberikan peluang bagi pebisnis untuk membangun kembali bisnis mereka dengan cara yang lebih kuat dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik.

Di sisi lain, ada banyak peluang untuk menjadi penggerak awal teknologi hijau. Menurut Mark, Tiongkok dan kawasan Asia Tenggara dapat menjadi penggerak utama untuk mulai memetakan pemulihan ekonomi hijau dan sebagai pemimpin dalam penelitian dan pengembangan dan inovasi teknologi. Ditambah dengan tingkat utang yang rendah, hal ini dapat memberikan peluang untuk membangun kembali industri dan bisnis yang lebih hijau jika negara-negara mau berinvestasi dalam transisi energi bersih dan memanfaatkan kemitraan publik dan swasta untuk menciptakan perubahan.

"Mereka dapat melakukan ini dengan menetapkan tujuan kebijakan yang jelas dan memberikan panduan kepada bisnis untuk mengintegrasikan strategi berkelanjutan dalam organisasi mereka, dan membandingkan kemajuan mereka dengan sistem pelaporan yang sama," ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)