Indikator Ekonomi dan Keuangan Membaik, Momentum untuk Pemulihan Ekonomi

Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan

Dalam acara FGD (Focus Group Discussion) dengan pimpinan media, pada 16 September 2021 lalu, Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengemukakan, ekonomi Indonesia pada kuartal ke-2 masih cukup baik karena mengalami pertumbuhan 7,07 persen. Angka pertumbuhan tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan Vietnam yang mencatat pertumbuhan 6,61 persen dan Korea Selatan 5,9 persen. Menurut Wimboh, pertumbuhan 7,07 persen tersebut di atas market consensus.

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut menunjukkan tren yang positif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat mengalami minus 5,3 persen di kuartal ke-2 tahun 2020. Kemudian di kuartal 1 tahun 2021 sudah mulai tumbuh positif 3,1 persen. Diproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik di tahun 2022.

Sektor konsumsi rumah tangga masih memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 3,17 persen, disusul Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 2,30 persen. Kemudian, netexport berkontribusi 0,98 persen, konsumsi pemerintah 0,61 persen, serta lain-lain 0,1 persen.

Pemerintah, lanjut Wimboh, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 sebesar 3,7-4,5 persen dengan inflasi 1,8-2,5 persen, dan pertumbuhan ekonomi tahun 2022 5,0-5,55 persen dengan inflasi 3%. Sementara itu, IMF (International Monetary Fund) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 sebesar 3,9 persen dan di tahun 2022  diproyeksikan 5,9%, lalu World Bank (Juni-21) 4.4 persen (2021) dan 5 persen (2022).

Wimboh optimistis, jika mobilitas masyarakat mulai pulih, banyak sektor usaha yang akan bergerak lagi, seiring dengan tren kasus positif Covid-19 yang menurun. Terutama sektor-sektor yang terkait dengan mobilitas, seperti perhotelan, penerbangan (airlines), restoran, pariwisata, yang memang paling terdampak oleh pandemic Covid-19. “Hanya saja,  harus dilakukan dengan hati-hati dalam menggerakkan sektor-sektor tersebut kembali. Jangan sampai terjadi backfire,” ujarnya mengingatkan.

Sektor keuangan  relatif stabil

Wimboh juga menyampaikan, bursa saham juga menunjukkan tren yang positif. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang sempat turun pada level 3.937,63 poin pada 24 Maret 2020 (saat-saat awal pandemic Covid-19), terus begerak naik. Pada 14 September 2021, IHSG sudah berada di level 6.129 poin. “Artinya, sudah kembali pada posisi sebelum pandemi,” Wimboh menegaskan.

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan

Yang menarik, lanjutnya lagi, jumlah investor di pasar modal yang terus bertambah secara signifikan. Di tahun 2020, jumlah investor pasar modal tercatat baru 3,9 juta, tapi pada Agustus 2021 lalu sudah mencapai 6,1 juta. Dan, jumlah investor tersebut didominasi investor-investor muda, di mana sekitar 58 persen di antaranya berumur di bawah 30 tahun. “Antusiasme investor ritel menjadi penyumbang tingginya nilai transaksi di bursa saham,” ujar Wimboh.

Sumber: Otoritas Jasa K

Penghimpunan dana di pasar modal pada 2021 juga lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2020, total penghimpunan dana Rp 118 triliun, sementara di tahun 2021 (sampai dengan September 2021) sudah mencapai Rp 257,9 triliun dari 129 penawaran umum. Itupun masih terdapat 74 penawaran umum dengan nilai Rp 39,05 triliun, yang diperkirakan bisa direalisasikan di tahun 2021. Sampai dengan pertengahan September 2021, terdapat 35 emiten baru yang tercatat di bursa saham pada tahun ini.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)