Ini Bedanya Sharing Economy & Access Economy

Konsep Sharing Economy terlanjur melekat di angkutan berbasis aplikasi seperti Go-Jek, Grab, dan Uber. Namun, sesungguhnya, konsep ekonomi yang diterapkan ketiganya adalah Access Economy.

Dalam bisnis, keuntungan adalah hal yang paling utama. Motif inilah yang melandasi konsep Access Economy lebih tepat untuk model bisnis yang diterapkan Go-Jek, Grab, dan Uber.

“Istilah sharing economy itu blunder. Sharing economy itu contoh gampangnya adalah komunitas nebengers. Satu mobil dipakai bersama, bensinnya patungan. Bukan beli mobil untuk dipakai sebagai driver Grab atau Uber,” kata Yuswohady, pengamat marketing dari Inventure.

Managing Partner Inventure, Yuswohady Managing Partner Inventure, Yuswohady

Menurut dia, perbedaan mendasar antara access economy dengan sharing economy adalah jumlah sumber daya yang ada. Jika ada penambahan, maka disebut access economy. Jika tidak ada, maka disebut sharing economy.

Lewat platform yang dimiliki Go-Jek, Grab, dan Uber, lanjut dia seluruh masyarakat bisa mengakses sumber daya kendaraan berikut sopirnya kapan saja dan dimana saja. Mereka juga mendapat penawaran harga yang jauh lebih murah karena perusahaan penyedia aplikasi tidak memiliki komponen biaya kendaraan dan pengemudinya.

“Dengan adanya platform digital , lemak (overhead cost) tidak ada. Lain halnya dengan perusahaan taksi konvensional yang harus menanggung biaya-biaya tersebut. Inilah yang membuat harga bisa dipangkas secara signifikan. Customer tentu lebih memilih layanan bagus dengan harga lebih murah,” katanya.

Dia menjelaskan, aplikasi atau platform seperti itu memang mengacaukan tatanan bisnis yang ada. Untuk itu, pemerintah harus membuat regulasi yang tepat agar model bisnis baru ini bisa berjalan beriringan dengan bisnis yang menganut owning economy, yakni perusahaan taksi konvensional. Dengan begitu, tercipta level of playing field yang sama.

Pelaku usaha angkutan konvensional juga harus segera berbenah agar tak kehilangan pelanggan. Mereka harus merilis model bisnis baru untuk jangka panjang. Platform serupa tampaknya harus segera dibuat. Untuk jangka pendek, perseroan perlu membuat pelampung pengaman agar bisnis tak banyak tergerus.

“Salah satunya tentu saja mengadakan kajian terhadap overhead (cost) tadi. Biaya tersebut harus dikelola dengan baik karena merupakan faktor utama pembentuk harga,” katanya. (Reportase: Rizky C. Septania)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)