Indonesia Best eMark Award 2018: Mendongkrak Akselerasi Bisnis via Transformasi Digital

//Di era revolusi industri 4.0 sekarang, digitalisasi sistem seperti penggunaan e-marketing menjadi sebuah tuntutan agar perusahaan tetap mampu bersaing. Berbagai perusahaan pun telah mengimplementasikan transformasi digital untuk akselerasi bisnisnya. Hal ini terlihat dalam ajang Indonesia Best eMark Award 2018.//

 

Gary Armstrong dan Philip Kottler dalam buku mereka, Principles of Marketing, mendefinisikan e-marketing sebagai sisi pemasaran dari e-commerce yang terdiri dari kerja perusahaan untuk mengomunikasikan, mempromosikan, serta menjual barang/jasa melalui internet. E-marketing didefinisikan sebagai segala upaya yang dilakukan untuk memasarkan suatu produk/jasa dengan menggunakan media elektronik atau internet. Huruf “e” dalam e-marketing adalah singkatan “elektronik”, yang artinya kegiatan pemasaran dilaksanakan secara elektronik melalui jaringan internet.

Sekarang penggunaan e-marketing (pemasaran digital) dalam di perusahaan semakin masif. Itu sebabnya, Telkom University Bandung dengan menggandeng Bussines Digest, lembaga survei Grup SWA, menggelar Indonesia Best eMark Award yang ke-4. Kompetisi ini merupakan adu kebolehan antarperusahaan dalam mengembangkan e-marketing untuk meningkatkan kinerja pemasaran/penjualannya.

Parameter penilaian oleh dewan juri dalam ajang ini meliputi tiga aspek. Pertama, Success Strategy (strategi sukses) dalam penerapan teknologi informasi dan komunikas (ICT) untuk menjawab permasalahan bisnis dan pemasaran. Yang dinilai: identifikasi masalah, tujuan dan target sistem, masalah yang dijawab/diselesaikan oleh sistem, konsep yang dipakai, terobosan dalam implementasi, keunggulan dibandingkan sistem sejenis, dan biaya investasi.

Kedua, ICT Governance (tata kelola ICT). Penilaiannya pada mekanisme dan tahapan planning-monitoring, rencana TI, standard operating procedure (SOP) yang diterapkan, dan struktur organisasi.

Ketiga, Business Impact (dampak terhadap bisnis). Penilaiannya antara lain pada peningkatan produktivitas, perbaikan efisiensi, pertumbuhan bisnis, terciptanya peluang baru, kecepatan dan ketepatan, upaya merangkap peluang, tingkat pengembalian investasi, profit, dan kepuasan pelanggan.

Dewan juri terdiri dari lima orang, empat di antaranya staf pengajar Telkom University. Keempat pengajar tersebut adalah Dr. Ir. H. Agus Achmad Suhendra, M.T. (Dekan Fakultas Rekayasa Industri Telkom University); Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc.; Eka Yuliana, S.T., M.S.M.; dan Ir. Ama Suyanto, M.B.A., D.B.A. Satu orang juri lagi adalah Dr. Ir. Akhmad Edhy Aruman, M.Si., Redaktur Senior majalah Mix dan Dosen London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.

Indonesia Best eMark Award 2018 menghadirkan 24 tim perusahaan finalis yang telah diseleksi dari 67 pendaftar/peminat. Dari 24 perusahaan tersebut, enam lolos menjadi pemenang utama dan dua belas lolos menjadi pemenang top three dari enam kategori penjurian. Keenam pemenang utama itu adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. pemenang di kategori Financial Banking, BPJS Kesehatan (Financial Non Banking), PT Citilink Indonesia (Transportasi & Distribusi), PT Prodia Widyahusada Tbk. (Makanan, Nutrisi, dan Kesehatan), PT PLN (Persero) (Produksi, Pertambangan, dan Energi), serta Yayasan Rumah Zakat Indonesia (Solusi Kreatif).

