Indonesia Bangun Kemitraan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Dunia

Perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement  (CEPA) putaran kelima menekankan arti penting dan strategis bagi kedua pihak antara delegasi Indonesia dan delegasi Uni Eropa (UE).

Kedua pihak mendorong proses  CEPA  di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dengan munculnya friksi-friksi perdagangan, khususnya di antara ekonomi besar di dunia yang dalam jangka panjang dapat berimbas pada negara-negara lain, baik secara individual maupun dalam hubungan negara-negara ini satu dengan yang lain.

Terlepas dari semakin riuhnya hubungan perdagangan di antara ekonomi besar dunia yang semakin mengarah pada aksi saling balas, Indonesia tetap percaya bahwa pendekatan maupun perundingan bilateral justru perlu semakin ditingkatkan. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan mitra bahwa Indonesia tetap mengutamakan hubungan yang konstruktif dan bukan destruktif. "Melalui CEPA, Indonesia ingin mengamankan posisi premium agar dapat memanfaatkan momentum kembalinya gairah perdagangan dunia di saat berbagai pertikaian dagang nantinya mereda,’’ ungkap Iman Pambagyo, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI.

Delegasi Indonesia yang diperkuat berbagai kementerian dan lembaga melaksanakan perundingan terkait isu-isu perdagangan barang dan jasa, investasi, kepabeanan dan fasilitasi perdagangan, sanitasi, fitosanitasi, hambatan teknis perdagangan, pengamanan perdagangan, peranan BUMN, subsidi, perdagangan dan pembangunan berkelanjutan, kerja sama ekonomi dan pengembangan kapasitas, serta ketentuan asal barang.

Iman menyampaikan, perundingan dengan UE ini cukup ambisius karena mencakup isu-isu baru yang belum pernah dirundingkan Indonesia dalam kesepakatan preferensi lainnya, termasuk di lingkungan ASEAN. Untuk itu, kedua delegasi masih melakukan pendalaman pemahaman dan meminta klarifikasi atas hal-hal yang memerlukan kejelasan sebelum memasuki tahap perundingan substantif. Namun, perundingan akses pasar sudah dimulai melalui pertukaran daftar penawaran (list of offers) atau daftar pos tarif yang akan dirundingkan lebih lanjut.

“Kami mencatat banyak kemajuan dalam Perundingan Putaran Kelima ini. Sejumlah teks pada beberapa bab yang dirundingkan sudah mulai dapat disepakati. Sementara untuk isu-isu yang lebih sensitif atau merupakan isu baru bagi Indonesia, kita mendapatkan kejelasan apa sebenarnya yang diinginkan oleh UE,’’ imbuh Iman.

Delegasi Indonesia juga menyampaikan penjelasan tambahan terkait posisi Indonesia yang cukup offensive pada beberapa isu runding, seperti perdagangan dan pembangunan berkelanjutan, kerjasama ekonomi, serta pengembangan kapasitas. "Kami tetap menyuarakan keprihatinan atas isu minyak kelapa sawit yang terus bergulir di Eropa. Sebagaimana kita juga menekankan kepentingan khusus Indonesia di sektor pertanian, perikanan, dan industri yang aksesnya ke pasar UE masih dibatasi oleh tarif tinggi atau ketentuan standar yang sulit dipenuhi Indonesia. Indonesia juga ingin memanfaatkan perjanjian jasa untuk menjadikan ekonomi Indonesia yang lebih yang berdaya saing," jelas Iman.

UE merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia dengan total perdagangan kedua negara  tahun 2017 tercatat US$ 29 miliar. Di lain pihak, investasi negara-negara anggota UE di Indonesia masih jauh dari potensinya. Hal ini mengingat Indonesia merupakan ‘critical mass’ di ASEAN dan seharusnya dapat menjadi regional production hub bagi perusahaan-perusahaan UE untuk merambah pasar ASEAN dan sekitarnya. Pada tahun 2017, investasi UE di Indonesia senilai US$ 2,9 miliar.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)