Ini Komitmen Telkomsel Bangun Ekosisten Digital

Memasuki usia 22 tahun Telkomsel menegaskan diri sebagai Digital Company dengan meningkatkan perhatiannya pada perkembangan ekosistem digital. Menurut Dirut Telkomsel, Ririek Adriansyah, ini sejalan dengan tema ulang tahun ke-22 perusahaan selular ini “Memajukan Negeri” dengan terus memberikan yang lebih baik pada bangsa ini.

“Saat ini Telkomsel telah menjangkau 95 persen populasi negeri ini, lebih dari 1400 BTS dan 840 layanan 4G di seluruh wilayah Indonesia. Kami memastikan dimanapun mereka berada, masyarakat berhak mendapat layanan telekomunikasi yang sama,” ujarnya saat sambutan perayaan ulang tahun Telkomsel pada Jumat (14/07/2017).

Ririek menuturkan, sampai saat ini Telkomsel berkembang di tengah kondisi yang terus berubah, seperti mulai stagnannya layanan legacy telko yaitu telepon dan pesan singkat. Namun di sisi lain, layanan digital tumbuh lebih cepat sekitar 40 persen.

“Karena itulah ke depan kami terus mengembangkan pengalaman digital lebih baik bagi pelanggan Telkomsel,” tegasnya. Dalam upaya meningkatkan layanan digital, Telkomsel terus berupaya melahirkan aplikasi dan inovasi digital yang lebih baik. Salah satu upayanya adalah selama dua tahun terakhir Telkomsel telah mengadakan program The NextDev. The NextDev merupakan tanggung jawab sosial Telkomsel yang juga dapat mendukung dan melengkapi ekosistem digital yang sedang dibangun.

Menurut Ririek, Telkomsel melihat pentingnya meningkatkan kemampuan pada startup yang lahir dari The NextDev ini melalui langkah mentoring oleh para ahli dan pakar di bidang ini. Terlebih selama dua tahun penyenggaraan The NextDev telah menjaring 1.400 aplikasi dari seluruh Indonesia. Dalam upaya meningkatkan kapabilitas startup, mendorong kemandirian dan memunculkan sosok inspiratif yang dapat memberikan pengaruh besar pada generasi muda lainnya di Indonesia, maka pada perayaan ini Telkomsel meluncurkan The NextDev Academy.

Arief Yahya, Menteri Pariwisata yang hadir dalam perayaan ini menyampaikan sambutannya bahwa usia 22 tahun merupakan usia dewasa, maka itu dituntut harus bisa memberikan warisan terbaik di masa datang. Dia berharap Telkomsel bukan saja menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia dan masuk dalam 10 besar dunia, tapi juga bisa menjadi pemimpin perusahaan digital dunia.

Arief menyebut saat ini perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar dunia merupakan perusahaan digital seperti Apple, Aphabet, Microsoft, Amazon, Facebook, Google. “Value dari digital company ini adalah customer. Contohnya Whatsapp, waktu diakuisisi oleh Facebook jumlah customer-nya 500 juta dengan nilai US$ 40 per customer. Padahal kinerjanya rugi,  tapi Mark mau memberikan nilai tinggi pada customer Whatsapp karena proyeksi bisnis ke depan sangat bagus dengan customer sebesar itu,” paparnya.

Maka itu menteri yang pernah menjabat Dirut Telkom ini berpendapat Telkomsel dengan kekuatan 170 juta pelanggan menjadi modal besar untuk bisa menjadi digital company terbesar dunia. “Pada para finalis The NextDev 2017 saya ingin menyampaikan hanya satu yang memungkinkan bangsa ini menang adalah kreatifitas,” katanya. Ia menekankan pentingnya membangun cara berpikir besar para pelaku startup. “Startup (digital, red) itu bukan UKM, mereka bisa diperlakukan seperti UKM. Meskipun  startup jangan diajarkan cara bekerja UKM, tapi harus didorong berpikir besar. Mereka memulai bisnis dari ide kecil untuk menjadi besar," tegasnya.