Sebagai juri, Agus Achmad Suhendra menilai keunggulan para pemenang ada pada tiga hal. Pertama, perencanaan pemakaian TI dilakukan secara konkret, dengan menganalisis situasi strategis secara solid sehingga mereka memiliki alasan yang kuat mengapa TI digunakan. Kedua, pengelolaan TI dilakukan dengan tata kelola yang baik; ada perencanaan dan peta jalan TI yang disiapkan sehingga pembangunan infrastruktur TI sifatnya bukan mendadak, tetapi dibuat secara terencana. Ketiga, penggunaan TI dalam menopang bisnis secara proven berdampak pada peningkatan kinerja bisnis. Artinya, penggunaan TI sudah menunjukan efektivitas dan efisiensi performa bisnis.

Penyerahan Penghargaan Indonesia Best eMark Award 2018 untuk Kategori Banking (Ki-ka: PT Bank Sinarmas Tbk, PT Bank DBS Indonesia, Telkom University, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk)

 

Penyerahan Penghargaan Indonesia Best eMark Award 2018 untuk Kategori Financial Non Banking (Ki-ka: PT Federal International Finance (FIFGROUP), PT Pegadaian (Persero), Telkom University, BPJS Kesehatan)

 

Penyerahan Penghargaan Indonesia Best eMark Award 2018 untuk Kategori Transportation & Distribution (Ki-ka: PT Tigaraksa Satria Tbk, PT Nusantara Card Semesta, Telkom University, PT Citilink Indonesia)

 

Penyerahan Penghargaan Indonesia Best eMark Award 2018 untuk Kategori Food, Nutrition & Health (Ki-ka: PT Herbalife Indonesia, Telkom University, PT Prodia Widyahusada Tbk)

 

Penyerahan Penghargaan Indonesia Best eMark Award 2018 untuk Kategori Production, Mining & Energy (Ki-ka: PT Federal Karyatama, PT Bukit Asam Tbk, Telkom University, PT PLN Persero)

 

Penyerahan Penghargaan Indonesia Best eMark Award 2018 untuk Kategori Creative Solution (Ki-ka: PT Media Indonusa (Faspay), PT CentrePark Citra Corpora, Telkom University, Yayasan Rumah Zakat Indonesia)

Para pemenang Indonesia Best eMark Award 2018 menerima penghargaan dari Telkom University dan Majalah SWA – Business Digest pada acara Bandung ICT Expo Digital Broadband Summit 2018 di Trans Convention Center, Jl Jenderal Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat.

Lalu, bagaimana para perusahaan pemenang merancang dan mengimplementasikan e-marketing mereka? Achmad Royhan, Vice President Teknologi Informasi PT Citilink Indonesia, menjelaskan bahwa implementasi digital yang dilakukan Citilink telah dimulai pada 2008 dalam bentuk online booking. Pada 2013, maskapai penerbangan ini meluncurkan mobile application berbasis cloud yang diklaim merupakan aplikasi mobile maskapai pertama di Indonesia. Kemudian, pada 2014 Citilink juga menjadi maskapai pertama yang memanfaatkan self check-in kiosk.

Lanjut di 2015, Citilink menghadirkan e-Boarding Pass dan membangun Customer Relationship Management (CRM) Department karena melihat pentingnya pelanggan yang loyal. Sampai 2016, Citilink berinvestasi untuk membangun Implementasi CRM (Operasional & Analitis) dan Social Listening untuk dapat memonitor reputasi merek dan tren sentimen terhadap merek. Pada Februari 2017, platform loyalty Citilink sudah terintegrasi dengan GarudaMiles.

Di 2018 ini, Citilink telah memanfaatkan big data dengan membangun Customer 360 Establishment yang berfungsi untuk profiling  pelanggan. “Pentingnya digital bagi Citilink adalah demi kecepatan dalam pengambilan keputusan dan peningkatan efisiensi. Kurs dolar yang menguat dan harga bahan bakar yang naik menjadi tantangan bagi perusahaan low-cost carrier seperti Citilink sehingga pemanfaatan teknologi dilakukan untuk menunjang pengambilan keputusan dan efisiensi,” Achmad menjelaskan.

Manfaat digitalisasi juga dirasakan Prodia. “Masalah awal yang ada di Prodia adalah produktivitas dan efisiensi rendah. Selain itu, kepuasan pelanggan juga rendah bila dilihat dari data keluhan pelanggan,” kata M.A. Isti Hardiknastuti, Asisten Manajer Komunikasi Pemasaran PT Prodia Widyahusada Tbk., Prodia pun kemudian mengembangkan program untuk peningkatkan efisiensi. Pertama, e-Prodia, layanan elektronik yang memuat Pesan Online Prodia dan Hasil Online Prodia. e-Prodia diluncurkan untuk menanggulangi ketidaknyamanan pelanggan saat mengantre di gerai.

