Ini 5 Tren Utama Kelompok Screenager

Tren digital serta pesatnya adopsi perangkat mobile telah mendorong munculnya fenomena Screenager yakni kelompok masyarakat yang memiliki beragam perangkat digital dan tidak puas dengan layanan digital tertentu. Accenture, melalui penelitiannya, Digital Consumer Survey 2016, mengamati tren ini secara mendalam dan merilis hasil survei yang bertajuk “Screenager++ : Multiplied Experiences, Real Time Emotions”. Hasil survei mengungkapkan lima tren utama kelompok screenager yang dapat digunakan untuk memahami perilaku konsumen digital Indonesia.

?????????????

 

Tren pertama, “Multiplier effect” menunjukkan bahwa konsumen kini melakukan beragam aktivitas dengan mengandalkan perangkat mobile. Hal ini diakibatkan oleh semakin pesatnya pertumbuhan konsumen yang memiliki berbagai perangkat mobile, contohnya ponsel pintar, tablet, dan laptop serta desktop. Penyedia produk dan layanan digital dapat menjadikan fenomena ini sebagai peluang usaha yang besar agar menyesuaikan dengan permintaan konsumen nakan layanan digital. Melalui penggunaan berbagai perangkat mobile, konsumen memperoleh pilihan pengalaman digital yang lebih kaya seperti menonton, bermain games dan mengunggah foto atau video ke akun media sosial.

Di Indonesia, penggunaan beragam perangkat mobile juga terjadi, di mana 86 % Screenager telah memiliki ponsel pintar dan 34 % di antaranya memiliki ponsel pintar, tablet dan laptop atau desktop untuk menunjang aktivitas harian mereka. Tren penggunaan perangkat mobile di Indonesia cenderung lebih tinggi dibandingkan tren global, yakni dengan 99 % konsumen Indonesia telah menggunakan aplikasi mobile untuk layanan komunikasi (global 87 %). Dari persentase tersebut, Accenture menemukan bahwa 75 % konsumen telah mengetahui tentang layanan transaksi pembayaran mobile dan 53 % diantaranya memanfaatkan layanan eLearning atau online training course.

Tren kedua, menilik perkembangan penggunaan Internet of Things (IoT) di perangkat mobile. Baik secara global maupun di Indonesia, tren ini menunjukkan bahwa banyak konsumen saat ini dikategorikan sebagai pengguna awal (early adopter) namun masih menemukan kendala dalam menggunakan solusi perangkat intelijen secara optimal.

Survei Accenture menemukan 56 % konsumen Indonesia (di global 41 %) sebetulnya sudah memiliki perangkat yang dilengkapi solusi IoT, namun 85 % konsumen mengakui masih menghadapi ketidakpuasan ketika menggunakan layanan ini. Dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 36 %, maka menurut Accenture, Indonesia merupakan pasar potensial pengembangan layanan, akan tetapi hanya 23 % konsumen yang berencana untuk membeli perangkat wearable (misalnya smartwatch) dalam waktu 12 bulan ke depan dan hanya 12 % yang memikirkan melakukan bundling karena meragukan kualitas layanan bila digabungkan.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)