Ia juga menantang para startup yang masuk dalam ekosistem The NextDev untuk memajukan pariwisata negeri ini dengan pentingnya digital sharing tourism. “Di Jakarta saja ada 200 ribu kamar, ini potensi. Anda tahu berapa nilai perusahaan traveling yang sekarang sedang gencar beriklan dengan tagline bla bla..liburan kemudian? Nilainya US$ 1,1 miliar,” sergahnya. Ia berharap para anak muda ini bisa menghasilkan perusahaan digital yang kelak bisa menjadi perusahaan dengan nilai besar.

The NextDev Academy

Adita Irawati, VP Corcom Telkomsel , menjelaskan program The NextDev yang sudah berlangsung sejak dua tahun lalu ini awalnya merupakan sebuah kompetisi pembuatan aplikasi digital dengan fokus smart city atau smart rural. Dari sini ternyata banyak ide dan aplikasi lahir yang masuk merupakan terobosan justru lebih memberikan dampak sosial positif lebih luas pada masyarakat. Saat ini program ini telah diikuti oleh anak-anak muda yang tersebar di 20 kota.

“Wujud tanggung jawab sosial kami ini inline dengan tujuan Pemerintah dalam mendorong digital economy ke depan,” ujar Adita di Hard Rock Cafe Pasific Place Jakarta saat konferensi pers peluncuran The NextDev Academy. Menurutnya potensi Indonesia dengan pertumbuhan internet salah satu tertinggi di dunia harus diambil sebagai peluang oleh para pelaku bisnis muda terutama yang bergerak di bidang digital bisnis.

“Pada dua tahun terakhir kita bicara soal smart city dan smart rural ternyata yang lebih penting smart people dan smart life (attitude),” tuturnya. Untuk itulah The NextDev Academy diluncurkan yang ingin membangun Indonesia digital dengan menghadirkan effective learning, sustainable community, impactful coaching, dan supportive ecosystem.

Mulai 2017 ini fokus perhatian ide-ideThe NextDev pada HEAT yaitu health, education, agriculture dan transformation. Ririek mengatakan sebagai upaya membagun ekosistem digital yang bagus, improvement terus dilakukan agar kualitas para pemenang The NextDev terus meningkat. “Diharapkan aplikasi yang dihasilkan bisa bermanfaat lebih luas. Kami juga terus mencari pengembangan mereka ke dunia internasional,” katanya.

Telkomsel menyediakan sebesar Rp 7 miliar untuk tahun 2017 yang sudah dimulai seleksinya ini. Ririek mengingatkan pada para finalis The NextDev bahwa ajang ini bukan untuk semata-mata mendorong staryup untuk mencari uang dan membesarkan bisnis tapi bagaimana membuat sesuatu lebih besar untuk bangsa ini.

Yudhistira, finalis termuda  The NextDev mengapresiasi yang dilakukan Telkomsel. Lulusan MAN 2 Serang Banten berusia 17 tahun ini sudah sejak 2007 tertarik digital, waktu itu masih duduk dibangku SD dan berfikir untuk membuat aplikasi atau game sebagus yang sering dimainkan kakaknya saat itu. Dia bersama temannya yang sekolah di SMAN 2 Serang, membuat Kredible, sebuah platform yang mengumpulkan data-data rekening dan nomor ponsel yang pernah pernah melakukan penipuan. “Targetnya kami ingin penipuan online ke depan berkurang,” ujarnya.

Alamanda Shantika, VP of Product Go-Jek yang menjadi juri dan mentor The NextDev Academy mengungkapkan saat ini ia sedang menyiapkan sebuah perusahaan veture capital, problem yang ia temui adalah gap yang sangat besar antara perusahaan startup papan atas di Indonesia dengan dibawahnya. Gap apa? “Saya tidak melihat pentingnya pengembangan people didalamnya, jika di dalam perusahaan tidak ada orang-orang bagus, tidak akan menghasilkan produk bagus, jadi harus diakui startup kita masih jauh di bawah kualitas yang di Silicon Valley. Mau cari yang di tengah itu susah,” jelasnya. Ia berharap dengan konsistensi yang dilakukan Telkomsel melalui The NextDev juga kesungguhan tim yang mengelola ini dengan hati akan mendorong gap ini lebih kecil, apalagi kini dibangun The NextDev Academy. “Teknology is all about data. Para pemain baru, harus sadar ini dan bisa bisa memanfaatkan ini. Telkomsel memiliki kekuatan data ini,” katanya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)