Kedua, home service secara online melalui aplikasi. Dengan sistem ini, internal Prodia juga lebih mudah mengaturnya dan pasien tidak merasa kesulitan booking untuk home service. Ketiga, Kontak Prodia, teknologi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan; semua informasi akan terpusat di situ. Kontak Prodia tidak hanya melalui telepon, tetapi juga media sosial.

Lalu, ada chatbox di Telegram, Line, dan Facebook. Ada juga Prodia Patient Portal. “Dengan adanya TI ini, revenue kami meningkat. Indeks kepuasan pelanggan dan corporate image index kami juga turut meningkat. Market share kami paling besar dibandingkan lab lain. Revenue juga meningkat 6-7%. Bahkan, tahun lalu naik dua digit sekitar 14%,” ujar Isti tanpa menyebutkan nilainya.

Begitu juga dengan PT Federal Karyatama (FKT) yang merambah ke digital dengan membangun infratruktur dari marketing hingga sales. Bagus Perdana, Digital Associate Manager FKT, menjelaskan ada tiga hal yang ingin didapatkan FKT di digital marketing, yaitu connect, engage, dan convert. Bagi FKT digital marketing harus mampu menjadi media untuk menjalin komunikasi baik terhadap bengkel (customer) pelanggan (consumer) dan target pembeli baru (shopper), kemudian meningkatkan keterlibatan audiens dan juga target penjualan. Beberapa aktifitas di media sosial sudah dilakukan FKT seperti TGOF (Tanggal Ganti Oli Federal) dan program Kamis Spesialis. Keduanya terlihat efektif meningkatkan engagement audiens.

Wahyudin Bagenda, Direktur TI BPJS Kesehatan, juga merasakan manfaat digitalisasi sistem di perusahaannya. Ia menjelaskan, target perolehan premi di perusahaannya tahun ini adalah Rp 80 triliun, tetapi rasio klaimnya melebihi Rp 90 triliun. “Jika tidak ada pengendalian TI, rasio klaim akan lebih besar lagi. TI telah memberikan kontribusi dalam efisiensi operasional dan pengendalian biaya,” ungkap Wahyudin.

Ada beberapa manfaat bagi BPJS dengan adanya TI. Pertama, perusahaan bisa adaptif dan fleksibel dalam menghadapi perubahan kebutuhan seperti regulasi, proses bisnis, dan faktor eksternal. Kedua, bisa membangun platform asuransi kesehatan sosial yang terintegrasi dengan seluruh stakeholder untuk mengelola Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Ketiga, bisa melakukan disruptive innovation dalam mengefisiensikan proses bisnis jaminan pelayanan kesehatan nasional dalam mengakselerasi transformasi berbasis digital.

Perusahaan pelat merah lain yang juga sedang gencar melakukan transformasi adalah Pegadaian. Antara lain, dengan melakukan digitalisasi, yaitu bagaimana caranya agar di era teknologi ini Pegadaian bisa memberikan kemudahan kepada konsumen untuk melakukan transaksi dengan pihaknya. Salah satu langkahnya, dengan menghadirkan platform Pegadaian Digital.

Ternyata, pencapaiannya sejak diluncurkan 1 April 2018 cukup baik. Artinya, dari sisi pengguna juga pertumbuhannya stabil,” ucap Agus Setiawan, Asisten VP Penjualan Pegadaian. Selain itu, dengan adanya Pegadaian Digital, bisa didapatkan segmen baru. Secara tradisional, konsumen Pegadaian itu lebih banyak ibu-ibu usia tua. Sementara konsumen yang menggunakan aplikasi tersebut, termasuk untuk melakukan transaksi, didominasi kaum pria dengan umur yang lebih muda. “Kami melihat adanya keberhasilan dari upaya meregenerasi nasabah dan memperluas segmen pasar kami. Untuk konversi menunjukkan angka yang cukup baik; ada 29% dari pengguna Pegadaian Digital yang konversi menjadi nasabah kami,” Agus menjelaskan.

