Indonesia Bertahan di Tengah Guncangan Ekonomi Global

Kondisi ekonomi global tidak dapat dipungkiri telah banyak berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi nasional. Lukman Otunuga, analis riset dari ForexTime (FXTM) sekaligus pakar makro ekonomi, berpendapat akhir-akhir ini muncul kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga di pasar global.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, kekhawatiran akan perang dagang yang membuat para investor lebih memilih berinvestasi pada emas. Kedua, oversupply komoditas minyak yang sangat memengaruhi sentimen pasar. Ketiga, ketidakpastian akibat politik, misalnya Brexit. Keempat, tren bank sentral di negara utama seperti The Fed, ICB, dan Bank of Japan untuk melakukan normalisasi keuangan atau menaikkan suku bunga.

Kenaikan suku bunga tersebut memunculkan tekanan terhadap pasar modal. Meski begitu, pada Januari 2017 nilai non-farm payroll (NFP) lebih tinggi dari yang diperkirakan pasar. Hal tersebut tentunya telah membantu mendongkrak pasar modal. Di Eropa, faktor yang memengaruhi nilai tukar Poundsterling (GBP) adalah Brexit. Sementara itu, kesan positif terhadap ekonomi Eropa menjadi penggerak positif Euro.

Nilai tukar US$ sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi emerging market seperti Indonesia. Ada beberapa faktor yang memengaruhi USD, di antaranya adanya ekspektasi kenaikan suku bunga hingga tiga sampai dengan empat kali. Tanda-tanda tersebut sudah ditunjukkan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Sementara itu, faktor yang menekan nilai tukar US$ adalah terjadinya perang dagang.

Lukman mengatakan, harga emas saat ini belum stabil karena belum ada katalis untuk mendorong. Ekspektasi peningkatan suku bunga dapat menyebabkan harga emas tertekan. Sementara itu, harga minyak masih mengalami tekanan karena produksi share oil Amerika Serikat meningkat. Melihat kondisi ini, Organization of Petroleum Exporting Country (OPEC) akan mengalami tekanan untuk membuat kebijakan kontrol minyak dunia.

Menurutnya, ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahan terhadap pergolakan ekonomi yang terjadi dalam skala global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 mencapai 5,07%, masih di bawah target pemerintah (5,2%), namun merupakan persentase tertinggi sejak tahun 2013.

Prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 oleh International Monetary Fund (IMF)  sebesar 5,6%, Bank Indonesia sebesar 5,4% , dan World Bank sebesar 5,3%. Bila peningkatan tersebut benar terjadi, Lukman yakin masa depan ekonomi Indonesia akan cerah.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut didorong oleh beberapa hal. Pertama, tingkat inflasi sudah stabil dan cukup rendah, yaitu 3,1% pada 2017. Selain itu, konsumsi domestik dan nilai komoditas juga meningkat. Konsumsi domestik merupakan faktor paling berpengaruh dalam hal ini karena telah menyumbang 50% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bila konsumsi domestik tersebut kian meningkat dan ekspor stabil, outlook ekonomi Indonesia akan lebih baik.

Pada kesempatan yang sama, Lukman juga menyebutkan bahwa nilai tukar Rupiah melemah terhadap mata uang Asia. Walaupun sulit menunjuk langsung faktornya, ada beberapa ide yang dipaparkan oleh Lukman. Pertama, investor luar negeri lebih tertarik terhadap mata uang negara tetangga yang yield-nya lebih tinggi. Kedua, ekspektasi nilai tukar dolar meningkat. Ketiga, nilai tukar Rupiah saat ini adalah yang terendah dalam 20 bulan terakhir. Namun, BI sudah membuat instrumen untuk menstabilkan nilai tukar Indonesia.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!