Indonesia Masuk 10 Besar 'Pangsa Pasar Film Nasional Bagus'

Ketua Badan Perfilman Nasional, Chand Parwez Servia. (Dok. Muvila)

Kesuksesan Warkop DKI Reborn Series, Pengabdi Setan, dan Dilan 1990 menjadi bukti industri film di Indonesia patut diperhitungkan.

Potensi yang dapat digali dari industri film nasional tak bisa dipandang sebelah mata lagi. Investor dengan cerdas menanamkan investasinya untuk meraup keuntungan yang menjanjikan.

Menurut Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, tingkat kesusksesan industri film lebih menguntungkan dibandingkan proyek rintisan digital yang kini sedang marak. Ketua Badan Perfilman Nasional, Chand Parwez Servia juga mengakui perkembangan yang bagus untuk perfilman Indonesia saat ini. Dirinya mengungkapkan, jumlah penonton film nasional telah mengalami peningkatan dengan berhasil menembus angka 42,7 juta orang atau memiliki pangsa pasar 35%.

Prestasi cemerlang ini menempatkan Indonesia di posisi ke-8 sebagai negara dengan pangsa pasar film nasional yang cukup baik. Untuk urutan 1-7 (pangsa pasar film nasional masing-masing negara) diduduki Amerika Serikat dan Kanada/Amerika Utara (93,6%), Jepang (63,1%), China (58,3%), Korea Selatan (57,7%), Turki (53,4%), Argentina (37,2%), dan Perancis (35,8%). “Masuknya market share film lokal dalam 10 besar ini menunjukkan fakta bahwa perfilman Indonesia tumbuh dengan sehat,” ungkapnya.

Chand juga mmberikan rinciannya,  tahun 2017 ada 11 film atau 9,4% dari total 119 judul film nasional yang berhasil meraih penonton di atas 1 juta orang. Angka 1 juta penonton ini merupakan ukuran untuk box office film nasional. Angka ini naik tipis dari tahun sebelumnya yang haya 10 film saja. Ia juga mengungkapkan film yang beredar di 2017 lebih sedikit dibandingkan tahun 2016. Namun antusiasme penonton film malah naik 15% dari 32,7 juta menjadi 42,7 juta penonton.

Menggeliatnya produksi film Indonesia menurut Triawan  perlu diimbangi dengan jumlah layar bioskop. Alasannya, sekitar 1.500 layar bioskop saat ini belum menjangkau seluruh masyarakat Indonesia. Upaya dibukanya Daftar Negatif Film (DNI) untuk Penanaman Modal Asing (PMA) bagi usaha asing dilakukan pemerintah untuk tujuan agar investor asing dapat dan mau masuk dan membangun banyak bioskop baru.

Indonesia saat ini hanya memiliki tiga perusahaan bioskop skala besar, yaitu Cinema 21 (XXI), CGV, dan Cinemaxx. Ketiganya cukup ekspansif untuk membuka jaringan bioskop baru. Cinemaxx berambisi menghadirkan 2.000 layar dan 300 kompleks bioskop di 85 kota di Indonesia. Sementara CGV berencana menambah 100 layar lagi sepanjang 2018.

Baca: Apakah Investasi di Industri Film Menguntungkan?

Animo masyarakat pada film nasional memberikan keuntungan tidak hanya bagi rumah produksi atau perusahaan bioskop. Lebih jauh lagi, para pekerja seni yang terlibat dalam produksi filmpun ikut diuntungkan.

 

Reportase: Ananda Putri

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)