Memang, konsumen muda di era ini menjadi pasar yang potensial digarap. BNI menangkap peluang tersebut dengan meluncurkan Yap! pada 25 Januari 2018. Yap! merupakan fasilitas pembayaran transaksi elektronik dari BNI dengan dana yang bersumber dari kartu kredit BNI, rekening kartu debit, atau rekening uang elektronik (UnikQu) yang dapat diakses menggunakan ponsel pintar berbasis sistem operasi iOS dan Android. Konsep yang dipakai dalam Yap! ini adalah QR-based wallet & payment untuk memudahkan transaksi jual-beli.

Jahja, Manajer Proyek Gugus Tugas Akuisisi Merchant Yap! BNI, melihat generasi milenial mobilitasnya tinggi serta utilisasi terhadap ponsel pintar juga tinggi, dan kebanyakan melakukan transaksi di e-commerce. “Yang kami harapkan dengan adanya Yap! adalah mendorong dan membangun engagement dengan nasabah kami yang relatif generasi milenial,” katanya.

Berbeda dari BNI, Bank DBS Indonesia menerjemahkan tren digital dengan membuat arsitek banking terbaru melalui konsep Digibank, jelas Albertus Hendro, Vice President Digital Banking Product, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia. Melalui Digibank, konsumen bisa lebih mudah dan leluasa melakukan aktivitas perbankan, misalnya tanpa perlu mengantri, bisa sambil bepergian, dan tidak perlu ada form serta signature pada saat on boarding. Kelebihan lainya, Digibank juga bisa membantu konsumen melakukan transfer ke Bank mana saja di seluruh Indonesia secara gratis, real time, bisa online time deposit, spending tracker dan beberapa kegiatan perbankan lainnya.

Rumah Zakat juga mencoba menemukan cara baru untuk mengakomodasi generasi milenial dengan menghadirkan Sharing Happines, produk yang mempunyai slogan citra “Membuat Nyata Berbagi Bahagia” yang diluncurkan sejak akhir 2016. Rumah Zakat mengeluarkan crowdfunding platform tersebut yang bermula dari donasi online Rumah Zakat. “Sharing Happiness memberikan layanan kemudahah agar donatur lebih aktif berdonasi. Jadi, kami mencoba menemukan cara baru untuk mengakomodasi generasi milenial berbagi,” ujar Irvan Nugraha, Direktur Pemasaran Rumah Zakat.

Di PT Bukit Asam (PTBA), digitalisasi dilakukan dalam bentuk pengembangan sistem cargo tracking (CT). Anita Parma, Senior Manager Teknologi Informasi PT BA, menjelaskan bahwa CT ini merupakan sistem sentral yang akan menampilkan proses yang terjadi di operasional rantai supply batu bara  yang datanya berasal dari beberapa sumber. Sitem CT ini juga untuk menggabungkan beberapa aplikasi seperti aplikasi otomasi, aplikasi MineMarket, Aplikasi Truck dan Belt scale, aplikasi manager view, dan aplikasi marine traffic. Sistem CT nantinya bisa dilihat secara online dan real time sehingga bisa menggambarkan dengan mudah dan jelas dalam bentuk visualisasi yang sama dengan proses yang sedang terjadi, sehingga seluruh satuan kerja yang berada di dalam proses rantai supply batubara dapat mengetahui progress operasional. Dengan demikian proses operasional rantai supply batu bara di PTBA bisa jauh lebih efisien

Di industri kurir ekspres ada PT Nusantara Card Semesta (NCS) yang tak mau ketinggalan menyambut tren digitalisasi. NCS berinovasi dengan meluncurkan produk NCS Deal. Nanang Rohyat, Director PT Nusantara Card Semesta (NCS), menjelaskan bahwa cakupan NCS Deal adalah user database capture, check shipping cost (jadi customer bisa cek), create waybill, pick up request, dan tracking. Dengan fasilitas dan kemampuan tersebut, NCS Deal bisa membantu pelanggan melakukan pengiriman lebih mudah, di mana saja, kapan saja, dan tanpa biaya yang besar. Selain itu pengiriman juga lebih cepat karena banyak proses yang kami sederhanakan dan dilakukan di depan sekaligus, tanpa harus berhenti-berhenti lagi

