INDEF Ingatkan E-commerce Siap Hadapi Resesi

Ancaman resesi ekonomi yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2020 terus diperingatkan Jokowi kepada para pengusaha dan pemangku kepentingan. Menurutnya, perang dagang akan menjadi faktor eksternal meletusnya resesi di dunia. Indonesia yang saat ini tengah giat dalam mengembangkan ekonomi digital, juga diminta waspada dalam menghadapi ancaman ini.

Bima Yudhistira, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF), mengatakan, resesi akan berimbas kepada masyarakat, pengusaha UKM, dan pengusaha e-commerce. Pertama, resesi ekonomi yang diramal akan terjadi pada tahun 2020 sampai 2021 akan banyak merugikan konsumen. Hal ini dikarenakan tertekannya daya beli masyarakat, sehingga mereka mengonsumsi barang berkualitas rendah.

Kedua, e-commerce yang memiliki modal ventura yang besar akan lebih sustainable karena disokong oleh penyuntik modal. Ketiga, resesi akan berdampak pada bisnis model. "Seharusnya, ini menjadi waktu yang tepat untuk mengetes apakah bisnis model yang dijalankan saat ini bisa sustain atau tidak,” kata dia.

Bima menjelaskan, e-commerce yang akan sukses di tengah gempuran resesi adalah mereka yang inovatif. Artinya, e-commerce tidak hanya berfokus hanya menjual barang, tetapi juga jasa. “Saat ini konsumsi masyarakat kita lebih banyak ke arah leisure seperti tiket pesawat, hotel, bioskop. Sehingga tuntutan untuk menjadi Super Apps direkomendasikan untuk mengahadapi resesi,” ujarnya melanjutkan.

Lebih jauh, dia mengungkapkan, tuntutan akan pembentukan Super Apps juga semakin urgent untuk dilakukan, karena adanya perubahan pola konsumsi di masyarakat. Ambil contoh, saat ini banyak anak muda yang membeli produk-produk reksa dana dan emas.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang berada di bawah ancaman resesi, dan adanya perubahan tren mengharuskan e-commerce berubah menjadi Super Apps untuk bertahan. Selain itu, para pengusaha e-commerce pun harus hati-hati dalam menghadapi resesi ekonomi. Pasalnya, investor asing nantinya akan menahan diri untuk menyuntikan modal ke emerging market. Hal ini tentunya akan memengaruhi pertumbuhan dan sustainability e-commerce.

Sementara itu, dari sisi UMKM, mereka yang menjual produk impor juga diperingatkan untuk berhati-hati. Jika pelemahan Rupiah terjadi, maka harga jual atau ongkos produksi akan naik dan menyebabkan naiknya harga produk yang dijual. Oleh sebab itu, Bima merekomendasikan untuk menyerap bahan baku dalam negeri, sehingga stabilitas kursnya terjaga. “Saya pikir UMKM juga harus selektif dalam memilih, platform mana yang memberikan banyak promo. UMKM harus pragmatis, sehingga bisa menjadi kendaraan dalam melakukan penetrasi pasar,” kata dia.

INDEF dalam laporan tahun 2018 menyebutkan bahwa kontribusi e-commerce pada pertumbuhan ekonomi hanya berkisar di angka 0,7% dari total GDP. Bima menilai kondisi ini terjadi karena adanya ketimpangan penyebaran e-commerce antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Data BPS menyebutkan 70% industri e-commerce masih terkonsentrrasi di Pulau Jawa.

“E-commerce harus lebih agresif dalam memasarkan produknya di luar Jawa. Sementara pemerintah juga harus menyediakan infrastruktur dan listrik,” tegasnya. Namun, Bima memprediksi kontribusi industri digital terhadap PDB akan naik pada tahun depan, namun angkanya masih tetap dibawah 2%.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)