Indonesia Timur Berkontribusi 10% terhadap Transaksi Ovo

Presiden Direktur PT Visionet Internasional (Ovo), Karaniya Dharmasaputra.

Di tengah pandemi Covid-19, percepatan adaptasi atau transformasi digital menjadi semakin penting bagi para pelaku UMKM. Sinergi dari seluruh stakeholder pun perlu dikembangkan baik dari pemerintah maupun pelaku industri digital.

Adaptasi transaksi nirsentuh seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi salah satu cara untuk membantu pelaku UMKM menjaga dan meningkatkan perputaran transaksi selama pandemi. Ini yang dilakukan oleh PT Visionet Internasional (Ovo) bersama Kementerian Perdagangan untuk mengedukasi pedagang di Pasar Bersehati Manado, salah satu sentra perekonomian Sulawesi Utara.

Presiden Direktur PT Visionet Internasional (Ovo), Karaniya Dharmasaputra mengatakan, layanan keuangan elektronik di wilayah Indonesia Timur memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Pasalnya, saat ini kontribusi wilayah Indonesia Timur sekitar 10% dari aktivitas transaksi di aplikasi pembayaran Ovo.

Dengan adanya edukasi kepada pelaku UMKM, khususnya para pedagang pasar tradisional, diharapkan dapat meningkatkan kontribusi wilayah Indonesia Timur. "Kami sering mengadakan promo cashback. Dengan begitu penjualan kami bisa meningkat hingga 20-30%," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (02/10/2020).

Karaniya mencatat, sudah ada 100 dari 2.000 pedagang pasar telah menggunakan aplikasi Ovo untuk melakukan transaksi. Ia memastikan jumlah itu akan terus berkembang seiring dengan penguatan infrastruktur digital dan penetrasi jaringan di wilayah Manado.

"Kami berharap, di tengah kondisi ini, konsumen dan pelaku UMKM dapat terus bertransaksi secara nyaman, tanpa perlu melakukan kontak langsung. Tentu saja upaya ini sejalan dengan harapan pemerintah untuk terus menstimulasi pergerakan roda ekonomi di tengah pandemi Covid-19,” tambah Karaniya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga mengatakan, mobilitas dan aktivitas pasar yang penuh kontak fisik harus diubah menjadi mobilitas daring yang bukan saja minim kontak, tapi juga non-tunai atau cashless.

“Program digitalisasi pasar, selain membantu meningkatkan pelaksanaan protokol kesehatan, juga akan mentransformasi dan merevitalisasi sistem interaksi masyarakat di pasar tanpa meninggalkan penunjang infrastruktur ekonomi,” terangnya.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat, pertumbuhan nilai transaksi nontunai menggunakan ATM, Kartu Debet, Kartu Kredit, dan Uang Elektronik (UE) masih mencatat kontraksi 13,94% (yoy) pada Juli 2020. Namun, terdapat peningkatan nilai maupun volume transaksi yang disebabkan oleh pergeseran preferensi masyarakat untuk menggunakan instrumen digital.

Pertumbuhan nilai transaksi UE tetap kuat pada Juli 2020 yakni 24,42% (yoy), sedangkan volume transaksi digital banking juga mengalami pertumbuhan yang tinggi sebesar 38,81% (yoy) pada Juli 2020.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Arbonas Hutabarat mengatakan, QRIS hadir sebagai jawaban dari tingginya pertumbuhan transaksi digital di Indonesia, terlebih di tengah situasi pandemi. Dengan adanya QRIS, BI ingin mengintegrasikan sistem kanal pembayaran berbasis QR code sehingga terjadi interoperabilitas antara setiap PJSP baik bank maupun nonbank.

"Saya berharap digitalisasi ini tidak berhenti di Pasar Bersehati, tapi bisa diterapkan di seluruh pasar di Sulawesi Utara,” harap dia.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)