Lalu. apa indikator keberhasilan e-marketing? Tentunya, setiap perusahaan memiliki indikator masing-masing. PLN, contohnya. Yuddy Setyo Wicaksono, Kepala Divisi Niaga PLN, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki indikator proses dan indikator hasil. Contoh indikator hasil adalah penambahan jumlah pelanggan berapa, penjualan KW-nya berapa, hasilnya berapa. Adapun indikator proses adalah bagaimana proses tim dalam memasarkannya. Proses ini lebih ke bagaimana upayanya, seperti bagaimana pendekatan ke pelanggan, mencari pelanggan. “Kalau prosesnya bagus, hasilnya pasti bagus dan sustain. Tapi kalau prosesnya tidak bagus, hasilnya bagus, itu keberuntungan,” kata Yuddy menyimpulkan.

Kalau indikator keberhasilan dilihat dari angka, progam Sharing Happines Rumah Zakat tergolong sukses. Pada 2016, jumlah dana terhimpun Rp 6,2 miliar dan di 2017 menjadi Rp 19,3 miliar. “Sementara yang sedang berjalan di 2018 atau hingga saat ini sudah terkumpul Rp 35 miliar,” kata Irvan.

Sedangkan Bank Sinarmas yang melakukan improvisasi pada aplikasi mobile banking Simobi Plus juga sukses meningkatkan kepuasan nasabah yang menuntut kecepatan, kemudahan dan kenyamanan layanan perbankan. Setelah membentuk tim digital, digital factory, Bank Sinarmas melakukan transformasi digital pada tiga area, yaitu people, technology dan process. Soejanto Soetjijo, Direktur IT & Product Development PT Bank Sinarmas Tbk, menambahkan bahwa tranformasi ini terbukti efektif, dimana Bank Sinarmas berhasil mencetak pertumbuhan 10% per bulannya, 52% pengguna aktif, 400 ribu lebih transaksi per bulan, menghasilkan lebih dari 850 juta fee income per bulannya, dan 11 ribu deposito berjangka dibuka setiap bulan dengan total posisi saldo Rp 1,3 triliun.

Lain lagi dengan yang dilkukan oleh PT Tigaraksa Satria Tbk. Angga Muhamad Gebra, IT Manager PT Tigaraksa Satria Tbk, menggambarkan bahwa melalui konsep serta terobosan digitalisasi yang dilakukannya, perusahaan mampu melakukan efisiensi proses order dan pengiriman dari yang yang sebelumnya 1.5 hari untuk proses 1 order, sekarang hanya memerlukan rata-rata 29 menit saja. Jumlah order juga meningkat hingga 418 order per hari, dan otomatis nilai penjualan juga diperkirakan meningkat hingga 350 miliar di akhir 2018 ini dari tahun sebelumnya yang baru mencapai 193 miliar

Demikian juga Yap! BNI. Yap! baru jalan tujuh bulan, tetapi sudah mempunyai 279 ribu merchant dari potensi yang ditargetkan BNI sebanyak 2 juta merchant. Untuk user-nya, BNI hanya mengambil potensi 4 juta dari customer base BNI yang sebanyak 40 juta. “Jadi, kami hanya ambil 10%-nya. Saat ini baru 300 ribu yang menjadi user Yap!,” ungkap Jahja. Dari segi transaksi, sudah 4 juta transaksi dengan nilai volume penjualan selama tujuh bulan ini Rp 412,3 miliar. Dan, yang mengendap ke dana pihak ketiga sekitar 35%, yaitu Rp 144,3 miliar. Kemudian fee-based income-nya Rp 705,4 juta, dan net interest income dari dana yang mengendap sebesar Rp 2,39 miliar.

Boleh dikatakan, saat ini sudah banyak perusahaan yang mengimplementasikan transformasi digital untuk akselerasi bisnis di berbagai macam sektor, seperti di bidang pemasaran dan operasional. “Banyak perusahaan di Indonesia yang sudah aware terhadap kondisi ekonomi yang disruptif dan mengerti bagaimana mengatasi tantangan tersebut,” kata Andry Alamsyah, juri dari Telkom University. Meskipun, dalam level implementasi TI, masih beragam. Ada yang sudah kompleks menggunakan sensor, ada juga yang hanya menggunakan website, tetapi minimal telah memiliki kesamaan dalam melakukan transformasi digital.

Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati, Chandra Maulana, Jeihan Kahfi Barlian, Sri Niken Handayani, dan Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)