Ini Kata CEO Baru CoHive Soal Peta Bisnis Coworking

Chris Angkasa

Jaringan ruang kerja kolaboratif, CoHive, kini memiliki CEO baru: Chris Angkasa. Eksekutif muda ini sudah akrab dengan ekosistem startup Indonesia dan coworking sejak mendirikan Clapham Collective di Medan pada 2015. Di tahun 2017, Clapham bergabung dengan CoHive sehingga Chris terlibat menjadi anggota dewan penasihat perusahaan. Chris menggantikan Jason Lee yang kini menjadi Presiden CoHive.

Dalam perkembanganya sekarang, CoHive telah hadir di 30 lokasi yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya. Bertanggungjawab atas keberlangsungan salah satu coworking dengan jaringan terbesar di Indonesia bukanlah tugas mudah di tengah pandemi. Sebuah industri yang tidak lepas dari konsep ruang dan komunitas mengalami dampak yang hampir sama seperti sektor hospitality yang juga terseok-seok sepanjang tahun ini.

Dalam penuturannya kepada SWA Online, Chris mengategorikan skala bisnis coworking menjadi dua jenis, yaitu independent coworking dan multiple branch coworking. Secara garis besar, multiple branch coworking mengalami nasib serupa sejak perusahaan-perusahaan menerapkan kebijakan Work from Home (WFH), yakni menurunnya okupansi.

“Pandemi memengaruhi industri yang memerlukan touch point atau sentuhan fisik. Situasi ini secara lingkungan bisnis coworking memang tidak bagus. Orang tidak datang ke kantor karena WFH. Kalaupun ke kantor, kapasitasnya dikurangi,” jelas Chris.

Selain karena kondisi bisnis para tenant, terbatasnya ruang gerak komunitas akibat PSBB juga memaksa mereka berhenti mengunjungi coworking dan office space. Chris menyebut ini adalah sebuah dilema. Menurutnya, coworking bukan hanya tentang ruang fisik, tetapi juga keberadaan komunitas dan ruang bersama. Inilah yang hilang selama pandemi.

Kondisi ini memunculkan dua tantangan besar bagi CoHive. Chris menjelaskan dua tantangan ini adalah biaya operasional dan gaji karyawan yang harus tetap dibayar. Meskipun tenant berkurang, coworking tetap harus membayar biaya sewa pada pengelola gedung. Di tengah situasi sulit ini, mau tidak mau ada beberapa lokasi CoHive yang terpaksa berhenti beroperasi.

“Ini memaksa kami untuk memikirkan cara beradaptasi dengan lanskap bisnis yang berubah. Seperti para anggota pengguna CoHive, kami juga harus beradaptasi,” ujar Chris.

Lanskap bisnis baru tentunya harus dihadapi dengan strategi bisnis yang inovatif pula. Namun, Chris tidak mau terburu-buru merumuskan strategi yang tepat. Sejauh ini, yang perlu dilakukan adalah melakukan observasi perubahan perilaku masyarakat. Satu hal yang jadi perhatiannya adalah tidak semua orang bisa nyaman bekerja di rumah. Begitupun dengan perusahaan-perusahaan yang masih membutuhkan kehadiran fisik.

Untuk itu, ada tiga hal yang digunakan Chris sebagai pedoman arah bisnis CoHive. Pertama, mencari tahu apakah orang-orang akan kembali berkantor. Kedua, dari orang-orang tersebut, dipetakan siapa saja yang masih perlu ke kantor. Hal ini bisa dilihat dari pekerjaan dan posisi mereka. Ketiga, ketika mereka ke kantor, apa yang akan mereka lakukan. Indikator ini dirasa perlu karena pekerjaan sekarang cenderung tidak mengharuskan ke kantor. Adapun menurut Chris, kondisinya bervariasi tergantung dari komunitas yang bernaung di masing-masing coworking.

Lalu, apakah CoHive akan berekspansi? Chris menjawab kalaupun ada ekspansi, perwujudannya akan berbeda dengan 2-3 tahun lalu. Menurutnya, semua akan bergantung pada perilaku pengguna sehingga CoHive akan mencari produk baru yang memenuhi kebutuhan mereka. “Justru terkadang ekspansi tidak selalu berupa ekspansi fisik, tapi juga ekspansi produk,” ujarnya.

Untuk itu, fokus CoHive saat ini adalah kepada returning customer. Pengguna ini, menurut Chris, adalah mereka yang sudah menjadi member tetapi harus meninggalkan CoHive untuk sementara karena cutting cost.

Kendati demikian, ada segmen strategis di mana CoHive merasa berada di well position. Segmen tersebut adalah perusahaan-perusahaan yang mempertimbangkan untuk membentuk multi-city team. Contohnya perusahaan yang berkantor di Jakarta tetapi bisa memiliki karyawan di kota-kota lainnya. Menurut Chris, ini adalah tren yang cukup bagus dengan tujuan pemerataan ekonomi di kota-kota lainnya.

Chris meyakini coworking adalah masa depan cara kerja manusia meski situasi sekarang tampak masih berat. Terlebih saat ini cara orang bekerja turut melibatkan perubahan interaksi, yaitu dari kompetisi menuju kolaborasi.

“Saya percaya bahwa CoHive tidak hanya bisa bertahan melewati masa pandemi, tetapi justru akan berkembang lebih pesat. Kami berkomitmen untuk ikut serta dalam pembangunan negeri dengan menunjang aktivitas kerja dan mendorong produktivitas Indonesia,” tutur Chris.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:
cohive

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)